Rabu, 26 September 2012

Rasulullah Tauladan Kita



Pada suatu waktu, pakaian Rasulullah ada yang sobek, maka Beliau menambalnya sendiri tidak menyuruh kepada isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarganya. Setiap kali Beliau pulang ke rumah dan bila dilihatnya belum ada makanan yang disiapkan, Beliau langsung membantu istrinya memasak di dapur. Suatu hari Beliau pulang pada waktu pagi. Tentulah Beliau amat lapar. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk dimakan. Maka Beliau bertanya,
“Apakah ada makanan ya Khumaira?”
Aisyah menjawab dengan serba salah, “Belum ada wahai Rasulullah.”
Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu aku puasa hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pada suatu hari ketika Beliau sedang mengimami shalat, dilihatnya ada sesuatu yang aneh dan tidak biasa dilihat oleh para sahabatnya yang menjadi makmum, yaitu adanya bunyi-bunyi dari tubuh Beliau setiap kali Beliau melakukan gerakan-gerakan shalat. Ketika selesai shalat, sahabat Umar Ibnu Khatab ra yang khawatir akan keadaan Beliau lalu bertanya: “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah Engkau sakit?”
“Tidak, ya Umar” jawab Beliau.
“Tetapi mengapa setiap kali Engkau menggerakkan tubuh, kami mendengar ada bunyi-bunyi dari tubuh Engkau? Kami khawatir engkau sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya dan para sahabat amat terkejut karena pada perut Beliau yang kempis itu ada lilitan kain yang berisi kerikil sebagai pengganjal perut Beliau yang lapar.
“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?” Kata sahabat. Lalu Beliau menjawab dengan lembut,
”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apa jawabanku di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia dan di akhirat.”. Sungguh agung sifat Beliau.

Walau pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk Beliau, Beliau masih berdiri di waktu-waktu malam sampai kakinya bengkak.
Ketika Sayidatina ‘Aisyah bertanya:
“Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”
Rasul menjawab “Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba, dan aku ingin menjadi hamba-Nya yang senantiasa bersyukur.”

Masih banyak contoh keteladanan Nabi Salallahu Alaihi Wasalam bagi kita apapun bidang dan profesi kita. Rasul adalah contoh terbaik dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Rasul adalah tauladan terbaik dalam hubungannya kepada sesama manusia; bergaul, bertetangga, mencari nafkah, berkeluarga, belajar dan sebagainya.

Maka ketika kita mengetahui Isi film "The Innocence of Muslim" yang berisi penghinaan terhadap Rasulullah, tentu hal tersebut sangat menyakitkan bagi kita semua. Sebab bagi kita, Rasul itu adalah tauladan di atas segala tauladan. Dan pada tataran keimanan,  Beliau sangat terjaga dari prilaku ‘syaithani’ seperti yang ingin digambarkan pada film itu.

Tapi dalam menyikapi hal itu cobalah sedikit kita renungkan hal-hal sebagai berikut:

Pertama. Jangankan di film ini, dalam Kitab Suci mereka sekalipun, para nabi dan rasul telah menjadi olok-olokkan dengan prilaku yang tidak manusiawi. Nabi Daud diceritakan merebut/menyeleweng dengan isteri prajuritnya yang sedang berperang membela agama. Nabi Sulaiman selalu berimajinasi kepada wanita-wanita cantik. Nabi Luth dikisahkan menghamili putri sulungnya, dan masih banyak cerita-cerita buruk lainnya. Jadi perilaku menghina para orang-orang saleh sudah menjadi bagian dari kehidupan dan kepercayaan mereka.

Kedua. Ini semakin menguatkan keyakinan kita akan kebenaran Al Qur’an bahwa penentangan kepada cahaya Allah itu bersifat abadi, tidak pernah akan berhenti sampai kapanpun.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)

Ketiga. Pembuatan film ini menggambarkan bahwa cara-cara yang rasional tidak lagi mampu menghentikan laju perkembangan dan pergerakan da’wah Islam yang semakin bersinar di berbagai penjuru dunia dan sedang menjadi trend di negara-negara barat.

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya". (As Shaff: 8).

Keempat. Mereka mengetahui bahwa orang-orang Islam saat ini sedang mengalami banyak tekanan akibat konflik-konflik atau tindakan-tindakan kekerasan di berbagai wilayah, mereka berusaha terus menyulut emosi umat Islam dan ingin meyakinkan dunia bahwa memang Nabi Muhammad dan Islam mengajarkan kekerasan.

Pada akhirnya, satu hal yang harus kita disadari, apapun reaksi dan tindakan kita terhadap berbagai upaya-upaya sesat itu, akan berdampak kepada Islam itu sendiri. Oleh karenanya, mari belajar untuk bertindak lebih cerdas, arif, dan dewasa dalam melihat dan menyikapinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar