Ditulis
Oleh: Arda Kartiwan, Apt.
(Dari berbagai sumber)
Sudah
banyak diketahui, bahwa berpuasa memiliki banyak manfaat kesehatan. Dari berbagai temuan dan penelitian oleh para ahli, diantara
manfaat kesehatan dari berpuasa yaitu: dapat membantu mencegah penyakit jantung, mempercepat
kehilangan lemak (lipolisis) dan memperlambat penuaan dini. Hal ini disebabkan, pada saat tubuh berpuasa terjadi mekanisme-mekanisme fisiologi
dalam tubuh manusia yaitu:
1.Berkurangnya
inflamasi, suatu respon fisiologis tubuh terhadap adanya gangguan dari luar
tubuh.
2.Berkurangnya
stres oksidatif, yaitu keadaan di mana jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh
untuk menetralkannya
3.Meningkatan jumlah dan kualitas mitokondria,
suatu organel yang bekerja dalam proses:
a.Respirasi sel, yaitu suatu proses perombakan molekul organik
kompleks yang kaya akan energi potensial menjadi produk limbah yang berenergi
lebih rendah
b.Metabolisme asam lemak, yaitu proses
internal untuk menghancurkan asam lemak menjadi komponen-komponen yang dapat
digunakan, diantaranya untuk membangun protein baru serta untuk menyimpan
energi.
c.Biosintesis pirimidina, yang digunakan untuk produksi DNA dan RNA
d.Homeostasis/kesetimbangan kalsium, suatu proses penarikan kalsium dari makanan
e.Transduksi sinyal sel, yaitu suatu proses dimana informasi yang dibawa oleh
sebuah molekul sinyal yang terdapat di luar sel dapat menyebabkan perubahan di
dalam sel tersebut
f. Penghasil energi
4. Meningkatkan Autophagy
Autophagy adalah sebuah kemampuan sel makhluk hidup untuk secara alami, teratur, serta destruktif, mendegradasi komponen rusak atau disfungsi dari dirinya sendiri.
Autophagy adalah sebuah kemampuan sel makhluk hidup untuk secara alami, teratur, serta destruktif, mendegradasi komponen rusak atau disfungsi dari dirinya sendiri.
Nama autophagy sendiri dipopulerkan pertama kali oleh peneliti
biokimia asal Belgia, Christian de Duve pada tahun 1963. Penggunaan nama
tersebut berkaitan dengan temuan di tahun 1960-an, bahwa ternyata sebuah sel
dapat menghancurkan komponennya sendiri dengan jalan menutup membrannya,
membentuk semacam gelembung karung (disebut sebagai autophagosome), yang lalu
dipindahkan ke kompartemen daur ulang (bernama lysosome/lisosom), untuk
selanjutnya terdegradasi atau dihancurkan. Pada tahun 1974, Christian de Duve
akhirnya menerima Penghargaan Nobel untuk kategori pengobatan, atas penemuannya
mengenai lisosom. Sejak tahun
1990-an, Prof. Yoshinori Ohsumi (pemenang Nobel Bidang Fisiologi &
Kedokteran tahun 2016) berhasil menghadirkan paradigma baru mengenai autophagy,
bagaimana sebuah sel mampu untuk mendaur ulang komponen-komponennya.
Penemuannya membuka jalur baru untuk memahami proses penting autophagy pada
berbagai proses fisik. Satu contoh sederhana saja yang biasa ditemui
sehari-hari, proses autophagy dapat menyediakan energi serta proses daur ulang
komponen sel, yang mana hal tersebut merupakan respon penting dari sel pada
saat menghadapi kelaparan atau tipe stress yang lain. Selain itu, autophagy
dapat mencegah masuknya bakteri maupun virus pada saat terjadi infeksi.
Autophagy juga berkontribusi pada proses perkembangan embrio serta pembelahan
sel. Sel juga menggunakan autophagy untuk mengeliminasi kerusakan protein dan
organ-organ sel, sebuah mekanisme kontrol untuk menahan resiko-resiko negatif
masalah penuaan. Gangguan proses autophagy, seperti mutasi pada gen pengontrol
misalnya, sudah terbukti menjadi penyebab banyak penyakit modern. Parkinson,
diabetes tipe 2, dan beberapa penyakit lain yang muncul di masa tua, terbukti
terkait dengan gangguan proses autophagy. Mutasi gen autophagy juga menjadi
penyebab sakit genetik. Gangguan terhadap mekanisme autophagy juga terkait
dengan penyakit kanker. Nah, inilah yang saat ini menjadi fokus banyak ilmuwan,
mencari solusi atasi kanker terkait hubugannya dengan mekanisme autophagy.
Mereka sedang berusaha meracik obat yang tepat, untuk dapat mengobati kanker,
dan penyakit-penyakit lain yang berkaitan dengan autophagy.
5. Proses
pembersihan diri sel
6. Kadar
insulin dalam tubuh rendah
Fungsi insulin adalah untuk meningkatkan penyimpanan energi dan pertumbuhan
organisme. Ketika
insulin meningkat, sebagian untuk
menyimpan lemak dan sebagiannya untuk mengikat glukosa darah. Dan sebaliknya, saat kadar insulin rendah
terjadi pembakaran lemak (lipolisis)
Berapa Lama
Waktu Puasa yang Dapat Memberikan Manfaat Optimal?
Ted Naiman, M.D., dalam tulisannya yang berjudul “Progressive
alterations in lipid and glucose metabolism during short-term fasting in young
adult men” menyimpulkan bahwa lama waktu puasa yang
efektif untuk penurunan terbaik kadar insulin tubuh (40 pmol/L) serta
terjadinya lipolisis terbaik yaitu antara 18 – 24 jam. Sedangkan durasi puasa
yang sangat umum dan juga tetap efektif yaitu sekitar 16 jam.

