Rasulullah saw harus hijrah dari Mekah ke Madinah karena perintah Allah swt dengan meninggalkan duka yang mendalam. Mekah adalah kota tempat kelahiran yang sangat dicintainya, tempat tinggal nenek-moyang dan saudara-saudaranya, serta tempat awal berjuang menyebarkan islam bersama sahabat-sahabat setianya. Maka kepindahan dari kota yang sarat hubungan emosional ini, adalah pengorbanan yang maha hebat tetapi juga menggambarkan ketaatan dan kecerdasan Rasulullah saw.
Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw bersama Abu Bakar ternyata tidak seluruhnya diikuti oleh sebagian sahabat karena berbagai alasan. Padahal selama tinggal di Mekah itu, para sahabat banyak mendapat intimidasi bahkan penyiksaan dari orang-orang kafir Mekah. Al Qur’an melukiskan mereka, orang-orang yang tidak mau hijrah, sebagai orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri. Maka ketika mereka meninggal dunia dalam keadaan yang teraniaya ini, Malaikatpun bertanya: “Bagaimana keadaan kalian menjadi seperti ini?”. “Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri Mekah” jawab mereka. “Bukankah bumi Allah itu luas, maka berhijrahlah di bumi itu” kata Malaikat (Annisa (4): 97)
Dengan firman-Nya ini Allah ingin menegaskan bahwa mematuhi perintah-Nya adalah hal pokok dan perintah berhijrah seperti juga perintah-perintah lainnya, merupakan bentuk Maha Kasih dan Sayang-Nya kepada manusia agar manusia bahagia dan selamat dunia dan akhirat. Hijrah memang bukan sesederhana yang dibayangkan banyak orang, karena hijrah bukan hanya melibatkan tindakan fisik semata, tetapi juga kemauan sungguh-sungguh melalui keikhlasan dan ketaatan kepada Allah swt bahwa hijrah merupakan solusi manusia untuk memperoleh tujuan hidupnya yang diridhai-Nya. Allah swt menegur dengan tegas orang-orang yang memaksakan kehendaknya untuk tetap bertahan dalam keadaan statis, tidak berdaya dan berdiam diri dalam ketidaksejahteraan. Hijrah dilakukan bukan semata-mata untuk memperoleh kesenangan duniawi ataupun kecukupan materi, tetapi juga tanda kesempurnaan pengabdian manusia kepada Allah swt.
Memaknai hijrah dalam konteks yang lebih luas dilakukan melalui perubahan perilaku kita untuk selalu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dunia dan segala isinya yang terus berubah menuntut kita mampu mengimbangi perubahannya agar tidak tergerus zaman. Jangan pernah merasa nyaman dalam keadaan kita saat ini, karena boleh jadi kita terkena dua sifat buruk manusia yaitu: tidak mau hijrah (berubah) dan terus berubah (tidak konsisten). Hijrah harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, baik untuk tujuan hidup di dunia maupun akhirat. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar