Senin, 27 September 2010

Autobiografi: Desaku Inspirasiku

Desaku yang Kucinta
Aku dilahirkan di sebuah desa terpencil dari sepasang orang tua yang hanya sedikit mengerti baca tulis. Aku anak ke-3 dari empat bersaudara. Selain aku dan adikku, kedua kakaku dan sebagian besar penduduk kampungku banyak yang tidak pernah bersekolah atau paling tinggi hanya tamatan sekolah dasar (SD). Sekolah lanjutan pertama (SMP) atau lanjutan atas (SMA) ada di desa lain dan di ibukota kecamatan. Para orang tua sudah merasa cukup anaknya bisa membaca dan sedikit berhitung. Mereka beralasan, untuk melanjutkan sekolah akan membutuhkan biaya yang besar. Bahkan orang tua yang mampu secara ekonomi banyak yang kurang peduli dengan pendidikan anak-anaknya, karena merasa anaknya tidak akan hidup susah dengan harta yang telah dimilikinya saat ini.

Menurutku alasan-alasan tersebut tidak tepat, sebab faktor utama semua ini yaitu kurangnya kesadaran akan pentingnya bersekolah. Sekolah hanya dipandang sebagai cara untuk mendapatkan pekerjaan semata dan tidak dipandang untuk memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan. Coba tengok di daerah lain yang kesadaran menyekolahkan anak-anaknya sangat tinggi, keadaan ekonomi para orang tuanya banyak yang lebih rendah dibandingkan keadaan ekonomi sebagian besar penduduk desa kami. Orang-orang tua mereka dengan sekuat tenaga dan dengan segala keterbatasan ekonominya tetap memprioritaskan agar anak-anak mereka tetap bisa sekolah. Terbukti, dengan pendidikan meraka dapat mengangkat derajat diri dan keluarganya dan mampu meningkatkan kualitas hidupnya menjadi lebih baik. Sebuah kesungguhan dan keuletan akan mampu menyingkirkan setiap rintangan dan selalu menemukan jalan keluar yang pada akhirnya akan membuahkan keberhasilan – sebuah hasil yang manis.
Di desa kami anak-anak yang masih sekolah atau yang sudah lulus sekolah dasar sudah harus ikut bekerja dan meringankan beban orang tua dalam mencari uang. Anak laki-laki ikut menjadi pekerja atau buruh tani; mengolah atau membajak sawah, menanam, menyiangi sampai memanen padi milik orang tuanya maupun kepunyaan orang lain. Generasi belia ini belum punya bekal pengetahuan yang cukup untuk memikirkan dan melakukan hal-hal yang lebih dari sekedar bekerja atau menghasilkan uang, sehingga ketika mendapat penghasilan, uang tersebut sering dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak perlu, misalnya untuk membeli rokok atau bahkan untuk membeli minuman keras. Pengetahuan yang kurang dan adanya pengaruh media, generasi seperti ini rawan terjerumus dalam lingkaran kriminalitas yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat yang berarti telah melepaskan harapan indah masa depannya.

Anak-anak perempuan, tiga atau empat tahun setelah lulus sekolah dasar (SD) lalu dikawinkan. Perkawinan dini ini sering menimbulkan konflik dikemudian hari. Setiap pasangan secara emosional belum stabil, sehingga jika timbul masalah-masalah kecil sering menimbulkan konflik dalam keluarga, dan dapat mengakibatkan terjadinya perceraian. Masalah ini akan menambah beban sosial yang besar bagi keluarga dan masyarakat. Menurut pendapatku, perdagangan manusia dan maraknya prostitusi bisa berasal dari lingkaran benang kusut ini.

Kata orang, desaku itu tergolong desa yang makmur. Banyak orang desa kami yang memiliki sawah berhektar-hektar. Rumahnya bagus-bagus karena dibangun oleh tukang-tukang atau ahli bangunan dari luar desa. Selain dari bentuk rumah yang bagus, orang-orang ini biasanya memiliki heler – mesin penggilingan padi dan mobil-mobil pikup atau truk yang kami sebut koldisel yang berfungsi untuk mengangkut gabah atau beras. Tetapi orang-orang yang tidak mempunyai sawah sendiri jauh lebih banyak. Mereka hanya sebagai petani penggarap, menjadi buruh dengan penghasilan harian. Ketika musim panen tiba, untuk mendapatkan bawon – sejumlah padi sebagai upah karena ikut memanen - para buruh tani ini berkeliling di persawahan mencari orang yang sedang panen, bahkan mereka sampai ngurung – mencari panenan ke daerah lain terkadang sampai menginap.

Desaku dikelilingi oleh hamparan sawah-sawah yang luas dengan air irigasi teknis yang memadai. Sejauh mata memandang hanya sawah-sawah yang terlihat. Sebenarnya desa kami hanya terhalang oleh satu desa jika ingin sampai di jalan raya jurusan Cirebon – Jakarta. Namun karena pembangunan sarana jalan belum sampai ke desa kami, kedekatan jarak ini belum memberikan nilai tambah yang maksimal bidang pertanian desa kami.

Setiap pagi buta lepas subuh, orang-orang berbondong-bondong pergi ke sawah, ada yang bersepeda ontel, tetapi sebagian besar berjalan kaki memanggul cangkul bagi laki-laki dan membawa bakul bagi perempuan, berbaju hitam-hitam dengan topi dari anyaman bambu yang dibuat meruncing kebagian atas. Lepas ashar biasanya mereka kembali dari sawah. Terlalu sering kepanasan membuat warna kulit penduduk desa hitam legam dan badannya sangat berotot layaknya bodi para atlet.

Pada tahun 1980-an desaku mendapat penghargaan dari pemerintah pusat sebagai desa swasembada pangan, walaupun waktu itu aku masih kecil, aku masih ingat dan ikut merasa bangga mendengarnya dari orang-orang tua kami. Artinya jerih payah para petani, kepala desa dan perangkatnya dalam pembinaan dinilai berhasil dan diakui oleh pemerintah pusat.

Yang kurasakan saat itu, pemerintah memang sangat memperhatikan bidang pertanian. Setiap musim panen padi tiba, kami sangat bergembira menyambutnya. Pagi hari kami pergi derep atau memanen padi baik kepunyaan sendiri maupun ikut memanen padi milik orang lain. Sore hari kami pulang membawa bawon - padi upah kami. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan kami kumpulkan bawon-bawon tersebut lalu disimpan di lumbung setelah dijemur hingga kering. Kami bisa hidup sederhana sepanjang tahun dari upah padi-padi kami tersebut. Kami jual sesuai kebutuhan dengan harga yang pantas. Kami tidak banyak mengeluarkan uang untuk makan sehari-hari; beras berasal dari padi yang kami giling dari padi simpanan, lauk pauk biasanya kami mencari ikan di sawah atau sungai, sedangkan untuk sayur-mayur kami petik di sekitar rumah kami. Untuk memasak kami buat pawon– tungku dibuat dengan batu bata- dengan bahan bakarnya dari kayu-kayu atau ranting-ranting pohon kering yang banyak tersedia. Warung masakan sangat jarang, mungkin karena jarang ada yang membutuhkan. Kalau yang menjual rumbah banyak. Rumbah itu sejenis lotek isinya ada kangkung, tauge, kacang panjang dan lainnya, bumbunya sambal kacang ditambah kencur.
Kami melihat dan merasakan, hanya orang-orang malas saja yang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup tahunannya, karena jika mereka mau, pekerjaan selalu tersedia sepanjang tahun.

Keluarga Besarku
Pesarean berarti tempat orang tidur (sare=tidur). Pesarean berarti tempat untuk menidurkan orang yang sudah meninggal, artinya tempat pemakaman. Depan rumahkan terdapat pemakaman umum, oleh karena itu lingkungan dimana tempat aku tinggal lebih dikenal dengan Blok Pesarean.
Bapakku bernama Sud Kartiwan sedangkan ibu – kami memanggilnya Goma - namanya Icok. Ayah berasal dari keluarga sangat sederhana, anak pertama dari empat bersaudara. Kami memanggil kakek dan nenek dari pihak Bapak dengan Bapak dan Goma Cuek.
Ibuku atau Goma berasal dari keluarga besar yang agak terpandang di desa kami. Beliau anak ke-3 dari dari enam bersaudara. Kakekku dari pihak Goma namanya Saryamah, nenekku kami biasa panggil Goma Gueng.

Aku punya dua kakak; yang pertama perempuan aku panggil teh Idah, yang kedua laki-laki aku panggil kang Wandi, sedangkan adikku namanya Hidayat.
Dalam hal panggilan, kami biasa memanggil seseorang dari nama salah seorang anaknya. Jika anak saya bernama Ario, maka aku akan dipanggil dengan nama Ario. Aku tidak mengetahui nama asli kakek-kakek dan nenek-nenekku, tetapi beliau kami panggil berdasarkan nama salah seorang anaknya. Cuek adalah nama adik perempuan bapakku, maka kami panggil kakek dan nenek dari bapak dengan sebutan Bapak dan Goma Cuek. Gueng adalah nama adik perempuan Goma, sehingga aku memanggil nenekku dari pihak ibu dengan sebutan Goma Gueng. Keluarga besar kami adalah para petani, ada yang punya sawah sendiri ada yang menyewa ataupun menjadi buruh tani, kecuali kakekku Saryamah. Beliau selain sebagai petani, juga berprofesi sebagai dalang wayang kulit. Wayang merupakan kesenian tradisional terutama di jawa. Wayang terbuat dari kulit binatang – terutama kulit kerbau yang telah disamak lalu dipahat menjadi wayang. Wayang mempunyai puluhan nama dan mempunyai karakter yang berbeda-beda layaknya manusia. Diantara nama-nama wayang yang sudah dikenal diantaranya Gatotkaca, Arjuna, Batara Krena, Bima, Nakula & Sadewa, Petruk, Gareng, Bagong dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya. Seorang dalang seperti kakekku, harus mampu memahami sekaligus memerankan semua karakter wayang dalam gerakan dan suara. Maka ketika membawakan beberapa wayang dalam satu babak, beliau harus bisa menyuarakan masing-masing wayang dengan suara yang berbeda-beda. Kakekku sering ditanggap – dipanggil pentas - ke mana-mana terutama di sekitar desa kami. Beliau sangat mahir dan hafal cerita-cerita pewayangan terutama dari buku-buku kuno terutama yang berasal dari peninggalan-peninggalan budaya Hindu dari India. Saat ini cerita-cerita Hindu tersebut alur ceritanya sudah diganti dengan nilai-nilai keislaman. Konon penggantian dengan budaya Islam ini dilakukan oleh para Wali Sanga – para penyebar agama Islam di Jawa. Penyesuain ini untuk mempermudah agar dakwah mudah dipahami dan tetap menarik karena dikemas dalam media hiburan yang banyak penggemarnya.
Saya bangga menjadi cucunya, karena Beliau adalah seorang muslim yang taat. Ketaatannya ini mungkin menjadi salah satu pertimbangan masyarakat sekitar yang percaya beliau dapat mengobati berbagai macam penyakit melalui do’a-do’anya. Aku pernah menemukan buku-buku tulisannya ketika Beliau dudah wafat yang berisi do’a-do’a dalam bahasa arab dan latin.
Tempat tinggal keluarga besarku sekarang berpencar-pencar berjauhan satu dengan yang lainnya kecuali rumah nenek, kakak, bibi dan beberapa saudara lainnya. Rumah kami berjajar berhadapan menghadap halaman yang luas. Halaman ini banyak berguna terutama untuk menjemur padi, menggelar hajatan bahkan tempat bermain aku dan teman-teman. Walaupun rumahnya berjauhan kalau salah satu ada yang sakit atau mempunyai kenduri, seluruh keluarga besar akan berkumpul saling membantu.

Aku Disunat
Suasana sangat ramai, saudara-saudara dekat dan jauh sudah berkumpul di rumahku. Banyak yang sudah menginap sejak dua hari yang lalu. Mereka dan juga para tetangga lainnya ada yang datang sambil membawa buah-buahan, beras, kue-kue khas desa kami; wajit, dodol, poci, gemblong (ulen) dan kue-kue kering lainnya.

Semua orang berpakaian rapi. Kaum ibu ramai-ramai mempersiapkan makanan di dapur. Kaum pria mempersiapkan segala keperluan kenduri di luar. Di teras rumah ada kursi-kursi yang dihias dengan kain-kain atau diberi rumbai-rumbai dari kertas. Sedangkan kursi-kursi untuk undangan dipinjam dari tetangga lalu dipajang rapi di halaman rumahku yang luas menghadap panggung. Kalau ada yang mempunyai hajat atau kenduri seperti ini, tetangga sekitar rumah secara sukarela meminjamkan apa saja yang dibutuhkan untuk membantu; dengan tenaga, meminjamkan peralatan masak, kursi-meja dan keperluan lain. Tradisi tolong-menolong ini masih sangat kental dipraktekkan di desa kami sampai saat ini.
Disepanjang jalan sudah berjejer para pedagang dadakan, ada penjual mainan anak-anak, makanan-minuman, pakaian, kelontong dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.
Di ujung halaman telah siap sebuah panggung berisi seperangkat wayang kulit. Paling depan panggung ada rebahan gedebog atau batang pisang. Pada samping kanan dan kirinya telah tertancap wayang-wayang kulit yang akan dimainkan sang dalang. Di tengah-tengah tertancap gunungan. Sisa wayang kulit yang tidak ditancapkankan ada di dalam kotak kayu di belakang gedebog, dekat tempat duduk sang dalang. Di belakangnya ada sinden dan para nayaga – penabuh gamelan – ada yang memegang gendang, bonang, suling, gong dan alat lainnya.
Yang menjadi dalang - yang memainkan wayangnya - adalah kakekku sendiri. Beliau memang dalang wayang kulit kenamaan di desaku dan sekitar desa kami. Beliau mahir membawakan berbagai macam cerita wayang, ada kisah perang Bratayudha, Semar jadi raja, gugurnya Gatotkaca dan kisah-kisah klasik lainnya. Tua muda biasanya berbondong-bondong menonton pertunjukkan wayang kulit ini dari pagi hingga selesai.
Hari ini kira-kira jam 7 pagi aku disunat atau dikhitan. Aku dikhitan oleh seorang perawat yang aku panggil dengan mantri sunat. Aku pakai baju baru pemberian ibuku yang dibeli di pasar kecamatan, sedang bawahannya aku pakai kain sarung. Aku jadi primadona saat itu, kemana aku pergi semua orang memperhatikanku. Saudara-saudaraku banyak memberi pujian kepadaku, katanya aku hebat tidak menangis saat dikhitan. Mereka juga ada yang menghampiriku sambil menyelipkan uang ke dalam sakuku. Aku gembira dan bangga sudah dikhitan, terlebih kepada kedua orang tuaku dengan kasih dan sayangnya selama ini. Sebagai hadiah, Goma membuatkan ayam panggang khusus buatku, berondong dan beberapa mainan kesukaanku terutama pistol air dan mobil-mobilan sejenis truk yang terbuat dari kayu.

Membajak Sawah
Udara sangat terik. Matahari persis berada di atas di ubun-ubun. Suara beduk yang didahului dengan pukulan kentongan dari masjid Nurul Huda - satu-satunya masjid di desa kami - telah dibunyikan. Saya selalu kangen dengan panggilan shalat di desa kami ini, karena keberadaannya yang masih dipertahankan sampai saat ini serta cara membunyikannya yang unik. Ketika waktu shalat tiba, kemit, begitu kami menyebut penjaga masjid, akan memukul kentongan lalu diikuti pukulan beduk yang dipukul bertalu-talu. Cara membunyikan kentongan dan beduk untuk waktu dzuhur, ashar dan isya itu sama, berbeda ketika membunyikan untuk menandakan waktu maghrib dan subuh. Bunyi beduk ini dapat terdengar hampir ke seluruh pelosok desa. Bagi pekerja, jika beduk dzuhur telah berbunyi, berarti waktu sudah jam 12 siang. Mereka biasanya langsung bergegas untuk istirahat untuk makan siang.
Para petani banyak yang sedang santai di ranggon (saung) atau tempat lain di pinggir sawah yang nyaman untuk beristirahat. Bekal-bekal yang dibawa dari rumah mulai dibuka; ada nasi, tempe, teri atau ikan, sambal terasi dan lalapan; daun putat, buah dan daun tembara (petai cina) atau rebusan kangkung. Semuanya dibawa dalam rantang - sejenis mangkuk terbuat dari kaleng, ada pengait atau telinga dikedua sisinya dan dapat ditumpuk bersusun.
Makan di tengah persawahan ini selalu terasa nikmat. Mungkin karena dimakan ketika kita sangat lapar, atau karena suasananya. Aku kira alasannya karena dua-duanya. Sejauh mata memandang hanya sawah-sawah yang terlihat. Terhampar luas diapit oleh sungai-sungai atau anak sungai yang airnya tak pernah kering. Langit yang terang dan angin yang sejuk semilir membuat kita ingin berlama-lama di sana. Canda dan tawa selalu mengiringi prosesi istirahat dan santap siang ini.
Sekarang musim membajak sawah. Tanah yang sedikit kering bekas musim panen lalu, digemburkan dalam rendaman air. Bonggol-bonggol (batang bagian bawah) padi dan rumput-rumput dibersihkan. Tanah bagian atas dibalik sehingga terbenam ke bagian bawah. Sekarang pekerjaan ini menggunakan traktor, tidak dengan bantuan kerbau atau dengan cangkul seperti sebelumnya, kecuali untuk meratakan. Dulu membalikan tanah ini dikerjakan oleh beberapa orang dengan cangkul. Kini cangkul-cangkul telah tergantikan oleh mesin-mesin yang hanya mempekerjakan satu atau dua orang saja. Dengan cara ini pemilik sawah dapat berhemat, karena biaya sewa traktor ternyata lebih murah daripada harus membayar beberapa pekerja dan waktu pengerjaannya yang lebih cepat. Tapi modernisasi pertanian ini berdampak pada berkurangnya kebutuhan tenaga kerja.
Setelah tanah diratakan, sawah telah siap untuk ditanami.

Ikut Bapak ke Sawah
Sekarang hari Minggu, saya diajak Bapak ikut ke sawah. Bapak ingin melihat kondisi persemaian benih yang dalam beberapa hari akan tandur – menanam atau menancapkan benih padi. Sawah kami letaknya cukup jauh dan sudah masuk ke wilayah desa tetangga. Aku membonceng di sepeda Bapak. Jalan yang kami lewati masih berupa jalan tanah, banyak bergelombang dan terkadang sangat licin. Rupanya jalan ini tidak dapat menahan beratnya beban dari truk-truk pengangkut gabah atau beras yang keluar masuk dari desa kami. Pemerintah belum memenuhi keinginan warga agar jalan-jalan ini diaspal, sehingga mobilitas penduduk menjadi makin mudah dan cepat. Dengan infrastruktur yang baik, dapat mengurangi ongkos produksi, keuntungan meningkat dan akhirnya dapat menambah kesejahteraan masyarakat.

Sambil mengayuh sepeda ontelnya, Bapak banyak bercerita; tentang sawah kami, burung-burung, belut, ular, tikus, jangkrik, lintah, bebek atau apa saja agar aku tidak bosan atau agar jangan mengantuk. Aku sangat suka cerita-ceritanya. Bapak sangat menguasai tiap-tiap topik yang diceritakan, karena beliau adalah petani sejati. Beliau tidak punya keahlian apapun selain bertani. Aku bersyukur atas kerja keras beliau, kami sekeluarga dapat hidup cukup walau dalam kesederhanaan.

Sawah kami memang tidak terlalu luas, tetapi hasilnya cukup untuk menghidupi kami sekeluarga sepanjang tahun. Tidak punya barang-barang elektronik ataupun kendaraan bagiku tidak masalah. Kalaupun orang tua kami mampu, tanpa dimintapun aku pasti akan dibelikannya. Aku hanya berjanji, akan bersekolah dengan sebaik-baiknya agar kalau aku berhasil dapat membahagiakan Bapak dan Goma dan seluruh keluarga besar kami. Sering aku mendengar lagu ”Ayah” dari Ebiet G. Ade yang beberapa baitnya sangat menyentuh perasaanku:
”Dimatamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
Tapi kau tetap tabah
Desah nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang cukup sarat
Kau tetap bertahan..”

Tak terasa kami sudah berada di tepi jalan dekat sawahku. Bapak menyimpan sepedanya di sana, aku menyusuri galengan menuju sawahku. Di sana aku langsung menceburkan diri ke sawah Bapak menyusulku. Kami berdua meratakan tanah dengan kaki dan membuang rumput-rumput yang masih ada dan tersembul keluar. Tak lama aku meminta ijin Bapak untuk bermain air di galengan sedangkan bapak langsung menuju tempat persemaian benih, memeriksa dan membersihkan dari gulma atau rumput yang dapat mengganggu pertumbuhan benih. Bapak lalu mencabuti benih-benih ini dan diikat sejumlah tertentu dengan tali. Ikatan-ikatan benih ini lalu disebar di seluruh penjuru sawah untuk ditanam.
Paling senang ke sawah ketika padi mulai tumbuh besar atau mau menguning. Sambil memeriksa keadaan pertumbuhan padi serta membuang rumput-rumput diantara batang-batangnya, aku suka menemukan telur bebek. Mungkin bebek-bebek ini ketika lewat untuk mencari makan, tidak tahan lagi ingin bertelur dan akhirnya keluar di sana. Karena pemilik telur ini entah sudah ada dimana, akhirnya aku ambil saja nanti digoreng oleh Goma di rumah. Rasa telur bebek goreng ini sangat gurih dan menurutku lebih enak daripada telur ayam.
Pada batang padi aku juga sering menemukan sarang burung. Biasanya burung bondol, bulunya hitam dan bentuknya sangat kecil tapi sangat cepat gerakannya. Ketika telur-telurnya sudah menetas, aku suka bawa anak-anak burung tersebut untuk dipelihara di rumah.
Kalau sudah ada di sawah aku pasti bermain air di galengan sawah. Layaknya sungai, air diatur sedemikian rupa; dialirkan dari sawahku ke sawah sebelahnya, dibuka dan ditutup, dikecilkan atau dibesarkan alirannya.

Menonton Sepak Bola
“ Ya…bola direbut oleh Kasa, umpan ke tengah ada Raskita, tahan sebentar ..dorong pelan ke depan di sana ada Mustaba, dihadang oleh satu dua pemain lawan, dilego melakukan gerakan tipuan, melewati satu…dua..pemain, terjatuh dia, bola liar, tapi bola masih dapat dikuasainya, beberapa pemain berusaha mendekat membantu, kiper sudah maju ke depan berusaha merebut bola, tembaaak, bola memantul gawang Mustaba..Mustaba tembak lagi tembaaaaak..gooooolll” begitu teriakan pembawa acara yang berada di pinggir lapangan dengan spikernya.

Suara penonton langsung bergemuruh, ada yang bersorak-sorak, berjingkrak-jingkrak, berjoget, mengepal-kepalkan dua tangan ke atas bahkan banyak yang sambil menyerbu ke tengah lapangan. Beraneka ragam mengekspresikan kegembiraan ini. Suasana sangat riuh, seperti tidak terkendali, tetapi para pemain semua tampak tenang karena penonton kembali tertib berjejer di pinggir lapangan. Sepak bola adalah hiburan rakyat yang murah. Semua orang menyadari pentingnya pertandingan berjalan lancar dan aman.
Lapangan sepak bola ini tidak dikelilingi pagar, penonton tidak dipungut bayaran. Tetapi beberapa hari sebelumnya warga disuruh menyumbang untuk memanggil tim sepak bola luar daerah ini. Maka hari ini mulai dari anak-anak, remaja sampai ibu-ibu tumpah ruah menonton sepak bola sambil melihat aksi-aksi memikat dari para pemain kebanggannya.

Lapangan sering juga ditutup dengan pagar bilik ketika menggelar pertandingan. Tinggi pagarnya kurang lebih dua meter. Agar penonton tidak dapat mengintip, pagar dilapisi dengan terpal atau kain putih. Penonton harus membayar dengan membeli karcis. Keadaan ini tidak membuat sebagian warga yang ingin menonton tetapi tidak mempunyai uang kehilangan akal. Mereka lalu banyak yang memanjat pohon-pohon tinggi yang ada di sekitar lapangan atau dengan berdiri di atas sepede yang disandarkan pada dinding pagar. Memasuki babak ke-2, pintu pagar biasanya dibuka dan penonton tak beruang dibolehkan masuk.
Aku juga pernah diajak mamang – panggilan untuk paman – Warkaya menonton sepak bola di Sukra, desa tetangga. Ke sana aku membonceng sepedanya. Sambil mengayuh, sesekali beliau mengajak ngobrol atau bercerita. Ini dilakukan agar aku tidak tertidur. Aku banyak mendapat pengetahuan baru dari obrolan ini. Mang Warkaya selalu sabar menjelaskan berbagai pertanyaan-pertanyaan dariku. Aku menyadari, selalu ingin mengetahui tentang berbagai hal dan mang Warkaya orang yang selalu tahu jawabannya. Aku pernah mendengar dari orang, mang Warkaya pernah bercerita kepada Bapak bahwa kalau aku diajak bepergian, di sepanjang jalan aku tidak pernah berhenti berceloteh dan selalu banyak bertanya tentang berbagai hal.

Graha Wulan
“Inilah Radio Republik Indonesia dengan warta berita. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, pada hari ini pukul 21.15 WIB akan terjadi gerhana bulan total. Gerhana bulan terjadi ketika posisi bulan terhalangi oleh matahari……………”. Itulah bunyi sepenggal berita RRI Jakarta dari radio tetangga. Berita ini langsung tersebar dari mulut ke mulut sampai semua warga tahu.

Saat-saat terjadinya graha wulan - begitu kami sebut untuk gerhana bulan – Goma, Bapak, Nenek, Kakak-kakakku, aku, adikku dan para tetangga sudah berkumpul di halaman memandang langit yang cerah dengan bintang-bintangnya dan bulan yang bersinar penuh. Sambil menunggu graha, aku dan teman-teman bermain petak umpat di malam yang terang ini. Aku tidak pernah menjadi ‘kucing’ karena selalu bersembunyi di tempat yang susah ditemukan. Kadang-kadang kasihan juga melihat teman yang selalu jadi ‘kucing’ ini karena dia harus mencari kesana-kemari sampai semua teman yang sembunyi ditemukan.
Tiba-tiba orang-orang berteriak “ Graha….graha”. Aku dan teman-teman menghentikan bermain petak umpatnya. Kami lalu melihat bulan sedikit demi sedikit seperti termakan oleh matahari sampai akhirnya tertutup sepenuhnya. Pada proses ini para orang tua berteriak-berteriak:
“ Anak-anak ayo pegang terasi..ayo pegang terasi!”. Maka serentak kami berlarian masuk ke dalam rumah masing-masing. Tetapi banyak juga yang masuk ke dalam rumahku. Kami lalu mencari tempat dimana terasi disimpan. Oh ya, pasti di tampah – alat yang berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu, berfungsi untuk memisahkan antara gabah dengan beras - yang digantung pada langit-langit. Kami berebut memegang terasi-terasi yang ada di sana. Sudah pasti tangan kami akan berbau busuk karena terasi yang kami pegang itu terasi-terasi yang masih mentah. Terasi-terasi ini adalah persediaan, karena setiap hari ibu-ibu kami selalu membuat sambal.

Sekolah Dasarku
Letak gedung sekolah dasarku tidak jauh dari rumahka. Di depannya Kantor Kepala Desa yang bersebalahan dengan masjid Nurul Huda. Sedikit ke sebelah kana ada lapangan sepak bola. Jika ke sekolah ditempuh melalui jalan pintas yang sempit dan masih berupa tanah dan menyeberangi sungai melalui powotan - jembatan penyeberangan yang dibuat dari satu atau dua pohon – waktu tempuh paling lama 10 menit. Jalur ini sangat beresiko karena jalannya kecil, licin karena sering becek dan selalu takut ketika melewati powotan ini. Karena hanya terbuat dari batangan kayu atau bambu, ketika diinjak kaki bisa terpeleset karena licin. Di bawah aliran air sungai sangat deras. Apalagi setelah diguyur hujan deras, air sungai berwarna keruh, sangat deras dan hampir menyentuh pijakan kaki kita. Jembatan bergoyang-goyang ketika dilewati seperti tak kuat menahan beban. Kami harus sekuat tenaga berpegangan agar tidak jatuh lalu terbawa arus yang kuat. Air sungai karena hujan ini sering meluber ke pinggir mendekati rumah yang berada paling dekat dengan bibir sungai. Airnya bercampur lumpur membawa berbagai benda mulai dari kotoran-kotoran sampai pohon-pohon.

Berbeda jika ke sekolah melalui jalan raya desa, karena memutar maka jarak tempuhnya relatif lebih jauh. Jalan tanahnya sudah padat jadi nyaman untuk dilalui. Sambil berangkat, aku sekaligus nyamper teman-temank satu sekolahku yang rumahnya kulewati. Hampir pasti aku bersama Ucup, sahabat baikku. Kami sudah seperti saudara, sering bersama-sama kemanapun kami pergi. Asyik sekali jalan dengan banyak teman, ada laki-laki maupun perempuan.

Sekolah dasarku ini merupakan sekolah dasar pertama di desa kami. Gedungnya membentuk huruf L. Ruang kepala sekolah, ruang guru dan perpustakaan berada pada belokan gedung. Di teras sekolah ditanami tanaman hias, ada yang merambat sampai genting, ada yang berbunga merah, kuning, biru dan berbagai jenis tanaman. Kami juga punyalapangan bulu tangkis di depan sekolah yang sering difungsikan menjadi tempat apel bendera. Lapangan voli dan tempat lompat jauh juga ada. Para pedagang berada di luar pagar sekolah. Ada penjual nasi kuning, bubur nasi yang ditambah sayur lodeh, gorengan, penjual es dan lain-lain. Aku termasuk anak yang jarang jajan di sekolah. Tetapi kalau sedang ada uang, aku suka membeli nasi kuning yang disiram sayur bihun seharga, membeli kerupuk sambal membeli gula lilit atau es lilin.
Ketika aku kelas III, ada dua orang guru tambahan yang berasal dari Yogyakarta yaitu Pak Suparman dan Pak Sismadi. Kepala sekolahku namanya Pak Ana, sedangkan guru lainnya yaitu Pak Pardjio, Pak Asmuni, Pak Tjarga, dan lain-lain. Para siswa dan guru sering berolah raga bersama ketika waktu istirahat, bermain bulu tangkis atau bola voli. Tidak ada batas formalitas diantara kami, tetapi kami tetap mengerti sopan-santun dan tetap hormat kepada para guru. Selain mendapat ilmu-ilmu pengetahuan, kami juga diajari etika dan tata-krama dalam pergaulan sehari-hari baik di sekolah maupun ketika di rumah. Misalnya harus hormat kepada ibu bapak, orang yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda. Kebersamaan sangat ditanamkan kepada semua siswa. Kami memang orang desa tetapi semangat kami dalam bersekolah tidak kalah dengan orang kota. Baik ketika musim kemarau maupun ketika hujan deras atau ada angin ribut, jalanan licin dan becek, kami tetap semangat berangkat sekolah. Para guru juga kami lihat demikian, semua semangat dan rajin ke sekolah. Kepala sekolah kami – pak Ana – setiap hari selalu tepat waktu sampai di sekolah padahal rumahnya berada di desa tetangga yang ditempuhnya dengan bersepeda atau berjalan kaki. Padahal kalau musim hujan, kondisi jalan yang sangat licin dan berlumpur.

Dalam buku rapor aku dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1967. Kata Bapak, data itu pak guru yang menentukan, ketika bapak mendaftarkan aku masuk sekolah. Ketika ditanyakan tanggal lahirku, Bapak hanya menjawab perkiraan tahun saat aku dilahirkan, yaitu dengan menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi saat itu. Pak guru lalu menentukan tanggal, bulan dan tahun kelahiranku. Tapi tidak apalah, kami sebagian besar orang kampung memang tidak mengerti pentingnya membuat akte kelahiran atau mencatat tanggal kelahiran anak-anaknya.
Aku selesaikan pendidikan dasarku tanpa cacat. Masa belajar adalah masa-masa yang sangat membahagiakan. Berprestasi dalam setiap mata pelajaran selalu menarik untuk dirasakan kembali. Bagiku, berprestasi di sekolah adalah sebuah keharusan dan tanggung-jawab bagi seorang pelajar. Aku selalu menikmati masa-masa tersebut dan selalu ingin menjadi yang terbaik. Aku ingin menjadi pusat perhatian teman-temanku dan di sayang oleh para guru. Dan yang paling utama, aku ingin melihat Bapak dan Goma bangga terhadapku. Keduanya adalah pahlawanku telah menjaga dan memeliharaku dengan kasih dan sayangnya.

Menonton Televisi
Ketika yang lain masih mengandalkan lampu cempor – lampu yang dibuat dari kaleng atau gelas yang diberi sumbu untuk menyalakan pak Kuwu Dasli, kepala desa kami, tiap malam rumahnya sudah terang-benderang diterangi lampu listrik. Beliau juga satu-satunya orang di desa kami yang sudah punya pesawat televisi. Gambarnya masih hitam putih. Tiap malam televisi tersebut dinyalakan di halaman tengah rumahnya. Aku tahu karena sering ikut menonton bersama teman-temanku. Tetangga sebelah pak Dasli juga banyak yang ikut menonton. Acara televisi mulai kira-kira jam 4 sore dan selesai sekitar jam 12 malam. Aku biasanya ikut menonton bersama teman-teman setelah shalat isya. Kami seperti lazimnya warga desa lainnya, kalau malam tiba kemana-mana memakai sarung batik. Mungkin maksud awalnya untuk menghindari angin malam atau agar tidak digigit nyamuk. Sarung batik ini juga banyak dipakai warga desa ketika shalat Jum’at. Orang daerah lain mungkin melihatnya aneh karena kain batik identik dipakai oleh perempuan, sedangkan sarung untuk laki-laki biasanya motifnya kotak-kotak bergaris terang atau lembut.

Acara-acara yang menarik dari TVRI yang sering menjadi pembicaraan kami diantaranya Dunia Dalam Berita, Manasuka Siaran Niaga, film The Six Millions Dollar Man, Aneka Ria Safari dan lain-lain.
Pada tahun-tahun berikutnya banyak orang yang mempunyai pesawat televisi. Untuk menyalakannya menggunakan listrik yang berasal dari accu (aki). Disekolah, murid-murid juga sering diwajibkan menonton televisi terutama ketika ada siaran langsung peringatan atau upacara hari-hari besar nasional. Presiden Soeharto selalu menyampaikan amanat-amanatnya setiap acara-acara seperti itu. Kalau peringatannya mengenai pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonsia (G30SPKI), setelah upacara kami biasa disuguhi film mengenai pemberontakan tersebut.

Geng Rewinex
Aku tidak punya buku-buku pelajaran sekolah, padahal buku-buku tersebut penting sebagai pembanding dengan buku pelajaran yang diberikan guru. Walaupun minim tersedianya buku-buku pelajaran, tapi semangat bersekolah tetap maksimal. Kadang aku pinjam buku sejenis di perpustakaan atau dari teman. Aku harus banyak membaca dan sesering mungkin berlatih mengerjakan soal-soal dari berbagai sumber. Kunci keberhasilan seseorang berasal dari ketekunannya mengerjakan sesuatu, itulah pemahamanku. Ustadz Musta’in Thohir menyebut ketekunan ini dalam bahasa agama dengan istikomah. Perbuatan baik yang dikerjakan secara terus-menerus akan menjadikan perbuatan baik tersebut menjadi suatu kebutuhan dan bagian tak terpisahkan dalam dirinya, begitu kata beliau dalam berbagai kesempatan. Bagaimana mengevaluasi kualitas shalat kita kalau shalat tersebut jarang dikerjakan. Seorang pedagang pakaian selalu menyediakan barang lebih banyak menjelang lebaran, karena dia setiap tahun pada saat tersebut sebagian besar orang akan membeli pakaian. Bahkan dia sudah bisa memperkirakan berapa jumlah barang yang harus dia sediakan.

Keterbatasan buku-buku membuatku harus rajin membaca dan banyak bertanya. Aku sering bertanya kepada guruku atau kakak kelasku ketika jam istirahat. Guruku malah sangat senang jika muridnya kritis dan rajin bertanya karena dapat mengetahui metoda pengajaran yang tepat. Aku merasa cara mengajar pak Parman – panggilan untuk pak Suparman – dan pak Sis – panggilan untuk pak Sismadi – sangat enak, tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat. Keduanya sangat sabar, tidak pernah memarahi kami dan sangat membimbing. Keduanya telaten dan rajin ke sekolah. Kami beruntung mempunyai guru-guru seperti mereka. Kami orang desa butuh bimbingan dan penggugah semangat agar kami tidak patah semangat dan terus bersekolah sampai kami berhasil menjadi orang yang sukses. Keduanya sering bercerita bahwa di kampungnya, para orang tua, apapun keadaannya akan berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya bersekolah setinggi-tingginya.

Di sekolah ada perpustakaan dengan buku-bukunya yang disimpan rapih dalam lemari. Ruangannya masih bersatu dengan ruang guru. Jumlah bukunya ratusan dan aneka macam jenisnya, ada buku pelajaran, buku cerita, buku tentang keterampilan, olah raga, kesenian dan lain-lain. Rasanya aku ingin memilikinya semua. Bagiku, membaca buku sudah menjadi suatu kebutuhan. Oleh karena itu aku sering pinjam buku-buku di perpustakaan ini. Yang paling berkesan yang pernah kupinjam adalah buku “Cerita Rakyat”, pengarangnya aku lupa dan bukunya sangat tebal. Setelah membaca buku itu aku bisa bercerita kepada teman-temanku seperti yang ada dalam buku tersebut. Dari situlah awal aku jadi sering pinjam buku-buku. Sepi rasanya kalau di rumah tidak membaca buku.

Teman-teman terutama yang tinggalnya dekat rumahku, sering berkumpul di rumahku. Entah itu mau bertanya tentang pelajaran di sekolah atau ingin bermain bersama di sore hari. Halaman rumahku yang luas merupakan tempat yang menyenangkan untuk bermain; bermain bola, kasti, layangan maupun slodoran – permainan grup yang melewati suatu rangkaian kotak-kotak segi empat yang dijaga oleh lawan dan kita tidak boleh terkena jangkauan tangan lawan. Yang menang jika ada satu orang yang dapat melewati semua kotak sehingga bebas.

Di tempat lain, ada sekumpulan anak-anak yang membentuk suatu kelompok bermain namanya Sisnex – singkatan dari siswa nekat. Kata teman, kelompok ini beranggotakan anak-anak orang kaya, terutama yang mempunyai sepeda motor. Kegiatannya hanya kumpul-kumpul dan terkesan hura-hura.
Melihat fenomena ini, teman-teman yang sering berkumpul di rumahku ingin juga membuat perkumpulan. Lama kami memikirkan nama dan kegiatan yang ingin menjadi cirri khas grup ini sampai akhirnya kami sepakat membentuk grup namanya Rewinex – singkatan dari Remaja Wis Nekat (remaja yang sudah nekat) dan aku yang menjadi koordinator ‘geng’ ini mengarahkan kegiatannya hanya untuk hal-hal yang positif saja, misalnya untuk belajar dan shalat tahajud bersama. Rumahku menjadi markas utamnya sehingga rumah ini selalu ramai, setiap malam selalu ada yang menginap. Goma tidak pernah membedakan antara aku – anaknya – dan teman-temanku. Kalau ada makanan, kami dibaginya sama rata.

Menjalankan Puasa di Pesarean
Malam baru menunjukkan jam 12 malam, Goma sudah membangunkanku. Dari masjid Nurul Huda masih terdengar orang bertadarus – membaca Al Qur’an. Di langgar – mushala – lain ada yang mengingatkan supaya bangun dan makan sahur. Sekarang bulan puasa. Seperti biasa Goma sudah membuat mie rebus, masakan istimewa kami. Walaupun Beliau tidak ikut berpuasa, dengan kesabarannya Beliau tidak pernah terlambat membuatkan makan sahur aku dan kakakku. Aku tidak pernah protes sahur sepagi itu karena merasa kasihan kepada Goma yang sudah bersusah-payah membangunkan dan membuatkan masakan untuk sahurku. Setelah pertengahan bulan, biasanya suasana sahur akan semakin ramai dengan adanya obrog keliling, yaitu beberapa kesenian tradisional yang berkeliling di malam hari untuk ikut membangunkan orang agar bersahur. Ada reog, tarling, kijing dan lain-lain.

Tadi sore aku shalat tarawih di masjid. Jumlah rakaatnya 23. Setiap 4 rakaat ada penyebutan untuk mengagungkan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW dan Khulafaurasidin – empat Sahabat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali. Ketika sedang melaksanakan shalat Tarawih aku sering terbawa canda teman-teman oleh karena itu kami biasanya mengambil di shaff belakang. Selesai shalat biasanya kami berebut makanan sumbangan dari jama’ah; kadang-kadang ada nasi kuning, buras, gehu, combro, misro, lemper, nagasari, tape ketan atau kue-kue kering. Setiap hari selalu saja ada yang membawa kue-kue ini. Setelah membaca do’a niat puasa dan bersalaman-salaman, kami boleh menabuh beduk. Kami lakukan secara bergantian. Iramanya bebas tapi harus ritmis, enak didengar. Pukulan beduk harus seirama dengan pukulan kentongan. Kadang-kadang dipukul oleh dua orang secara bersamaan membentuk perpaduan yang serasi. Di dalam masjid sebagian orang mulai bertadarus, membaca Al Qur’an. Tapi sayang, bertadarusnya memenuhi tujuan bertadarus sesungguhnya, yaitu saling bergantian setelah membaca beberapa ayat, sambil diperbaiki jika ada bacaan yang salah atau kurang tepat tajwidnya. Begitu juga penggunaan spiker di masjid pada malam Ramadhan tersebut kurang memenuhi ketentuan yang pantas. Membaca Al Qur’an itu sangat dianjurkan, tetapi setelah lewat jam 10 malam tidak usah menggunakan spiker untuk menghormati orang lain yang ingin beristirahat.
Anak-anak lain setelah shalat tarawih ada yang menyalakan bledogan – petasan – , jorosan atau kembang api.

Kemarin aku shalat tarawih di langgarnya Haji Warga. Jama’ahnya tidak terlalu banyak tetapi pelaksanaannya agak cepat. Dan yang lebih penting menurutku, makanannya lebih banyak. Aku dan teman-teman sering memilih ke mana tempat shalat karena makanannya ini.

Kalau bulan puasa sekolah kami selalu libur. Setelah shalat Subuh, seringnya aku kembali tidur dan bangun sekitar jam 8 atau 9 pagi. Seteleh shalat ashar aku biasanya dikunjungi teman-temanku. Mereka mengajakku untuk bermain atau jalan-salan sore sambil ngabuburit - menunggu waktu maghrib tiba. Tempat yang sering kami kunjungi adalah pesarean – pemakaman – depan rumahku. Makam-makam di daerah kami sebagian ada yang ditutup dengan rumah-rumah tetapi kebanyakan hanya ditembok setinggi kurang lebih ½ m. Diantara makam-makam tersebut banyak pohon-pohon besar yang rindang. Beberapa pohon asam ada yang usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun. Kayunya sangat berotot. Setiap tahun tak pernah berhenti berbuah. Buahnya sangat lebat banyak yang menjuntai ke bawah. Kalau sedang ingin, kami lempar dengan batu dan beberapa asam akan jatuh. Asam yang masak jika ditambah gula merah dan sedikit air, rasanya menyegarkan. Kami membuatnya dalam bumbung – lubang bagian dalam bambu.
Diantara akar-akar asam yang menonjol kami hamparkan tikar. Kami dapat duduk atau rebahan. Yang membawa buku sambil bersandar pada batang asam. Kami menikmatinya karena sangat teduh. Angin yang berhembus diantara pohon-pohon makin membawa kesejukkan.

Halaman Rumahku
Di rumah, aku anak yang paling jarang membantu pekerjaan orang tua maupun tetangga. Aku sering beralasan bahwa aku sedang belajar. Bapak dan Goma tidak pernah memaksaku karena melihat aku memang sedang belajar. Setelah semua kegiatan belajarku selesai, aku pasti ikut membantu orang tuaku atau tetanggaku.

Dengan tetangga kami selalu hidup saling tolong-menolong dan bergotong-royong. Kalau musim panen, padi-padi yang telah dicekrik – dipotong dengan ani-ani, dihamparkan di halaman rumah lalu dipukuli dengan batang kelapa agar bulir padi lepas dari gagangnya atau dengan cara mengiles – padi dengan batangnya tersebut digesekkan diantara dua kaki – sampai batang-batang padi bersih dari bulir-bulir padi. Jika selesai ngiles ini, kaki akan terasa perih, mungkin karena banyak yang lecet. Sebelum dijual atau disimpan, padi akan dijemur di halaman dalam beberapa hari. Sedangkan anggas – sisa batang padi – ditumpuk di pinggir halaman atau di hamparkan di jalan desa. Anggas yang basah akan tumbuh jamur merang yang enak jika dimasak. Pekerjaan-pekerjaan ini siapapun yang melakukannya di halaman rumahku, semua orang yang sedang nganggur di tempat itu pasti akan membantu.

Corong Lampu Cempor
Pagi-pagi aku sudah bersepeda dengan teman-temanku menuju tutupan – bendungan pengatur irigasi. Tutupan merupakan bangunan pengatur air, berupa bendungan yang ada jembatan di atasnya. Di sana sudah banyak teman lain yang lebih dulu datang, sehingga suasana sudah sangat ramai. Sekarang hari Minggu, aku dan teman-teman memanfaatkan hari libur ini untuk melepaskan rutinitas sekolah. Tutupan merupakan tempat pavorit kami untuk berenang. Berada di ujung desa yang diapit oleh hamparan sawah-sawah. Airnya tidak pernah kering tetapi tidak terlalu deras, selalu berwarna keruh, apalagi setelah hujan lebat. Tutupan ini berguna membagi dan mengalirkan air ke sawah-sawah yang berada di bagian sisi kiri atau kanan sungai utama. Untuk mengatur aliran airnya dilakukan oleh beberapa orang yang kami sebut mantri air. Dia harus dapat memastikan bahwa semua sawah cukup mendapatkan air.

Sebelah kanan sungai adalah jalan besar tanpa aspal yang banyak dilalui para petani yang akan berangkat ke sawah. Jalan ini juga menghubungkan desa kami dengan desa-desa tetangga.
Kami biasanya bermain dengan terjun dari atas jembatan tutupan lalu masuk ke dalam bersama aliran air yang jatuh dari bendungan dan ketika tubuh masuk ke dalam, kita akan ikut terbawa arus deras hingga jauh dari tempat semula. Sangat mengasyikan permainan ini. Selain permainan tersebut, kami juga main bola air; saling melempar bola agar bola tidak direbut orang lain, atau bermain menemukan benda yang dilempar teman; siapa yang pertama menemukannya dialah pemenangnya. Kami juga sering adu tahan nafas, siapa diantara kami yang paling lama menyelam. Berjam-jam kami bermain, bercanda, bergurau, saling mengejek, saling bersahutan atau apapun kegiatan anak-anak seusiaku. Setelah mata kami merah karena banyak kemasukan air, badan capai dan kepala pening, biasanya kami sudahi permainan ini. Tak lupa kami saling berjanji kapan dapat bermain bersama lagi.

Kepalaku masih terasa pening ketika memutuskan pulang. Kami berendengan bersepeda menyusuri jalan pulang. Di sekitar pertigaan yang menuju sekolah kami, sedang ada yang mengadakan kenduri atau hajatan. Hiburannya adalah sandiwara – sejenis wayang orang atau ketoprak, mempunyai alur cerita - biasanya kisah tentang masa-masa kerajaan-kerajaan jaman dahulu; Majapahit, Mataram, Cirebob, Pajajaran dan kisah lainnya. Atau juga melakonkan kisah-kisah cerita rakyat; kisah Jaka Tingkir, Angling Dharma, Dayang Sumbing dan lain-lain. Sandiwara ini panggungnya tinggi, terdapat banyak layar yang digulung ke atas dengan kayu atau pipa. Layar-layar ini bergambar dan ditampilkan sesuai seting ceritanya; ada suasana taman, hamparan sawah dan gunung-gunung, danau, laut, keraton dan masih banyak gambar lainnya. Pemain sandiwara sangat banyak. Yang harus ada dan kemunculannya selalu ditunggu penonton yaitu sepasang bodor atau pelawak. Di bagian bawah panggung ada para nayaga – orang-orang yang memainkan alat musik gamelan. Untuk mendatangkan sandiwara ini biayanya sangat mahal, tetapi tetap banyak yang nanggap.

Di pinggir jalan banyak berjejer para pedagang kaki lima dan orang lalu-lalang yang ingin menyaksikan atau sedang mencari kebutuhan lainnya. Desa kami belum ada tempat-tempat hiburan, bioskop misalnya. Maka setiap ada pertunjukkan seperti ini, penonton selalu melimpah.
Ketika melewati keramaian tersebut dan saat itu pengguna jalan sangat ramai sedangkan laju sepedaku terlalu kencang akhirnya sepedaku ini tidak dapat kukendalikan lajunya, atau mungkin juga karena kepalaku masih pusing. Laju sepeda yang tak terkontrol tersebut akhirnya melindas beberapa kotak kertas yang di dalamnya berisi corong-corong lampu cempor. Aku kaget dan sangat takut. Kutarik sepedaku lalu kupacu sekuat tenaga untuk pulang. Sepanjang jalan pikiranku tak karuan, terasa aku sedang dikejar oleh penjual lampu tersebut. Aku tak berani menoleh ke belakang dan fokus agar cepat-cepat sampai rumah.
Sampai di rumah aku langsung masuk kamar dan menguncinya dari dalam lalu berdiam diri sambil tiduran di atas amben. Yang kurasakan saat itu adalah rasa takut yang luar biasa, takut dengan penjualnya dan takut dimarahi Bapak dan Goma.
Sore hari pintu kamarku diketuk Goma. Setelah kubuka, dengan suara lembut mengatakan bahwa Beliau sudah tahu kejadiannya dan sudah menyelesaikan dengan penjual corong tersebut. Penjual corong sudah mengetahui identitasku dan tadi siang ibuku sudah membayar kerugiannya.
Tradisi kekeluargaan yang masih kental dalam masyarakat desa kami, membuat kami saling mengetahui letak dan kondisi keluarga tetangga lainnya walaupun tempatnya berjauhan. Ketika ada orang yang menanyakan letak rumah seseorang di ujung desa, biasanya dengan mudah orang yang ditanya akan menunjukkan alamat dimaksud. Maka pada kejadian aku di atas, pasti ada beberapa orang di sekitar kejadian yang mengenaliku, anak siapa dan dimana rumahku.
Aku bersyukur Bapak dan Goma tidak memarahiku. Aku hanya dinasihati agar berhati-hati di kemudian hari.

Mendengar Undangan Hajatan      
“Rayat…, lor, kidul, wetan, kulon sami ngrungua, benjing dina Kemis tanggal pitulikur rayagung, ngundang bapak ibu sedanten dikengken teka ning bapak Sanija, alamate teng Blok Doger sebab arep nyunati anake sing aran Warno, hiburane sandiwara Candra Kirana sing Gegesik Arjawainangun Cirebon”. 
(Saudara-saudara yang ada di utara, selatan, timur dan barat dengarkanlah, bahwa besok hari Kamis tanggal 27 Dzulhijjah mengundang bapak dan ibu semua, untuk hadir di bapak Sanija yang beralamat di blok Doger, yang akan mengkhitan anaknya yang bernama Warno, dengan hiburan ketoprak/masres Candra Kirana dari desa Gegesik Arjawinangun Cirebon).
Begitulah bunyi uar-uar dari mulut seorang bapak tua sambil membawa bonang kecil (sejenis alat gamelan) yang dibunyikannya sebelum dan sesudah pengumuman itu. Pemukulan bonang ini di samping sebagai tanda adanya pengumuman penting, juga untuk menarik agar orang mau berkumpul. Maka mendekatlah orang-orang di pinggir jalan tanah berdebu itu untuk mendengarkan, paling banyak tentunya anak-anak. Berita ini lalu cepat menyebar dari mulut ke mulut, tak terkecuali bagi yang tidak hadir disitu. Sistem komunikasi seperti itu sama efektifnya ketika alat komunikasi berupa speaker yang keras bunyinya ditemukan kemudian. Pesan yang ingin disampaikan dapat diterima masyarakat secara utuh. Kekerabatan yang masih kental, memungkinkan setiap orang desa mengenal dan tahu tetangga lainnya walaupun jaraknya berjauhan di kampong tersebut.
Pembawa pengumuman ini menyusuri jalan dan gang seluruh kampung dengan berjalan kaki. Dia akan berhenti dan memberi pengumuman di tempat-tempat tertentu yang strategis..
Dalam perkembangan selanjutnya, undangan hajatan disampaikan lewat speaker yang dibawa oleh dua/tiga orang. Tenaga listriknya menggunakan aki (accu). Mereka akan berkeliling sepanjang jalan desa dengan berjalan kaki atau menaiki becak. Bunyi pengumumannya kurang lebih sama seperti ketika membawa bonang dengan menggunakan bahasa setempat. Tetapi walaupun sudah diumumkan, keluarga (suami dan isteri) yang akan mengadakan kenduri/hajatan mereka tetap harus berkeliling kampung untuk memberitahukan bahwa mereka akan mengadakan kenduri, terutama kepada saudara-saudara terdekat.

Menonton Kenduri
Setelah sholat maghrib, aku diajak kakakku membeli sate di tempat orang yang sedang mengadakan kenduri di dekat lapangan sepak bola. Kami berdua naik sepeda, kakakku yang membawa, aku yang membonceng di belakang. Suasana jalan sudah mulai gelap, maka lampu sepeda lalu dinyalakan. Ada benda seperti gasing dengan leher panjang dekat pelk roda depan sepeda yang kami sebut dinamo, jika tombolnya ditekan, kepala dinamo ini akan menempel keras pada ban sepeda, sehingga jika roda dan bannya berputar, kepala dinamo ini juga ikut berputar. Perputaran ini akan menghasilkan listrik dan menyalakan bohlam yang ada di dalam berko sepeda yang dihubungkan melalui kabel.
Kurang lebih setengah kilometer sebelum tempat kenduri, suasana sudah sangat ramai. Para pedagang sudah berjejer kiri-kanan. Ada penjual mainan, kelontong, pakaian, obat-obatan, sulap sampai makanan dan minuman tersedia. Dan bukan rahasia umum, di tempat-tempat yang tersembunyi juga ada yang menyediakan permainan berhadiah. Banyak ragamnya, ada tebak koin, tebak gambar dan macam-macam. Permainan judi ini banyak penggemarnya mulai dari anak-anak sampai orang tua.
Aku dan kakakku mencari penjual sate di sekitar masjid Nurul Huda. Setelah ketemu, sambil menunggu sate disiapkan, kami berjalan-jalan sejenak melihat-lihat suasana ramai, itung-itung cuci mata. Aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, dapat melihat berbagai macam barang yang jarang dilihat sebelumnya, terutama stan mainan anak-anak. Ada mobil-mobilan, pistol-pistolan, terompet, balon dan lainnya.
Setelah lelah berkeliling, kami kembali menuju penjual sate untuk mengambil pesanan. Setelah dibayar, kami bergegas pulang takut sudah ditunggu di rumah. Maka sore ini, kami makan bersama dengan menu paling lezat.
Setelah sholat isya, kakak mengajakku untuk menonton sandiwara – sejenis kesenian yang dimainkan oleh bebarapa orang dengan tarian dan drama, biasanya mengangkat kisah-kisah kerajaan tempo dulu dengan seting panggung dan tiap babak ditampilkan dengan latar belakang lukisan pada kain yang sesuai dengan temanya – di tempat tadi kami membeli sate. Kali ini kami hanya berjalan kaki - karena takut hilang kalau membawa sepeda – melewati jalan pintas menyeberang sungai. Aku mau menonton, karena ini malam minggu. Walaupun sandiwara pentas semalam suntuk tak mengapa, toh besok libur sekolah.
Yang paling aku suka dari pentas sandiwara ini adalah ketika pada suatu babak muncul satu atau sepasang pelawak. Pelawak ini dalam cerita sebenarnya memerankan pembantu dari seri – tokoh sentral. Namun dalam membawakan perannya, diselipkan kata-kata atau tindakan kocak yang dapat mengundang tawa penonton. Hal ini mungkin agar penonton tidak mengantuk dan bosan, karena pertunjukkan sandiwara biasanya selesai kira-kira jam tiga pagi. Ramai sekali penonton kali ini, setia mengikuti tiap babak yang ditampilkan sampai usai pertunjukkan.
Sebenarnya tidak hanya sandiwara yang kerap menjadi hiburan pavorit masyarakat. Ada juga kesenian tarling, wayang kulit, wayang golek dan lain-lain yang juga banyak menyedot perhatian warga desa.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, kesenian-kesenian ini mulai jarang ditanggap (diminta tampil) oleh yang mengadakan kenduri, mungkin karena ongkosnya mahal atau karena sebab lain. Yang jelas, dengan adanya organ tunggal yang hanya berisi 2-5 pemain, keberadaan kesenian-kesenian kreatif itu mulai tergeser. Atau kesenian-kesenian itu tetap eksis dengan memasukkan unsur-unsur dangdut seperti tampilan yang ada pada organ tunggal. Maka sejak itu, muncullah nama-nama seperti sandiwara dangdut, tarling dangdut dan lain-lain.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar