DEFINISI
Selama kehamilan, sebuah masalah bisa terjadi atau sebuah kondisi bisa
terbentuk membuat kehamilan beresiko tinggi. Contohnya, wanita hamil bisa
terkena sesuatu yang bisa menghasilkan kerusakan kelahiran (teratogens),
seperti radiasi, kimia-kimia tertentu, obat-obatan, atau infeksi. Atau sebuah
gangguan bisa terjadi. Beberapa gangguan berhubungan dengan (adalah komplikasi
dari) kehamilan
Obat-obatan
Beberapa obat-obatan yang digunakan selama kehamilan menyebabkan kerusakan
kelahiran. Misalnya alkohol, isotretinoin (digunakan untuk mengobati jerawat
akut), beberapa antikonsulvan, litium, beberapa antibiotik (seperti
streptomisin, kanamisin, dan tetrasiklin), thalidomide, warfarin, dan
penghambat enzim angiotensin-converting (ACE) (digunakan selama akhir
trismester kedua). Menggunakan obat-obatan yang menghambat kerja folic acid
(seperti methotrexate immunosuppressant atau antibiotik trimethoprim) juga bisa
menyebabkan cacat sejak lahir (kekurangan asam folat meningkatkan resiko
memiliki bayi cacat sejak lahir). Menggunakan kokain bisa menyebabkan cacat
sejak lahir, pelepasan plasenta yang prematur (placental abruption), dan
kelahiran prematur. Merokok meningkatkan resiko memiliki seorang bayi dengan
berat lahir rendah. Awal kehamilan, wanita ditanyakan apakah mereka menggunakan
obat-obatan tersebut. Terutama sekali yang perlu diperhatikan adalah alkohol,
kokain, dan merokok.
Gangguan Yang Terjadi Selama Kehamilan
Selama kehamilan, wanita bisa mengalami gangguan yang tidak berhubungan
langsung dengan kehamilan. Beberapa gangguan meningkatkan masalah beresiko pada
wanita hamil atau janin. Hal tersebut termasuk gangguan yang menyebabkan demam
tinggi, infeksi, dan gangguan yang membutuhkan operasi perut. Gangguan-gangguan
tertentu lebih mungkin terjadi selama kehamilan karena banyak perubahan
kehamilan terjadi di dalam tubuh wanita. Misalnya penyakit thromboembolic,
anemia, dan infeksi saluran kemih.
1. Demam : sebuah gangguan yang menyebabkan suhu lebih besar dari 103º F
(39.5ºC) selama trimester pertama meningkatkan resiko dari keguguran dan
kerusakan otak atau spinal cord pada bayi. Demam pada akhir kehamilan
meningkatkan resiko persalinan sebelum waktunya.
2. Infeksi : beberap infeksi yang terjadi secara kebetulan selama kehamilan
dapat menyebabkan cacat sejak lahir. Campak jerman (rubella) bisa menyebabkan
cacat sejak lahir, terutama sekali pada jantung dan bagian dalam mata. Infeksi
cytomegalovirus bisa melewati plasenta dan merusak hati dan otak janin. Infeksi
virus lainnya yang bisa membahayakan janin atau menyebabkan kerusakan kelahiran
termasuk herpes simplex, dan cacar air (varicella). Toksoplasma, infeksi
protozoa, bisa menyebabkan keguguran, kematian janin, dan cacat sejak lahir
serius. Listeriosis, infeksi bakteri, juga bisa membahayakan janin. Infeksi
bakteri pada vagina (seperti bakteri vaginosis) selama kehamilan bisa
menyebabkan persalinan sebelum waktunya atau membran yang berisi janin gugur
sebelum waktunya. Pengobatan pada infeksi dengan antibiotik bisa mengurangi
kemungkinan masalah-masalah ini.
3. Gangguan yang membutuhkan operasi : selama kehamilan, gangguan yang
membutuhkan operasi emergensi meliputi perut mungkin dijalankan. Jenis operasi
ini meningkatkan resiko persalinan sebelum waktunya dan menyebabkan keguguran,
khususnya pada awal kehamilan. Juga, operasi biasanya ditunda selama mungkin
kecuali jika kesehatan jangka panjang si wanita kemungkinan terpengaruhi.
Jika radang usus buntu terjadi selama kehamilan, operasi untuk mengangkat usus
buntu (appendectomy) dilakukan dengan segera karena pecahnya usus buntu bisa
menjadi fatal. Appendectomy tidak mungkin membahayakan janin atau menyebabkan
keguguran. Meskipun begitu, radang usus buntu kemungkinan sulit untuk dikenali
selama kehamilan. Rasa kram menyakitkan pada radang usus buntu menyerupai
kontraksi rahim, yang mana biasa selama kehamilan. Usus buntu ditekan ke bagian
atas perut sebagai proses kehamilan, sehingga letak rasa sakit pada radang usus
buntu kemungkinan tidak seperti yang diharapkan.
Jika kista ovarium terjadi selama kehamilan, operasi biasanya ditunda hingga 12
minggu kehamilan. Kista kemungkinan menghasilkan hormon yang membantu kehamilan
dan seringkali hilang tanpa pengobatan. Meskipun begitu, jika kista atau massa lain membesar,
operasi kemungkinan diperlukan sebelum 12 minggu. Beberapa massa kemungkinan bersifat kanker.
Kerusakan pada usus selama kehamilan bisa jadi sangat serius. Jika kerusakan
mengarah ke ganggren usus dan radang selaput perut (peradangan pada membran
yang melintasi rongga perut), seorang wanita bisa keguguran dan nyawanya dalam
bahaya. Operasi exploratory biasanya dilakukan dengan segera ketika wanita
hamil mengalami gejala-gejala kerusakan usus, terutama jika mereka pernah
menjalani operasi perut atau infeksi perut.
4. Penyakit thromboembolic : di Amerika Serikat, penyakit thromboembolic
merupakan penyebab utama kematian pada wanita hamil. Pada penyakit
thromboembolic, gumpalan darah terbentuk di dalam pembuluh darah. Mengalir
melalui aliran darah dan menghalangi arteri. Resiko pada pembentukan penyakit
thromboembolic meningkat sekitar 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan.
Kebanyakan komplikasi menyebabkan penggumpalam darah akibat dari penyakit yang
terjadi selama melahirkan. Resiko bertambah banyak setelah operasi sessar
dibandingkan setelah melahirkan normal.
Penggumpalan darah biasanya terbentuk di pembuluh luar pada kaki seperti
thrombophlebitis atau di dalam darah seperti pembuluh dalam thrombosis.
Gejala-gejala termasuk pembengkakan, rasa sakit di betis, dan urat. Akutnya
gejala tersebut tidak ada hubungannya dengan penyakit parah. Gumpalan bisa
pindah dari kaki menuju paru-paru, dimana bisa menghalangi satu atau lebih
arteri pada paru-paru. Penyumbatan ini, disebut emboli paru-paru, bisa
mengancam nyawa, jika gumpalan menghambat arteri yang mensuplai otak,
menghasilkan stroke. Penggumpalan darah bisa juga terjadi pada pelvis.
Wanita yang mengalami pembekuan darah pada kehamilan sebelumnya bisa diberikan
heparin (sebuah antikoagulan) selama kehamilan berikutnya untuk mencegah
pembentukan gumpalan darah. Jika wanita memiliki gejala yang diduga pembekuan
darah, ultrasonografi Doppler kemungkinan dilakukan untuk memeriksa pembekuan.
Jika pembekuan darah diketahui, heparin mulai diberikan tanpa menunda. Heparin
kemungkinan disuntikkan ke dalam pembuluh (secara infus) atau di bawah kulit
(subkutan). Heparin tidak melalui plasenta dan tidak membahayakan janin.
Pengobatan dilanjutkan untuk 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan, ketika
resiko pembekuan darah tinggi. Setelah melahirkan, warfarin kemungkinan
digunakan sebagai pengganti heparin. Warfarin bisa digunakan dengan mulut,
memiliki resiko komplikasi rendah dibandingkan heparin., dan bisa digunakan
oleh wanita yang menyusui.
Jika emboli paru-paru diduga, ventilasi paru-paru dan perfusion scan
kemungkinan dilakukan untuk memastikan diagnosa. Prosedur ini meliputi
menyuntikkan bahan radio aktif dalam jumlah sedikit ke dalam pembuluh. Prosedur
ini aman selama kehamilan karena dosis bahan radio aktif kecil. Jika diagnosa
pada emboli paru-paru tetap tidak pasti, angiography paru-paru dibutuhkan.
5. Anemia : kebanyakan wanita hamil mengalami beberapa tingkat anemia karena
zat besi dibutuhkan untuk menghasilkan sel darah merah pada janin. Anemia bisa
muncul selama kehamilan karena kekurangan asam folat. Anemia biasanya dapat
dicegah atau diobati dengan menggunakan zat besi dan suplemen asam folat selama
kehamilan. Meskipun begitu, jika anemia menjadi parah dan berlangsung lama,
kapasitas darah untuk membawa oksigen menurun. Akibatnya, janin tidak bisa
mendapatkan cukup oksigen, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan normal, khususnya
pada otak. Wanita hamil yang mengalami anemia berat bisa menjadi lelah
berlebihan, nafas tersengal-sengal, sakit kepala berkunang-kunang. Resiko
persalinan preterm meningkat. Jumlah pendarahan normal selama persalinan dan
melahirkan bisa menyebabkan anemia yang sangat membahayakan pada wanita ini.
Wanita dengan anemia lebih mungkin mengalami infeksi setelah melahirkan. Juga,
jika asam folat berkurang, resiko memiliki bayi dengan cacat lahir pada otak
dan tulang belakang, seperti spina bifida, meningkat.
6. Infeksi saluran kemih : infeksi saluran kemih biasa selama kehamilan,
kemungkinan disebabkan melebarnya rahim memperlambat aliran air seni dengan
menekan pipa yang menghubungkan ginjal dengan kantung kemih (ureters). Ketika
air seni mengalir lambat, bakteri tidak bisa membilas pada saluran air seni.
meningkatkan resiko sebuah infeksi. Infeksi ini meningkatkan resiko persalinan
preterm dan cepat luruh pada selaput yang mengandung janin. Kadangkala infeksi
pada kantung kemih atau ureter menyebar ke saluran air seni dan menuju ginjal,
menyebabkan. Pengobatan terdiri dari terapi antibiotik.
Komplikasi Kehamilan
Komplikasi kehamilan adalah masalah yang terjadi hanya selama kehamilan. Hal
itu bisa mempengaruhi wanita tersebut, janin, atau keduanya dan bisa terjadi
pada waktu berlainan selama kehamilan. Misalnya, komplikasi seperti plasenta
salah tempat (plasenta previa) atau pelepasan prematur pada plasenta dari
uterus (placental abruption) bisa menyebabkan pendarahan dari vagina selama 3
bulan terakhir pada kehamilan. Wanita yang berdarah pada waktunya berisiko
kehilangan bayi atau pendarahan berlebihan (hemorrhaging) atau sekarat selama
persalinan dan melahirkan. Meskipun begitu, kebanyakan komplikasi kehamilan
bisa di obati secara efektif.
Beberapa masalah yang terjadi dari kelainan hormon selama kehamilan hanya
kejadian minor, gejala sementara pada wanita hamil. Misalnya, pengaruh hormon
normal pada kehamilan bisa memperlambat pergerakan pada empedu melalui pembuluh
empedu, cholestasis pada kehamilan bisa terjadi. Gejala paling jelas adalah
rasa gatal di seluruh tubuh (biasanya pada beberapa bulan terakhir kehamilan).
Tidak terdapat ruam. Jika rasa gatal hebat, cholestyramine bisa diberikan.
Gangguan ini biasanya dipecahkan setelah melahirkan tetapi cenderung sembuh
pada kehamilan berikutnya.
1. Hyperemesis gravidarum : hyperemesis gravidarum adalah rasa mual yang luar
biasa keras dan muntah berlebihan selama kehamilan. Hyperemesis gravidarum
berbeda dari morning sickness biasa. Jika wanita seringkali muntah dan
menderita mual berkelanjutan mereka kehilangan berat badan dan menjadi
dehidrasi, mereka menderita hyperemesis gravidarum. Jika wanita kadangkala
muntah tetapi bertambah berat badan dan tidak dehidrasi, mereka tidak mengalami
hyperemesis gravidarum. Penyebab hyperemesis gravidarum tidak diketahui.
Karena hyperemesis gravidarum bisa mengancam nyawa wanita hamil dan janin,
wanita yang menderita harus dirawat di rumah sakit. Cairan infus dimasukkan ke
dalam pembuluh untuk memberikan cairan, gula (glukosa), elektrolit, dan
kadangkala vitamin. Wanita yang mengalami komplikasi tidak diijinkan untuk
makan atau minum apapun untuk paling tidak 24 jam. Obat penenang, antiemetik,
dan obat-obatan lain diberikan sesuai kebutuhan. Setelah wanita rehidrasi dan
muntahnya reda, mereka bisa mulai makan yang sering, makanan yang dihaluskan
dengan porsi sedikit. Ukuran porsi tersebut meningkat jika mereka bisa menerima
banyak makanan. Biasanya, muntah berhenti dalam beberapa hari. Jika gejala
kambuh, pengobatan diulangi. Jarang, jika terus kehilangan berat badan dan
gejala berlangsung lama meskipun diobati, wanita diberikan makan melalui pipa
lurus melalui hidung dan turun ke kerongkongan menuju usus kecil selama
diperlukan.
2. Preeclampsia : sekitar 5 % wanita hamil mengalami preeclampsia (toxemia pada
kehamilan). Pada komplikasi ini, peningkatan pada tekanan darah disertai dengan
protein pada air kencing (proteinuria). Preeclampsia biasanya terjadi antara
minggu ke 20 pada kehamilan dan akhir minggu pertama setelah melahirkan.
Penyebab preeclampsia tidak diketahui. namun lebih sering pada wanita yang
hamil untuk pertama kali, yang membawa dua atau lebih janin, yang memiliki
preeclampsia pada kehamilan berikutnya, yang telah memiliki tekanan darah
tinggi atau gangguan pembuluh darah, atau yang menderita penyakit sel sickle.
Hal ini juga lebih sering terjadi pada anak gadis berusia 15 tahun atau lebih
muda dan wanita berumur 35 tahun atau lebih tua.
Berbagai macam preeclampsia akut, disebut sindrom HELLP, terjadi pada beberapa
wanita. Terdiri dari hal-hal berikut di bawah ini :
* Hemolysis (kerusakan sel darah merah)
* Kenaikkan kadar enzim hati, mengindikasikan kerusakan hati
* Jumlah platelet rendah, membuat darah tidak bisa menggumpal dan meningkatkan
resiko pendarahan selama dan sesudah persalinan.
1 dari 200 wanita yang menderita preeclampsia, tekanan darah menjadi cukup
tinggi untuk menyebabkan kejang; kondisi ini disebut eclampsia. Seperempat
kasus pada preeclampsia terjadi setelah melahirkan, biasanya pada 2 sampai 4
hari pertama. Jika tidak diobati segera, eclampsia kemungkinan fatal.
Preeclampsia bisa menyebabkan pelepasan prematur pada plasenta dari rahim
(placental abruption). Bayi pada wanita yang menderita preeclampsia 4 atau 5
kali lebih mungkin cepat mengalami masalah setelah melahirkan dibandingkan
dengan bayi pada wanita yang tidak mengalami komplikasi. Bayi kemungkinan kecil
disebabkan kerusakan plasenta atau disebabkan lahir secara prematur.
Jika preeclampsia ringan terjadi pada kehamilan dini, istirahat di rumah
kemungkinan tercukupi, tetapi beberapa wanita harus menemui dokter sesering
mungkin. Jika preeclampsia bertambah parah, wanita biasanya dirawat di rumah
sakit. Di sana,
mereka dirawat di tempat tidur dan diawasi ketat sampai janin cukup matang
untuk dilahirkan dengan selamat. Antihipertensis kemungkinan diperlukan.
Beberapa jam sebelum melahirkan, magnesium sulfate kemungkinan diberikan secara
infus untuk mengurangi resiko kejang. Jika preeclampsia terjadi dekat tanggal
kelahiran, persalinan biasanya diinduksi dan bayi dilahirkan.
Jika preeclampsia parah, bayi tersebut kemungkinan dilahirkan dengan operasi
sessar, yang merupakan jalan pintas, kecuali servik cukup terbuka (dilated)
untuk segera melahirkan normal. Cepat melahirkan mengurangi resiko komplikasi
pada wanita dan janin. Jika tekanan darah tinggi, obat-obatan untuk merendahkan
tekanan darah, seperti hydralazine atau labelatol, kemungkinan diberikan secara
infus sebelum melahirkan dilakukan. Pengobatan pada sindrom HELLP biasanya sama
pada preeclampsia berat.
Setelah melahirkan, wanita yang sudah menderita preeclampsia atau eclampsia
dipantau dengan ketat untuk 2 sampai 4 hari karena mereka meningkatkan resiko
serangan. Sebagaimana kondisi mereka terus menerus diperbaiki, mereka
dianjurkan untuk berjalan. Mereka bisa menetap di rumah sakit untuk beberapa
hari, tergantung pada keakutan preeclampsia tersebut dan komplikasinya. Setelah
kembali ke rumah, wanita ini bisa memerlukan obat-obatan untuk merendahkan
tekanan darah, secara khusus, mereka harus checkup setidaknya setiap 2 minggu
untuk beberapa bulan pertama setelah melahirkan. Tekanan darah mereka bisa
tetap tinggi untuk 6 sampai 8 minggu. Jika tetap tinggi, penyebabnya
kemungkinan tidak berhubungan dengan preeclampsia.
3. Diabetes selama kehamilan : sekitar 1 sampai 3% wanita hamil mengalami
diabetes selama kehamilan. Gangguan ini dikenal dengan diabetes gestational.
Tidak terdeteksi dan tidak terobati, diabetes gestational bisa meningkatkan
resiko pada masalah kesehatan wanita hamil dan janin dan resiko kematian pada
janin. Diabetes gestational paling sering terjadi pada wanita obesitas dan
kelompok etnis tertentu, terutama orang asli amerika, pulau pasifik, dan wanita
meksiko, Indian, dan keturunan asia.
Kebanyakan wanita dengan diabetes gestational mengalami hal itu dikarenakan
mereka tidak menghasilkan cukup insulin sebagaimana kebutuhan insulin meningkat
dalam kehamilan tua. Lebih banyak insulin dibutuhkan untuk mengendalikan
peningkatan kadar gula (glukosa) di dalam darah. Beberapa wanita bisa memiliki
diabetes sebelum hamil, tetapi tidak diketahui sampai mereka hamil.
Beberapa dokter secara rutin memeriksa setiap wanita hamil untuk diabetes
gestational. Dokter lain memeriksa hanya wanita yang memiliki faktor resiko
untuk diabetes, seperti obesitas dan latar belakang etnis tertentu. Tes darah
digunakan untuk mengukur kadar gula garah dengan alat pantau gula darah rumahan.
Pengobatan terdiri dari menghilangkan makanan bergula tinggi dari makanan,
makan untuk menghindari kelebihan berat badan selama kehamilan, dan, jika kadar
gula darah tinggi, diberikan insulin. Setelah melahirkan, diabetes gestational
biasanya hilang. Meskipun begitu, banyak wanita menderita diabetes gestational
mengalami diabetes jenis 2 sewaktu mereka menjadi tua.
4. Ketidakcocokan Rh : ketidakcocokan Rh terjadi ketika seorang wanita hamil
memiliki darah Rh-negatif dan janin memiliki darah Rh-positif, menurun dari
ayah yang memiliki darah Rh-positif. Sekitar 13% pernikahan di amerika serikat,
laki-laki yang memiliki darah Rh-positif dan wanita memiliki darah Rh-negatif.
Faktor Rh adalah molekul yang terjadi pada permukaan sel darah merah pada
beberapa orang. Darah ber Rh-positif jika sel darah merah memiliki faktor Rh
dan Rh-negatif jika tidak memiliki. Masalah dapat terjadi jika janin memiliki
darah Rh-positif memasuki aliran darah wanita tersebut. Sistem kekebalan tubuh
wanita tersebut bisa mengenali sel darah janin sebagai benda asing dan
menghasilkan antibodi, disebut antibody Rh, untuk menghancurkan sel darah merah
janin. produksi pada antibodi ini disebut sensitization Rh.
Selama kehamilan pertama, sensitization Rh adalah tidak mungkin, karena tidak
ada jumlah signifikan pada darah janin mungkin untuk memasuki aliran darah
wanita tersebut sampai melahirkan. Sehingga janin atau bayi yang baru lahir
jarang mengalami masalah. Meskipun begitu, sekali wanita menjadi sensitif,
masalah lebih mungkin terjadi dengan setiap kehamilan berikutnya dimana darah
janin adalah Rh positif. Pada setiap kehamilan, wanita tersebut menghasilkan
antibodi Rh lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak.
Jika antibodi Rh melintasi plasenta menuju janin, mereka bisa menghancurkan
beberapa sel darah merah janin. Jika sel darah merah cepat dihancurkan
dibandingkan janin menghasilkan yang baru. Janin bisa mengalami anemia.
beberapa kerusakan disebut penyakit hemolytic pada janin (erythroblastosis
fetalis) atau bayi yang baru lahir (erythroblastosis neonatorum ). Pada kasus
berat, janin bisa mati.
Pada kunjungan pertama ke dokter selama kehamilan, wanita diskrining untuk
menentukan apakah mereka memiliki darah dengan Rh-positif atau Rh-negatif. Jika
mereka memiliki darah Rh-negatif, darah mereka diperiksa untuk antibodi Rh dan
jenis darah ayah dipastikan. Jika sang ayah memiliki darah Rh-positif,
sensitivitas Rh sebagai suatu resiko. Pada beberapa kasus, darah pada wanita
hamil diperiksa untuk antibodi Rh secara bertahap selama kehamilan. Kehamilan
bisa diproses sebagimana biasa selama tidak ada antibodi terdeteksi.
Jika antibodi terdeteksi, langkah-langkah kemungkinan diambil untuk melindungi
janin, bergantung pada seberapa tinggi kadar antibodi. Jika kadar menjadi
terlalu tinggi, amniocentesis kemungkinan dilakukan. Pada prosedur ini, jarum
dimasukkan melalui kulit untuk menarik cairan dari kantung ketuban. Kadar
bilirubin (pigmen kuning dihasilkan dari penguraian sel darah merah yang
normal) diukur pada contoh cairan. Jika kadar ini terlalu tinggi, janin
diberikan transfusi darah. biasanya transfusi diberikan sampai janin cukup
matang untuk dilahirkan dengan selamat. Kemudian persalinan diinduksi. Bayi
tersebut bisa memerlukan tambahan transfusi setelah lahir. Kadangkala tidak ada
transfusi yang diperlukan sampai setelah lahir.
Sebagai tindakan pencegahan, wanita yang memiliki darah Rh-negatif diberikan
suntikan antibodi Rh pada 28 minggu kehamilan dan dalam 72 jam setelah
melahirkan bayi yang memiliki darah Rh-positif, bahkan setelah keguguran atau
aborsi. Antibodi yang diberikan disebut Rh0, D) immune globulin. Pengobatan ini
menghancurkan setiap sel darah merah dari bayi yang telah memasuki aliran darah
wanita tersebut. Dengan demikian, tidak terdapat sel darah merah dari bayi
untuk memicu produksi antibodiy oleh wanita ini, dan kehamilan berikutnya
biasanya tidak membahayakan.
5. Lemak hati pada kehamilan : gangguan langka ini terjadi ke arah kehamilan
tua. Penyebab tersebut tidak diketahui. gejala-gejala termasuk mual, muntah,
perut tidak nyaman, dan penyakit kuning. Gangguan tersebut bisa segera
memburuk, dan gagal hati bisa terbentuk. Diagnosa didasarkan pada tes fungsi
hati dan kemungkinan dipastikan dengan biopsi hati. Dokter bisa menyarankan
untuk segera menghentikan kehamilan. Resiko kematian untuk wanita dan janin
adalah tinggi, tetapi mereka yang bertahan sepenuhnya sembuh. Biasanya,
gangguan tersebut tidak berulang pada kehamilan berikutnya.
6. Peripartum cardiomyopathy : dinding jantung kemungkinan rusak pada kehamilan
tua atau setelah melahirkan, menyebabkan peripartum cardiomyopathy. Penyebab
tersebut tidak diketahui. peripartum cardiomyopathy cenderung terjadi pada
wanita yang telah beberapa kali hamil, yang lebih tua, yang kandungannya
kembar, atau yang mengalami preeklamsia. Pada beberapa wanita, fungsi jantung
tidak kembali normal setelah kehamilan. Mereka bisa mengalami peripartum
cardiomyopathy pada kehamilan berikut. Wanita ini harusnya tidak hamil kembali.
Peripartum cardiomyopathy bisa terjadi pada gagal jantung yang diobati.
Masalah-masalah dengan cairan ketuban : terlalu banyak cairan ketuban
(polyhydramnios) pada selaput yang mengandung janin (kantung ketuban)
meregangkan rahim dan memberi tekanan pada diafragma wanita hamil. Komplikasi
ini bisa menyebabkan masalah-masalah pernafasan berat untuk wanita atau
persalinan sebelum waktunya.
Terlalu banyak cairan cenderung menumpuk ketika wanita hamil mengalami
diabetes, mengandung lebih dari satu janin (kehamilan ganda), atau menghasilkan
antibodi Rh menuju darah janin. Penyebab lain adalah kerusakan lahir pada
janin, khususnya penyumbatan kerongkongan atau kerusakan pada otak dan tulang
belakang (seperti spina bifida). Sekitar separuh waktu, penyebab tersebut tidak
diketahui.
Cairan ketuban yang terlalu sedikit (oligohydramnios) bisa juga menyebabkan
masalah-masalah. Jika jumlah cairan sangat berkurang, paru-paru janin
kemungkinan tidak matang dan janin kemungkinan tertekan, mengakibatkan kelainan
bentuk; kombinasi pada kondisi ini disebut sindrom Potter.
Cairan ketuban yang terlalu sedikit cenderung terbentuk ketika janin mengalami
kerusakan pada saluran kemih, tidak berkembang seperti yang diharapkan, atau
meninggal. Penyebab lain termasuk penggunaan penghambat enzim
angiotensin-converting (ACE), seperti enalapril atau captopril, pada
trisemester ke-2 dan ke-3. Obat-obatan ini diberikan selama kehamilan hanya
ketika mereka harus digunakan untuk mengobati gagal jantung berat atau tekanan
darah tinggi. Menggunakan obat-obatan nonsteroidal antiimflammatory (NSAIDs) di
akhir kehamilan bisa juga mengurangi jumlah cairan ketuban.
7. Plasenta previa : plasenta previa adalah penanaman pada plasenta sepanjang
atau di dekat servik, lebih rendah pada bagian atas rahim. Plasenta bisa
seluruhnya atau sebagian menutupi pembukaan servik. Plasenta previa terjadi
dalam 1 dari 200 kelahiran, biasanya pada wanita yang mengalami lebih dari
sekali kehamilan atau yang mengalami kelainan struktur pada rahim, seperti
fibroid.
Plasenta previa dapat menyebabkan pendarahan tanpa nyeri dari vagina yang
secara tiba-tiba terjadi pada kehamilan tua. Darah kemungkinan merah menyala.
Pendarahan bisa menjadi besar, membahayakan nyawa pada wanita dan janin.
Ultasonografi membantu dokter mengindentifikasi plasenta previa dan
membedakannya dari suatu pelepasan plasenta secara prematur (placenta
abruption)
Ketika mengalami pendarahan parah, wanita dirumah sakitkan sampai melahirkan,
khususnya jika plasenta terletek di sepanjang servik. Wanita yang mengalami
pendarahan parah memerlukan transfusi darah berulang. Ketika pendarahan ringan
dan melahirkan tidak segera terjadi, dokter biasanya menganjurkan istirahat
total di rumah sakit. Jika pendarahan berhenti, wanita biasanya dianjurkan
untuk berjalan. Jika pendarahan tidak terjadi, mereka biasanya dipulangkan ke
rumah, disiapkan dimana mereka bisa kembali dengan mudah ke rumah sakit.
Operasi sessar hampir selalu dilakukan sebelum persalinan dimulai. Jika wanita
dengan plasenta previa akan bersalin, plasenta cenderung menjadi lepas sangat
cepat, menghentikan suplai oksigen bayi. Kebocoran oksigen bisa mengakibatkan
kerusakan otak atau masalah-masalah lain pada bayi.
8. Placental abruption (abruptio placentae) : placental abruption adalah
pelepasan prematur dari plasenta dengan posisi normal dari dinding rahim.
Plasenta bisa lepas tidak lengkap (kadangkala hanya 10 sampai 20%) atau secara
utuh. Penyebabnya tidak diketahui. pelepasan plasenta terjadi dalam 0.4 sampai
3.5% pada seluruh kelahiran. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada wanita
yang mengalami tekanan darah tinggi (termasuk preeklampsia) dan pada wanita
yang menggunakan kokain.
Rahim berdarah dari tempat dimana plasenta menempel. Darah bisa melewati servik
dan keluar dari vagina sebagai pendarahan luar, atau kemungkinan terjebak di
belakang plasenta sebagai pendarahan concealed. Gejala-gejala tergantung pada
tingkat pelepasan dan jumlah darah yang hilang (yang kemungkinan banyak).
Gejalanya bisa termasuk nyeri perut tiba-tiba berlanjut atau kram, lunak ketika
perut ditekan, dan membal. Pelepasan prematur pada plasenta bisa menyebabkan
penyebarluasan penggumpalan di samping pembuluh darah (disseminated
intravascular coagulation), gagal ginjal, dan pendarahan ke dalam dinding
rahim, khususnya pada wanita hamil yang juga mengalami preeklampsia. Ketika
plasenta lepas, suplai oksigen dan nutrisi untuk janin kemungkinan berkurang.
Wanita dengan pelepasan plasenta prematur dirawat di rumah sakit. Pengobatan
yang umum adalah istirahat total. Jika gejala-gejala berkurang, wanita
dianjurkan untuk berjalan dan kemungkinan dikeluarkan dari rumah sakit. Jika
pendarahan berlanjut atau memburuk (diduga janin tersebut tidak mendapat cukup
oksigen) atau jika kehamilan mendekati masanya, melahirkan dini seringkali
terbaik untuk wanita dan bayi tersebut. Jika tidak mungkin melahirkan dengan
normal, operasi sessar dilakukan. (Sumber: spesialis.info)