Minggu, 15 Juli 2012

Usia Dapat Bertambah Dengan Mengurangi Porsi Makan


Perut adalah sumber penyakit. Banyaknya jumlah dan jenis makanan yang tidak sehat memunculkan risiko beragam jenis penyakit. Mengurangi sedikit jumlah makanan yang dikonsumsi bisa membuat hidup lebih sehat.

Menurut studi yang dilakukan peneliti dari Institute of Health Ageing at University College London, mengurangi jumlah makanan sampai 40 persen bisa memperpanjang kehidupan seseorang sampai 20 tahun. Mereka juga membangun treatment yang diharapkan dapat memerangi penyakit menua.

Dalam studi yang dilansir Dailymail, Rabu, 4 Juli 2012 ini, para peneliti mempelajari bagaimana faktor genetik dan gaya hidup dapat diadaptasi untuk mengimbangi efek penuaan dan menambah usia hidup sampai puluhan tahun. Peneliti mengklaim, penyakit-penyakit yang terkait dengan umur, seperti kardiovaskular, kanker, dan neurodegenerasi dapat juga dilawan.

Salah satu upaya untuk menyelidiki pengaruh porsi dan jenis makanan terhadap usia dilakukan dengan cara mengatur pola diet pada tikus. Hasilnya, masa hidup tikus percobaan itu bisa meningkat 30 persen hanya dengan mengurangi asupan makanan.

“Jika Anda mengurangi diet tikus hingga 40 persen, dia akan hidup 20-30 persen lebih lama. Maka kami mengambil 20 tahun untuk usia kehidupan manusia. Ini dapat ditunjukan pada semua jenis organisme," kata kepala peneliti kepala Dr. Piper.

Hasil penelitian ini akan dipaparkan di Royal Society Summer Science Exhibition, London, beberapa waktu mendatang. (tempo)

Sabtu, 07 Juli 2012

Alpukat dan Minyak Zaitun Sangat Baik untuk Meningkatkan Kesuburan


Bila Anda pasangan muda yang sedang berupaya mendapatkan kehamilan, disarankan untuk lebih memperhatikan asupan gizi dan makanan. Dengan asupan nutrisi dan gizi yang baik, kesuburan pun akan meningkat. Peluang untuk memperoleh kehamilan pun semakin besar.

Salah satu rekomendasi yang patut dipertimbangkan dalam meningkatkan kesuburan, khususnya pada kaum wanita, adalah mengonsumsi buah alpukat. Penelitian menunjukkan, konsumsi alpukat dan salad dengan campuran minyak zaitun dapat membantu wanita mendapatkan keturunan. Hal ini berlaku khususnya bagi mereka yang tengah menjalani program bayi tabung atau in-vitro fertilization (IVF).

Peneliti berpendapat, lemak tak jenuh tunggal yang banyak ditemukan dalam minyak zaitun, minyak bunga matahari, kacang-kacangan, dan biji lebih baik ketimbang jenis lemak lain untuk calon ibu. Mereka yang mendapatkan asupan lemak tak jenuh paling tinggi memiliki peluang kehamilan 3,4 kali lebih besar setelah IVF ketimbang yang mengonsumsi dalam jumlah terendah.

Sebaliknya, pada wanita yang mengonsumsi lemak jenuh terlalu banyak—umumnya ditemukan dalam mentega dan daging merah, produksi sel telur mereka cenderung lebih sedikit sehingga memengaruhi keberhasilan program IVF.

Para ilmuwan percaya bahwa lemak tak jenuh tunggal—yang sudah dikenal baik untuk jantung—dapat meningkatkan kesuburan dengan menurunkan peradangan dalam tubuh. Hasil riset ini akan dipresentasikan dalam European Society of Human Reproduction and Embryology di Istanbul.

"Jenis makanan yang paling baik untuk dimakan adalah alpukat, yang tinggi kandungan lemak tak jenuh tunggal dan minyak zaitun," kata Profesor Jorge Chavarro, pemimpin riset ini.

"Ini adalah pertama kalinya untuk pengetahuan kita bahwa lemak makanan berkaitan dengan hasil pengobatan pada bayi tabung," katanya.

Prof Chavarro meneliti 147 wanita yang menjalani program bayi tabung di Massachusetts General Hospital Fertility Center. Dalam kajiannya, ia menemukan hubungan antara tingginya kandungan lemak tak jenuh tunggal dan angka kelahiran hidup. Asupan tinggi lemak tak jenuh tunggal terkait dengan peluang kehamilan yang lebih tinggi 3,4 kali lipat dibandingkan mereka yang hanya mendapat sedikit asupan lemak tak jenuh tunggal.

"Berbagai jenis lemak diketahui memiliki efek yang berbeda pada proses biologi yang dapat memengaruhi hasil reproduksi, seperti tingkat peradangan atau sensitivitas insulin," kata Chavarro, yang menambahkan bahwa ikan tetap merupakan sumber terbaik asam lemak omega 3, meskipun dalam penelitian ini tidak dijabarkan kontribusinya. (Daily Mail)

Bahaya Soft Drink Sama dengan Bahaya Merokok


Bila Anda termasuk orang yang gemar meminum soft drink, ada baiknya mengurangi kebiasaan itu. Anda mungkin salah satu orang yang mengetahui bahaya merokok. Nah, apakah Anda tahu bahwa bahaya soft drink pun sama dengan merokok?

Ilmuwan dari Center for Science in Public Interest mengatakan soft drink berdampak negatif pada kesehatan seperti obesitas, jantung, kerusakan gigi, gangguan ginjal, dan hati. Risiko itu pun juga dihadapi perokok.

Sebotol atau sekaleng soft drink mengandung tambahan gula yang tinggi namun tak memiliki nutrisi. Jadi, mengonsumsi soda bisa meningkatkan asupan kalori.

Hobi mengonsumsi soft drink terkait dengan kegemukan atau kelebihan berat badan. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan setiap kaleng soda yang diminum seorang anak tiap hari, berisiko 60 persen mengalami obesitas.

Kebiasaan mengonsumsi soft drink berisiko diabetes tipe 2. Selain itu, penelitian lain menunjukkan soft drink dapat menghambat penyerapan kalsium sehingga mengakibatkan osteoporosis.

"Dalam minuman manis juga banyak mengandung kafein yang memiliki sifat adiktif. Setiap orang harus meningkatkan kesadaran mereka terkait ancaman kesehatan yang mirip dengan sifat adiktif pada produk tembakau," ujar Dr Lori Dorfman, ahli kesehatan masyarakat.

Peneliti menjelaskan minum dua kaleng soft drink sehari telah terbukti menyebabkan masalah kerusakan hati dalam jangka panjang. Kondisi ini umumnya dijumpai pada pecandu alkohol. Kerusakan hati, pada akhirnya mengharuskan penderita untuk menjalani transplantasi hati, karena fungsi hati mereka tidak lagi dapat memproses sejumlah besar gula

Jumat, 06 Juli 2012

Levofloxacin Ampuh untuk Infeksi Bakteri Langka


Lembaga Obat dan Makanan Amerika telah menyetujui bahwa Levofloxacin sebagai obat yang mampu mengatasi infeksi akibat bakteri langka yang mematikan.

Dalam siaran berita yang dilansir oleh Drugs.com beberapa waktu yang lalu, Levofloxacin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri pada kulit, sinus, ginjal, kandung kemih, atau prostat. Levofloxacin juga bisa digunakan sebagai obat untuk mengobati infeksi bakteri yang menyebabkan bronchitis, pneumonia, atau bahkan sebagai obat wabah antraks.

Meski dikatakan ampuh sebagai penghalau bakteri tertentu, namun sayangnya penggunaan Levofloxacin memiliki efek samping tertentu seperti mual, sakit kepala, diare, insomnia, sembelit dan pusing. Efek samping serius lainnya seperti kerusakan hati, masalah pada sistem darah dan saraf, dan irama jantung yang abnormal. Agar tidak mengalami efek samping yang buruk ini, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter atau memperhatikan hal-hal penting di bawah ini.

  1. Beritahu dokter apabila Anda memiliki gangguan ginjal atau penyakit hati, kelemahan otot, kesulitan bernapas, gangguan pada persendian, kejang, diabetes, atau memiliki reaksi alergi terhadap antibiotik.
  2. Hindari mengonsumsi antasid, vitamin atau suplemen mineral, sukralfat (Carafate), atau tablet kunyah dalam waktu 2 jam sebelum atau setelah Anda mengonsumsi Levofloxacin.
  3. Berhentilah untuk mengonsumsi Levofloxacin jika Anda merasakan nyeri atau bengkak pada sendi.

Rabu, 06 Juni 2012

Pengobatan Jerawat dan Penyakit Kulit Lainnya


Kulit yang halus, kencang dan segar membuat seorang tampak lebih muda dan mengesankan. Siapapun tidak akan menolak kulit yang sehat, segar, halus, cantik dan tampak awet muda. Bukankah kulit demikian yang didambakan setiap orang ?
Namun sayang, pengaruh lingkungan antara lain radikal bebas dari sinar ultraviolet, matahari, polutan, zat pengawet/pewarna makanan dan bertambanya usia menyebabkan kerusakan kulit. Kulit akan kehilangan kelenturan, kehalusan dan kelembutan.

Nourish Skin mengandung :
  • Lyophilized Marine Protein Complex dan Collagen
  • OPC, super antioksidan dari ekstrak biji anggur merah, antioksidan lain seperti betacarotene, Vitamin C, Vitamin E, Selenium berfungsi menetralisir efek kerusakan oleh radikal bebas.
  • Bioflavonoid, Spirulina algae dan Zinc.
NourishSkin adalah penemuan mutakhir dalam penelitian produk.NourishSkin membantu pria dan wanita segala umur untuk mendapatkan kulit yang sehat dan lembut.
Kegunaan : Membantu menjaga kesehatan badan dan kulit.

Cara Kerja NourishSkin:
Untuk proses regenerasi, sel kulit membutuhkan nutrisi berupa grup asam amino (Marine Protein dan Collagen). Di lapisan dermis kulit, Marine Protein Extract dan Collagen akan merangsang aktivitas sel fibroblast untuk memproduksi serat kolagen dan elastin baru, sehingga dengan terjadinya penambahan jaringan kolagen dan elastin, kulit menjadi tebal, kencang, lembab dan elastin. NourishSkin bekerja secara alami tanpa mengganggu keseimbangan hormonal tubuh.

Manfaat NourishSkin: 

Memperbaiki struktur kulit yang rusak, Menipiskan flek-flek hitam, Mengatasi jerawat, Mencegah penuaan dini, Mengencangkan kulit, Menjaga kelembaban kulit, Menghaluskan kulit.

Dosis: 
Dosis awal 2 bulan pertama dikonsumsi 2 x 1 tablet (pagi dan malam) setelah makan
Dosis pemeliharaan 1 x 1 tablet sesudah makan malam

Dapat dikonsumsi oleh Pria dan Wanita mulai usia remaja, dewasa, hingga lanjut usia (12 th keatas). Aman dikonsumsi jangka panjang, karena tidak mengandung unsur hormonal dan terbuat dari bahan alami.

Perhatian: 

Tidak dianjurkan untuk wanita hamil, ibu menyusui (kurang dari 6 bulan) dan penderita gagal ginjal

HARGA (Belum Termasuk Ongkos Kirim):
Nourish-Skin 15’S       : Rp. 108.000,-
Nourish-Skin 30’S       : Rp. 185.000,-
Nourish-Skin 60’S       : Rp. 355.000,-
PESAN DAN INFO BIAYA KIRIM, SMS KE: 08211 96 29 580

Kamis, 17 Mei 2012

Jerawat dan Emosional Remaja

Sebagian besar remaja pasti mengalami masalah dengan jerawat. Ternyata jerawat yang muncul ini tidak hanya menimbulkan masalah di kulit, tapi juga mempengaruhi kesehatan. Apa saja pengaruhnya?

Lebih dari 40 persen remaja menderita jerawat atau bekas jerawat di usia pertengahan remajanya, sebagian besar dikarenakan oleh adanya perubahan aktivitas hormonal. American Academy of Dermatology menuturkan kondisi ini bisa menyebabkan masalah kesehatan dan sosial yang serius bagi remaja.

Meskipun jerawat ini sangat umum di kalangan remaja, tapi masih banyak yang merasa marah atau malu jika memiliki jerawat, terutama jika memiliki jerawat nodular yang membuatnya menghindari situasi sosial.

Jerawat yang timbul bisa ringan hingga parah yang menyebabkan kista atau nodul. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi folikel rambut di kulit yang menyumbat sel kulit mati serta minyak. Dalam hal ini bakteri yang hidup di kulit juga bisa turut berperan.

Dalam Journal of Paediatrics and Child Health peneliti menemukan jerawat terkait dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi serta depresi pada remaja yang berusia antara 12-18 tahun, seperti dikutip dari Livestrong.

Sedangkan studi lain menemukan remaja yang mengunjungi dokter kulit untuk mengatasi masalah jerawat memiliki kesulitan emosional dan sosial yang setingkat dengan pasien epilepsi atau diabetes.

Serta ada pula bukti lain yang menunjukkan ketika gejala masalah mental atau emosional parah, maka remaja ini mengalihkannya dengan mengonsumsi makanan junk food sehingga membuat jerawat bertambah parah.

Untuk mengatasi jerawat ini bisa menggunakan pengobatan topikal atau pun melalui oral. Obat topikal biasanya mengurangi jerawat dengan berbagai cara misalnya mengangkat sel kulit mati dan mengurangi jumlah bakteri Propionibacterium acnes yang berperan dalam mengembangkan jerawat.

Salah satu cara mencegah jerawat adalah melakukan perawatan kulit yang tepat, misalnya dengan membersihkan wajah setiap hari terutama malam hari atau setelah beraktivitas, serta menggunakan make up noncomedogenic yang tidak menutupi pori.


Minggu, 06 Mei 2012

Penggunaan Obat yang Rasional



Masyarakat Indonesia dikepung ribuan merek obat. Anda boleh percaya atau tidak, lebih dari 40 persen obat jadi yang beredar di Indonesia tidak rasional. Selain justru bisa membahayakan kesehatan, juga merupakan pemborosan.
Tak kurang dari Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Farmakologi Indonesia dan Guru Besar Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Prof dr Iwan Dwiprahasto, MMedSc, PhD menyatakan keprihatinan ini dalam wawancara di Jakarta 11 Mei lalu.
Pada dekade 1980-an, Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan (POM Depkes) RI waktu itu, Prof Midian Sirait, menarik 285 merek obat dan obat kombinasi dari peredaran karena dinilai tidak rasional dan ada bukti dari sejumlah negara mengenai aspek keamanan dan khasiatnya.
Menurut Iwan, sekarang ada lebih dari 14.800 merek obat jadi di Indonesia dan sekitar 6.000 di antaranya diperkirakan tidak rasional. Obat-obat itu masuk dan diterima Direktorat Jenderal POM Depkes ketika belum ada sistem evaluasi obat yang baik. Contohnya obat tetes mata, obat mag dan tukak lambung, obat flu, serta obat batuk campuran.
Obat batuk campuran, misalnya, mencampurkan antitusif untuk menekan batuk yang terus-menerus dan ekspektoran diindikasikan untuk batuk berlendir. Hal ini tidak logis. Obat tetes mata juga tidak rasional karena mencampurkan obat steroid dan antibiotik.
Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah obat mag yang mencampurkan berbagai jenis obat yang sebagian bertentangan indikasinya, seperti aluminium hidroksida, magnesium hidroksida, skopolamin, semitikon dan dimetikon (untuk menetralkan asam lambung), kafein yang menyegarkan, hingga penenang seperti codein.
Tentang obat-obat penghilang nyeri campuran dengan steroid yang banyak menimbulkan efek samping, seperti gagal ginjal dan moonface, Iwan menegaskan bahwa obat-obat analgetik seharusnya tidak boleh dikombinasikan dengan steroid. Nyatanya, di apotek-apotek daerah tersedia obat kombinasi NSAID, misalnya fenilbutason dengan steroid seperti prednison, dan vitamin. Ini sama sekali tidak rasional dan dapat membahayakan pasien.

Mitos "obat paten"
Sejak tahun 1980-an Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengampanyekan perlunya setiap negara memiliki Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) agar tak perlu jumlah merek obat begitu banyak yang sebagian tidak rasional. Prof Iwan, yang juga anggota Komite Nasional DOEN menyatakan bahwa hampir 70 persen produk industri farmasi di seluruh dunia termasuk dalam kategori non-esensial dan duplikatif. Di Indonesia tak terkecuali.
Tentang mahalnya harga obat "jiplakan" yang tidak rasional, berlipat kali daripada harga obat generik padahal sebenarnya masa paten obat originator-nya sudah lewat, Iwan menjelaskan bahwa tingginya harga obat, khususnya untuk obat merek dagang, bukan merupakan isu yang begitu saja muncul di permukaan.
Obat telah menjadi komoditas ekonomi yang penetapan harganya diserahkan pada mekanisme pasar. "Pada situasi ini, obat telah kehilangan rohnya sebagai bagian dari hak individu untuk dapat sembuh dari penyakit atau memperpanjang usia karena kemampuan ekonomi seseorang menjadi kendala untuk mencapai tujuan tersebut," katanya.
Ditambahkan, berbedanya harga obat antarnegara dan antarpelayanan kesehatan di satu negara menunjukkan bahwa harga obat tidak sepenuhnya didasarkan pada harga pabrik semata, tetapi juga kompetisi tidak sehat yang terjadi di pasar.
Obat yang oleh suatu industri farmasi semula ditetapkan dengan harga yang jauh lebih murah dari kompetitornya akhirnya harus menyesuaikan (menaikkan harga) dengan hargar yang ditetapkan oleh industri farmasi yang telah terlebih dahulu memiliki brand image.
Sebagai contoh di Indonesia, harga siprofloksasin merek dagang (branded generic) yang patennya sudah habis tahun 2003 bervariasi mulai Rp 1.200 hingga lebih dari Rp 29.000, padahal siprofloksasin generik hanya Rp 345.
Bayangkan, harga obat generik bermerek ada yang hampir seratus kali lebih mahal dibandingkan obat generik biasa, padahal isi dan khasiatnya sama. Dan sebenarnya obat generik bermerek hanyalah ' jiplakan" obat originator yang dibuat dengan riset mahal.
Celakanya, masyarakat awam dan sebagian dokter justru sudah telanjur salah kaprah menganggap obat generik bermerek sebagai "obat paten". Padahal, mahalnya harga obat generik bermerek sama sekah tidak rasional. Absurd.
Di tengah belantara ribuan merek obat, mulai dari yang generik dan esensial hingga obat-obat merek dagang baik yang originator maupun obat generik bermerek, konsumen harus cerdas.
"Konsumen yang cerdas kalau perlu tak meminum obat walaupun diresepkan oleh dokter. Kalau diberi antibiotik, harus tanya ke dokter untuk apa. Tidak semua ke1uhan sakit seperti flu atau radang tenggorokan (faringitis) membutuhkan antibiotik. Kalau memang ada infeksi bakteri, bukan infeksi virus, dan harus diberi antibiotik, harus diminum sampai habis," ujar Prof Iwan.
Khusus untuk puyer yang biasanya diresepkan untuk bayi dan anak-anak, ia menyarankan sebaiknya orangtua menanyakan apa saja komponen obat di dalamnya. Jika ada antibiotik, mintalah untuk dikeluarkan dari racikan. Tentang polifarmasi, peresepan berbagai jenis obat sekaligus disarankan untuk diwaspadai dan tak bisa dianggap sepele.
"Tidak mustahil ada interaksi antarjenis obat yang justru akan merugikan pasien. Sebagai contoh, ada orang yang kemampuan untuk memetabolisme obat amat cepat, tapi ada juga orang yang kemampuan metabolismenya amat lambat. Kedua kelompok tersebut tidak begitu saja bisa diberikan obat dengan dosis yang sama. Pada kelompok metabolisme lambat, dosis beberapa jenis obat harus diturunkan karena dapat menimbulkan efek toksik. Di era personalized medicine, pemberian obat harus sangat mempertimbangkan faktor-faktor biologis individu agar obat yang diberikan tidak mencelakakan pasien" kata Prof Iwan. (Sumber: kompas.com)