Minggu, 27 Februari 2011

Kebohongan Mirza Ghulam Ahmad Sebagai Al-Masih Mau’ud


Kebohongan Mirza Ghulam Ahmad Sebagai Al-Masih Mau’ud
(http://antipemurtadan.wordpress.com)
Konon, Mirza Ghulam Ahmad, sang pendiri Jemaat Ahmadiyah, menurut pengakuannya, adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad saw,[1] dia juga mengklaim dirinya sebagai Al-Masih Mau’ud atau Al-Masih yang dijanjikan [2] oleh Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw. Selain itu, dia juga konon menerima wahyu dari Allah layaknya seorang nabi dan rasul.[3] Pengakuan ini sebenarnya merupakan pernyataannya yang membesarkan diri-sendiri dengan berupaya menafsirkan sendiri atas ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits dengan mempengaruhi orang lain untuk memperoleh pengakuan.
Misalnya, Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa Nabi Isa as benar-benar disalib di tiang salib oleh orang-orang Yahudi, namun tidak sampai wafat, hanya mengalami luka-luka dan pingsan saja. Ajaran ini tentu saja lebih dekat dengan kepercayaan orang-orang Kristen daripada pernyataan Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Nabi Isa as tidak disalib sama sekali, akan tetapi yang disalib adalah seorang yang diserupakan dengan Nabi Isa as.[4] Sebagaimana tersebut dalam firman Allah:
….padahal mereka tidak membunuhnya (Isa) dan tidak menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka…. (QS. 4:157)
Ayat tersebut, oleh Mirza Ghulam Ahmad dan pengikutnya, diterjemahkan menyimpang sebagai berikut:
….padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti yang mati di atas salib….[5]

Berkenaan dengan penyaliban itu, Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya berkeyakinan bahwa Nabi Isa as tidak diangkat ke langit dan kini telah wafat sebagaimana manusia lainnya. Konon, menurut klaim Mirza Ghulam Ahmad, makam nabi Isa as ditemukan di desa Mohalla Khan Yar, Srinagar, Kashmir.[6]

Selanjutnya, Mirza Ghulam Ahmad dan pengikutnya juga berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad saw adalah rasul yang paling mulia dan paling sempurna dibandingkan dengan rasul-rasul lainnya,[7] hal ini dimaksudkan agar “kenabian” Mirza Ghulam Ahmad dapat diterima oleh umat Islam, sebagaimana tersirat dalam pernyataan Mirza Ghulam Ahmad berikut ini:
“Saya tidak ada artinya dibandingkan Rasulullah. Bahkan, saya lebih rendah dari debu sepatu beliau.”[8]
Padahal, seorang muslim tidak memiliki kebebasan religius maupun pengetahuan yang pasti untuk mengunggulkan seorang rasul di atas rasul-rasul lainnya, meskipun mungkin seorang rasul memiliki keunggulan tertentu dibandingkan dengan rasul-rasul lainnya. Seorang muslim wajib menghormati seluruh nabi dan rasul Allah secara sama, tidak mengunggulkan atau membeda-bedakan seorang rasul dengan rasul-rasul lainnya seperti kebiasaan buruk orang-orang Yahudi dan Kristen yang mengunggulkan Nabi Musa as dan Nabi Isa as di atas rasul-rasul lainnya.[9] Perintah ini ditegaskan berulang kali dalam Al-Qur’an dan beberapa Hadits, antara lain: QS. 2:136; QS. 2:253; QS. 2:285; QS. 3:84; QS. 4:150-152, dan dua Hadits berikut ini:
….”Janganlah engkau melebihkan di antara nabi-nabi Allah!” (H.R. Bukhari)
“Tidak layak bagi seorang hamba untuk mengatakan: Aku lebih baik daripada Yunus bin Mata!” (H.R. Bukhari)
Adapun ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits yang dimanfaatkan oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai kendaraan “kenabian” dan “ke-almasih-an”-nya adalah sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS. 61:6)
Demi Allah Yang jiwaku ada di tangan-Nya, putra Maryam, ‘Isa, akan turun dalam waktu singkat di antara kamu orang-orang beriman (Muslimin) sebagai seorang penguasa yang adil (HR. Bukhari)
Hari Akhir tidak akan datang hingga putra Maryam turun di antara kamu sebagai seorang penguasa yang adil. (HR. Bukhari)

Isa AS, putra Maryam, akan menjadi seorang hakim yang adil dan penguasa yang adil (dalam umatku), mematahkan dan meremukkan kayu salib dan membunuh babi… Bumi ini akan dipenuhi dengan kedamaian seperti sebuah bejana diisi dengan air. Seluruh dunia akan mengumandangkan dan mengikuti satu kata yang sama dan tidak satu pun akan disembah selain Allah. (HR. Ibnu Majah)

Mirza Ghulam Ahmad telah memelintir ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits tersebut dengan menafsirkannya seolah-olah nama Ahmad dan Isa putra Maryam adalah dirinya. Padahal, menurut kaidah tafsir sebagaimana tersebut dalam QS.3:7, ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits tersebut maknanya sangat jelas (muhkamaat), sehingga terlalu dibuat-buat kalau ada orang yang menafsirkan macam-macam.

Bahwa ia adalah Ahmad (Muhammad) yang datang kepada Bani Israel sesudah masa Isa dengan membawa bukti-bukti yang nyata (Al-Qur’an), dan bahwa ia adalah Isa putra Maryam, nabi Allah yang lahir dari perut ibundanya, Maryam.
Seperti dijelaskan Hadits-hadits tersebut, Nabi Isa as akan turun kembali ke bumi mendekati hari kiamat tiba. Hadits-hadits tersebut sangat relevan dengan ayat-ayat Al-Qur’an berikut:
tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya.[10] Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS.4:158)
Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS.4:159)
Untuk apa Isa putra Maryam diangkat ke langit kalau tidak untuk diturunkan kembali ke muka bumi. Cukup masuk akal, dan Hadits-hadits tersebut sebenarnya merupakan penjelasan dari kedua ayat Al-Qur’an ini.
Kedua ayat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa sesungguhnya Nabi Isa as masih hidup yang kini masih berada di langit dan akan diturunkan kembali ke muka bumi menjelang hari kiamat tiba. Dijelaskan dalam QS.4:159 bahwa tidak ada seorang pun dari ahli kitab (Yahudi dan Kristen) kecuali akan beriman kepada Nabi Isa as (masuk Islam) sebelum kematiannya. Maksudnya tidak ada ahli kitab yang tidak beriman kepada nabi Isa as ketika beliau diturunkan kembali ke muka bumi untuk mengemban misi Islam menjelang hari kiamat nanti, tetapi ketika beliau sudah wafat, maka tidak menutup kemungkinan banyak manusia yang kembali kafir kepadanya. Ayat tersebut merupakan janji Allah swt yang belum terwujud. Jadi, yakinlah, bahwa Nabi Isa as benar-benar masih hidup!
Jika Mirza Ghulam Ahmad merupakan duplikat dari Nabi Isa as (sebagai Al-Masih Mau’ud), maka apakah ahli kitab (Yahudi dan Kristen) pada waktu dia masih hidup beriman semua kepadanya? Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa ketika Mirza Ghulam Ahmad masih hidup, baik orang-orang Yahudi maupun Kristen tetap menjalankan agama mereka masing-masing, orang-orang Yahudi tetap tidak mengakui Nabi Isa as sebagai Rasul Allah, dan orang-orang Kristen pun tetap saja menuhankan Nabi Isa as, bahkan sebagian ahli kitab malah mencemooh dan mencaci maki Mirza Ghulam Ahmad. Dengan demikian, maka syarat-syarat “Al-Masih Mau’ud” yang tersebut dalam QS.4:159 tidak terpenuhi pada Mirza Ghulam Ahmad.

Adapun QS.5:117 yang selalu dijadikan sandaran oleh kelompok Ahmadiyah dengan menafsirkannya seolah-olah nabi Isa as sudah wafat,[11] sebenarnya merupakan akal-akalan mereka saja untuk mencari-cari pembenaran demi kepentingan agama mereka. QS.5:117 konteks pembicaraannya adalah kata-kata nabi Isa as kepada Allah swt ketika beliau masih berada di tengah-tengah Bani Israel, sama sekali bukan pengumuman Allah swt tentang wafatnya nabi Isa as. Kenyataannya, sebagaimana dijelaskan di atas, nabi Isa as masih hidup dan dialah Al-Masih yang sebenar-benarnya yang dijanjikan akan turun nanti mendekati hari kiamat tiba.
Beberapa penafsir muslim menyatakan bahwa Nabi Isa as sudah diwafatkan terlebih dahulu sebelum diangkat ke langit, hal ini didasarkan pada keterangan firman Allah dalam QS.3:55 yang mereka tafsirkan secara harfiah. Namun demikian, mereka tetap berkeyakinan bahwa Nabi Isa as akan dihidupkan kembali dan diturunkan ke muka bumi menjelang hari kiamat nanti, sebagaimana keterangan beberapa firman Allah dan hadits shahih di atas. Sementara itu, beberapa penafsir modern dengan tegas menyatakan bahwa Nabi Isa AS telah wafat, namun tidak diketahui dimana kuburannya hingga hari ini. Mereka mendasarkan argumennya pada ayat-ayat Al-Qur’an yang sama tapi dengan penafsiran yang berbeda atau sebaliknya. Mereka juga menolak pendapat yang menyatakan bahwa Nabi Isa AS akan turun kembali menjelang hari kiamat.
Sesungguhnya, persoalan bahwa Nabi Isa AS telah wafat atau masih hidup, ini mungkin tidak penting untuk dipersoalkan, karena bagi Allah tidak ada yang mustahil terjadi. Sebagaimana kita ketahui, Nabi Isa AS sendiri memiliki mukjizat yang bisa menghidupkan orang mati. Jadi, meski Nabi Isa AS sudah wafat, terlalu mudah bagi Allah untuk menghidupkannya kembali ke tengah-tengah umat cukup hanya dengan berkata: “Jadilah!”, maka jadilah Nabi Isa as hidup. Dan, sekali lagi, QS.4:158-159 sebagaimana dikutipkan ayat-ayatnya di atas, adalah golongan ayat-ayat muhkamaat atau mudah dipahami dengan akal sehat. Ini berarti bahwa Al-Masih yang akan turun nanti mendekati hari kiamat adalah Nabi Isa as yang lahir dari perut ibundanya, Maryam, di tanah Palestina, sama sekali bukan orang lain dari bangsa manapun! Dari perbedaan tafsir inilah tampaknya Mirza Ghulam Ahmad mengambil kesempatan untuk menyampaikan klaim-klaimnya yang antara lain mengatakan bahwa Nabi Isa as telah wafat dan dialah almasih yang diramalkan akan turun kembali oleh Nabi Muhammad saw.
Lebih lanjut, isyarat turunnya Nabi Isa AS mendekati hari kiamat dapat dilihat dalam ayat-ayat berikut:
‘Sesungguhnya misal ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti Adam…’ (QS.3:59)
Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS.43:61)
Sebagaimana diketahui, bahwa baik Adam maupun Isa sama-sama tidak memiliki ayah, dan ayat tersebut (QS.3:59) seolah memberi isyarat bahwa Isa akan turun ke bumi dari langit seperti turunnya Adam dari surga.
Dari uraian singkat di atas, dapatlah diketahui dengan jelas, sejelas siang, bahwa pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al-Masih Mau’ud atau Al-Masih yang dijanjikan tidak lain hanyalah pengakuan yang membesarkan diri-sendiri, tidak berdasar, dan bertentangan dengan akal sehat. Mungkin ramalan dalam dua Hadits berikut ini sangat cocok dengan sosok Mirza Ghulam Ahmad:
Akan muncul pada hari akhir seseorang yang akan memperoleh keuntungan dunia dengan menjual agama. (HR Tirmidzi)
Hari akhir tidak akan datang sebelum datangnya tiga puluh Dajjal, masing-masing mengaku dirinya sebagai seorang utusan Allah. (HR Abu Daud)
Islam adalah agama yang mengedepankan dan meletakkan akal sehat di atas kepala, bukan sebaliknya, kita melihat Ahmadiyah adalah agama yang membelakangi dan meletakkan akal sehat di bawah telapak kaki. Mereka mengaku sebagai pengikut Al-Qur’an, tetapi mereka mengingkari setidaknya delapan ayat Al-Qur’an, yaitu QS. 2:136,285; 3:84; 4:152 (tidak membeda-bedakan para rasul), QS. 4:157 (tidak disalibnya nabi Isa as), QS. 4:158 (diangkatnya nabi Isa as ke langit), QS.4:159 (turunnya Al-Masih Isa nanti), dan QS.33:40 (Muhammad penutup para nabi). Pengingkaran terhadap kedelapan ayat Al-Qur’an ini bermula dari klaim Mirza Ghulam Ahmad (pemimpin Ahmadiyah) yang mengaku dirinya sebagai rasul (otomatis juga seorang nabi) dan al-masih yang dijanjikan. Sebagaimana diketahui, pengingkaran terhadap sebagian ayat Al-Qur’an adalah kafir dan mereka senantiasa mendapat kenistaan di dunia dan akan disiksa Allah swt pada hari kiamat kelak dengan siksa yang amat berat, sebagaimana firman Allah swt berikut ini:
…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat… (QS.2:85)
Akhirnya, sangat mungkin uraian singkat di atas khususnya yang berkenaan dengan Nabi Isa AS adalah keliru di mata Allah, namun demikian, kekeliruan ini tidaklah membuat seseorang yang meyakininya menjadi kafir atau murtad, karena memang Al-Qur’an tidak menjelaskannya secara tegas. Ini berarti bahwa persoalan Nabi Isa AS bukanlah hal yang prinsip dalam agama Islam. Tetapi, jika ada orang yang berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi dan seorang almasih mau’ud, maka sudah barang tentu keyakinan seperti ini membuatnya menjadi kafir atau murtad, karena hal itu bertentangan dengan nash tegas Al-Qur’an berikut ini:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah rasul Allah dan penutup nabi-nabi. (QS.33:40)


[1] Mirza Ghulam Ahmad menyatakan: “Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasulnya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Brahin-i-Ahmadiyya, Tuhan Mahakuasa telah membuatkan manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, aku Seth, Aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ismail, aku Ya’kub, aku Yusuf, aku Musa, aku Daud, aku Isa, dan aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad SAW, yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi.” (Haqiqatul Wahyi hal. 72)
[2] Pada akhir tahun 1890, Mirza Ghulam Ahmad konon menerima wahyu yang menyatakan bahwa nabi Isa as telah wafat dan Al-Masih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman itu dialah orangnya. (Bunyi wahyu: “Masih Ibnu Maryam Rasulullah faot hocuka he, aor uske rangg me ho kar wa’dah ke muwafiq tu aya he.” Artinya: Al-Masih putra Maryam, Rasul Allah, telah wafat. Sesuai dengan janji, engkau datang dengan menyandang warnanya.” Lihat: Tazkirah, bahasa Urdu, Al-Syirkatul Islamiyah, Rabwah, 1969, hal. 183; Izalah Auham, Mirza Ghulam Ahmad, jld 2, hal. 561-562; Rohani Khazain, Add. Nazir Ishaat, London, jld 3, hal. 402). Dan pada awal tahun 1891 Mirza Ghulam Ahmad menda’wakan diri sebagai Al-Masih Mau’ud dan Imam Mahdi (Da’watul Amir, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, terjemahan Bahasa Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hal. xii).
[3] Mirza Ghulam Ahmad konon menerima wahyu: “Oh, pemimpin sempurna, engkau (wahai Mirza Ghulam Ahmad) seorang dari Rasul, yang menempuh jalan betul, diutus oleh Yang Mahakuasa, Yang Rahim.” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 658-659)
[4] Penjelasan lengkap dan ilmiah dapat dibaca pada buku: Salib di Bulan Sabit (The Cross and The Crescent), karya: DR. Jerald F. Dirks, 2003, hal. 108-153.
[5] H. Mahmud Ahmad Cheema H.A., Buku Saku Ahmadiyah: Tiga Masalah Penting, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Qadian), 1994.
[6] Muhammad Abu Zahrah, Tarikhul-Mazahibul-Islamiyyah, vol. I, (Daril-Fikril, ‘Arabi tt), hal. 250-251.
[7] Kata Khatam al-Nabiyyin dalam QS. 33:40, oleh Ahmadiyah Qadiani diartikan sebagai nabi yang paling mulia dan paling sempurna dari sekalian para nabi, bukan sebagai penutup para nabi. (Muhammad Shadiq H.A., Analisa tentang Khatam al-Nabiyyin, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1984, hal. 12). Hal ini dimaksudkan agar ke-almahdi-an dan ke-almasih-an Mirza Ghulam Ahmad dapat teradopsi. Mereka berpendapat bahwa Isa PUTRA MARYAM yang akan turun itu adalah nabi ghair mustaqil atau nabi yang tidak mandiri, sehingga ia bisa disubstitusikan dengan sosok Mirza Ghulam Ahmad.
[8] Abdul Musawir, Ketua Pemuda Ahmadiyah, dalam wawancara dengan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal, pada hari Kamis, tanggal 14 Juli 2005.
[9] DR. Jerald F. Dirks, Salib di Bulan Sabit (The Cross and The Crescent), 2003, hal. 246-247.
[10] Ayat ini, oleh Ahmadiyah, diterjemahkan menyimpang: Malahan Allah swt telah meninggikan derajatnya kepada-Nya… (H. Mahmud Ahmad Cheema H.A., Buku Saku Ahmadiyah: Tiga Masalah Penting, Jemaat Ahmadiyah Indonesia [Qadian], 1994). Hal ini dimaksudkan agar seolah-olah Nabi Isa as tidak diangkat ke langit demi mendukung klaim-kalim Mirza Ghulam Ahmad.
[11] QS.5:117: “Aku (Isa) tidak pernah mengatakan kepada mereka (Bani Israel) kecuali apa yang Engkau (Allah) perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”

Sabtu, 26 Februari 2011

Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran

Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran.

(Hikmah Republika)

Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L'Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ''Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini''. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.

Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.

Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran--kitab suci umat Islam--telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ''Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?''

Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ''Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka''.

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.

Berikrar Islam
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ''Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.'' (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ''Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini''.

Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.

Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan.

Kesalahan Fatwa Abu Hurairah, Tentang Wanita Berzina

Kesalahan Fatwa Abu Hurairah, Tentang Wanita Berzina (www.eramuslim.com)

Sedih. Sampai jatuh pingsan. Tak kuasa mendengar ucapan ulama itu. Betapa beratnya menanggung beban dosa besar. Dalam kitab ‘Tanbighul Ghafilin’, bahwa Abu Hurairah rahdiyallahu anhu berkata : ”Di suatu malam saya bertemu seorang wanita memakai cadar sedang berdiri di jalan". Tampaknya sangat aneh.

Lalu wanita itu berkata : “Wahai Abu Hurairah, saya telah berbuat dosa besar. Apakah saya ada kesempatan bertobat”, ucap wanita itu. “Apa dosamu?”, tanya Hurairah. “Sungguh aku telah berbuat zina dan anak hasil zina ini telah saya bunuh”, jawab wanita itu. “Engkau telah binasa, dan membinasakan, demi Allah tidak ada tobat untukmu”, jawab ulama itu.

Maka, wanita itu, ketika ia mendengar fatwa Abu Hurairah itu, menjerit dan langsung pingsan, ketika sadar lalu ia pergi. Ketika wanita itu pergi, Abu Hurairah menjadi gundah. Kegundahan itu, tak pelak membuat ulama yang terkenal itu, menangisi dirinya sendiri. Abu Hurairah menanyakan kepada dirinya sendiri : ”Bagaimana saya memberi fatwa, sedangkan Rasulullah Shallahu alaihi wa salam masih hidup?”, tukasnya.

Keesokan harinya Abu Hurairah datang kepada Rasulullah Shallahu alaihi was salam, dan menyampaikan kepada beliau : “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita tadi malam meminta fatwa, bahwa dirinya telah berbuat zina, kemudian membunuh bayinya dari hasil perbuatannya itu. Dan, saya mengatakan engkau telah binasa, dan membinasakan, demi Allah tidak ada tobatmu”, ucap Hurairah. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, demi Allah kamu telah celaka dan mencelakakan orang lain, tidakkah kamu memahami ayat ini”, jawab Rasulullah.

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain berserta Allah tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dlam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal sholih, maka kejahatan mreka diganti Allah dengan kebajikan. Dan, adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (al-Qur’an, al-Furqan : 68-70).

Selanjutnya, Abu Hurairah bekata, "Maka saya keluar dari kediaman Rasulullah shallahu alaihi was salam, dan sambil berlari-lari dari gang ke gang lain di kota Madinah, sambil saya bertanya : “Siapakah yang dapat menunjukkan saya pada seorang wanita yang meminta fatwa pada saya tadi malam?”, tanya Hurairah. Tapi, anak-anak kecil yang melihat Abu Hurairah itu, menganggap dia sudah gila. Karena, melihat perilaku Hurairah, yang lari kesana kemari, tanpa tentu arah, dan selalu menanyakan seorang wanita.

Kemudian, malam harinya, Hurairah menemukan wanita itu, dan berada di tempatnya semula. Maka, Hurairah memberitahukan pada wanita itu perihal sabda Rasulullah shallahu alaihi was salam, bahwa ia ada kesempatan untuk bertobat. Wanita yang malang itu, berteriak gembira, dan berkata : “Saya mempunyai sebuah kebun, akan saya sedekahkan kepada fakir miskin untuk menebus dosaku”, ucap wanita itu. Padahal, kebun itu, menghasilkan seribu kwintal korma, sedangkan dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi.

Sejak itu, wanita yang sangat berbahagia itu, terus bertobat siang malam, tanpa henti, sampai saat senja menjelang Isya’, ia menemui ajalnya, sambil wajahnya nampak tersenyum. Karena telah terbebas dari dosa. Wallahu ‘alam.

Minggu, 13 Februari 2011

Kalender Hijriyah dalam Penanggalan Islam

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.

Nama-nama Bulan dalam Kalender Hijriyah:

1. Muharram

2. Safar

3. Rabiul Awal

4. Rabiul Akhir

5. Jumadil Awal

6. Jumadil Akhir

7. Rajab

8. Sya'ban

9. Ramadhan

10. Syawal

11. Dzulkaidah

12. Dzulhijjah

Tanggal-tanggal penting dalam Kalender Hijriyah adalah: