Kamis, 24 Maret 2011

Mengelola Hati untuk Memperoleh Kesabaran

Laksana hujan ditahun ini, bencana datang silih berganti seakan tak mau pergi dan tak juga akan berhenti. Ada gunung meletus, banjir lahar panas, lahar dingin, banjir bandang, angin putting beliung, gempa bumi disertai tsunami dan kebocoran reaktor nuklir di Jepang sampai kepada banyaknya korban akibat kerusuhan dibeberapa negara di Timur Tengah yang mayoritas berpenduduk muslim. Bencana-bencana dahsyat seperti ini sudah tentu menimbulkan kengerian dan kecemasan kepada orang-orang yang mengalaminya dan juga kita yang menyaksikannya lewat berita. Kita takut bahwa musibah atau bencana itu suatu saat mungkian dapat menimpa diri kita.

Rasa cemas dan takut ini memang rasa yang selalu ada dalam diri manusia, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah (2): 155

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Sekarang bagaimana cara mengelola diri agar kita termasuk orang-orang yang sabar. Sabar dalam menghadapi musibah atau cobaan, sabar dalam menjalani hidup dan kehidupan kita. Ibarat perhiasan dunia, sabar adalah mutiara, aset yang paling berharga karena ia merupakan bagian terpenting dari ketakwaan. Ibnu Qoyyim (semoga Alloh meridhoi), mengatakan: Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh, apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan.

Manusia yang mempunyai sifat sabar, akan memperoleh keuntungan yang sangat besar dalam hidupnya.

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.“ (Fushilat (41): 35)

Mengelola kesabaran dalam hidup berarti mengelola hati dalam diri kita. Karena jika hati dikelola dengan baik, maka baiklah seluruh perbuatan manusia, dan sebaliknya jika hati kita rusak, maka rusaklah seluruh amal perbuatan kita. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah saw dalam sebuah hadist.

Maka bagaimana cara mengelola dan memperlakukan hati, agar hati kita terpenuhi dengan sifat sabar. Prof. DR. Quraish Syihab dalam Tafsir Al Misbah, Beliau mengatakan, hati manusia itu laksana sumur, jika kita ingin makin memperdalam isinya dan memperbesar sumber air yang keluar dari dalam tanahnya, maka terus gali dan buanglah segala kotoran yang ada di dalamnya, seperti batu-batu, tanah dan pasir-pasir.

Demikian juga dengan hati manusia, jika ia menginginkan sifat-sifat baik dalam hatinya seperti keikhlasan dan kesabaran, maka buanglah sifat-sifat jahat yang ada dalam hatinya, seperti kesombongan, kemalasan dan lain-lain. Beruntunglah orang-orang telah memperoleh kesabaran dalam hidupnya, Alloh swt telah menjanjikan banyak pahala, banyak balasan yang akan diperoleh oleh orang-orang yang sabar, diantaranya sabar akan dapat menolong manusia.

“ Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk” (Al Baqarah (2): 45).

Menjadi orang yang sabar memang sulit, apalagi ketika musibah atau cobaan yang menimpa diri kita merupakan cobaan yang menurut kita sangat berat. Tetapi percayalah, Alloh swt itu Maha Penyayang kepada umat-Nya. Maka segala yang diberikan-Nya kepada manusia, adalah hal terbaik yang dibutuhkan oleh manusia. Mungkin kita belum menyadari, bahwa musibah dan cobaan yang Alloh berikan kepada kita, itu semua demi kebaikan diri kita kelak.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Alam Nasyrah (As Syarah) (94): 5 – 6.

Dalam ayat di atas, ada ayat diulang sampai dua kali, jika kita pahami benar, Alloh ingin menegaskan bahwa jika ada satu kesulitan maka Alloh berikan dua kemudahan. Jika ada satu musibah, maka akan datang dua keuntungan. Wallahu a’lam bishawab.

Senin, 21 Maret 2011

Kala Terik di Jalan Rincik Bumi



Matahari tak dapat ku lihat dengan jelas. Bersembunyi dibalik silau cahayanya. Teriknya seakan-akan menusuk tajam dahi ini. Peluh memenuhi wajah, turun lewat dinding-dinding leher lalu membasahi baju seragam putih abu-abuku, ketika kakiku menapaki Jalan Rincik Bumi yang tenang. Jalan Rincik Bumi adalah tujuan akhir dari sebuah rutinitas perjalananku setelah melewati jalan-jalan mulus beraspal dalam naungan rindangnya pohon-pohon yang lebat di lingkungan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung – kini UPI. Perjalanan yang mendaki seolah-olah ingin menjelaskan apa yang saat ini sedang aku jalani, sebuah perjuangan. Ya…perjuangan yang sangat melelahkan, menguras seluruh fikiran dan menguji segala kemampuan. Dan itu semua harus ku jalani agar impian dan harapan dapat terwujud, sebagai bhakti kepada orang-orang yang paling berjasa dan paling ku hormati dalam perjuanganku ini, yakni kedua orang tuaku.
Ibarat kawah Candradimuka dalam cerita dunia pewayangan, sekolah yang terletak di jalan Rincik Bumi yang sederhana inilah aku digodok untuk memperoleh ‘kesaktian’, sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan yang sesungguhnya kelak.  Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun kulalui perjuangan ini. Kadang dengan gelak tawa, kadang dengan senyum, sering juga ku lalui dengan tangis & rintihan. Untuk sementara, aku rela meninggalkan kampung halamanku yang indah, meninggalkan orang tua & saudara-saudaraku tercinta di sana, demi keberhasilan perjuangan ini. Tinggalkan keluh kesah, buang jauh-jauh rasa bermalas-malasan dan singkirkan kesedihan & kemanjaan, karena.....karena ternyata aku tidak sendirian di sini. Ada banyak teman-temanku, yang lebih tepat aku sebut mereka sebagai saudara-saudaraku, dari berbagai penjuru mata angin; Bandung, Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Subang, Sukabumi, Bogor, Pandeglang, Jakarta, Karawang, Indramayu, Cirebon, Padang, Belitung dan Kalimantan, yang juga punya tekad dan semangat yang sama dalam perjuangan ini. Dari sinilah benih-benih persaudaraan tumbuh diantara aku dan mereka. Di sinilah ikatan-ikatan emosional menyatukan diriku dengan mereka, lewat tugas-tugas bersama, lewat kedekatan tempat kost atau kegiatan luar lainnya. Ditambah dengan bangunan dan halaman sekolah yang sempit, yang justru memberikan manfaat sosial yang besar bagi seluruh penghuninya, interaksi antar individu yang efektif; sesama siswa, siswa-guru dan siswa-pegawai sekolah lainnya. Banyak kenangan indah yang terajut dan membekas hingga kini, dan sepertinya akan menjadi kenangan terindah dalam kehidupanku.
           Ruang laboratorium/praktek resep adalah yang paling mudah diingat. Wadah-wadah kaca yang disimpan pada lemari-lemari yang menempel pada dinding seluruh ruangan, berjejer sangat rapi. Wadah-wadah itu berisi bahan-bahan obat yang akan kami gunakan setiap praktek resep, ada Acidum Acetyl Salicylicum, Acidum Boricum, Iodochloroxyquinolinum, Vaselim Album/Flavum, Adeps Lanae dan banyak lagi. Kalau obat-obat itu kosong, Pak Saman yang ada di pojok ruangan, dengan senyumnya yang khas selalu siap membantu.
         Walau telah sekian tahun berlalu, aku tak pernah lupa Jalan Rincik Bumi yang indah ini. Jalan yang akhirnya menempatkan aku pada kondisi kehidupan sebenarnya saat ini, dan rasanya baru kemarin sore aku meninggalkannya. Terima kasihku yang teramat tulus terutama kepada guru-guru kami tercinta yang masih dapat ku ingat: Pak Zainal Alim, Pak Paryoto, Pak Suganda, Pak E Kusmar, Pak Ricky Arsamanggala, Pak Buloh M., Bu Fatimah, Bu Ety, Pak Murtjana, Pak Abdul Fatah, Pak Soeroso dan lain-lain. Semoga Alloh swt memberikan pahala atas jasa-jasa ilmu yang telah aku dapatkan saat ini.

Sabtu, 19 Maret 2011

Semula dari Forum Penghujat Islam, Kini Ia Gabung Grup Mualaf, Facebook

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Bertahun-tahun yang lalu, William Junaedi menganggap semua agama sama, yang membedakan hanyalah nama-nama Nabi sebagai utusan Tuhan. Namun kelak, pandangan itu berubah sepenuhnya ketika ia mulai bergaul dengan internet.

Pada tahun 2008, lelaki berdarah Cina-Betawi itu berhenti dari tempat kerjanya. Ia membeli sebuah komputer dan melanggan internet.

"Ketika sedang menganggur, sehari-hari saya hanya bermain internet. Browsing sana-sini, mencari tahu segala hal yang belum saya ketahui," tutur Wiliam.

Hingga suatu hari ia menemukan satu laman yaitu forum kumpulan orang non-Muslim. Dalam forum itu, mereka menjelek-jelekan agama Islam.

Beberapa minggu William aktif memantau forum tersebut. Isinya hanyalah hujatan dan caci maki terhadap agama Islam. Penghuni forum itu menampilkan diri seolah-olah mengetahui dan paham betul mengenai sejarah Islam, Al-quran beserta hadist yang menurut mereka sangat tidak masuk akal.

Ketika membaca postingan penuh hujatan terhadap Islam, William menggeleng-gelengkan kepala. "Apa benar yang mereka bicarakan? Saya pun menjadi semakin penasaran ingin mengetahui kebenarannya.” lanjut pria berusia 29 tahun itu.

Akal sehat William tak bisa menerima komentar-komentar kasar dari anggota forum yang ia nilai sangat mengintimidasi dan melecehkan. William pun melakukan pencarian. Saat itu ia mendapat info alamat email sebuah live chat perdebatan mengenai Islam. Ternyata di sana jauh lebih parah.

Salah satu admin live chat, tutur William, mengatakan mereka telah menemukan satu hadist yang menceritakan bahwa Nabi dulu pernah melakukan perbuatan asusila terhadap Abu Sofyan saat masih kecil, "Disebutkan pula bahwa Nabi pernah tidur dengan mayat. Kami memperdebatkan itu semua," kata si bungsu dari 5 bersaudara ini.

Satu tahun lebih William mengikuti debat di live chat. Berbarengan dengan itu, toko milik kakaknya bangkrut. William beserta keluarga akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta. Berbeda saat memantau forum non-Muslim, kali ini kata-kata di live-chat itu merasuk ke hatinya.

Ketika pindah ke Jakarta, William berada dalam fase ‘kebencian tingkat tinggi’ terhadap Islam. Sampai-sampai ia selalu berdebat dengan kakak iparnya yang Muslim.

“Setiap hari saya mendebat kakak ipar saya, mengapa Islam begini? Mengapa Islam begitu?. Kakak ipar William, menurut dia, sampai terlihat dilema dan kesulitan dengan kelakuannya yang selalu mendebatnya tiada henti.

Namun William berhenti juga mendebatkan Islam dan memilih memelajari Kristen yang sudah lama ia anut. Ia berharap dengan mengetahui Kristen lebih dalam ia dapat menemukan jawaban atas semua kebenaran Tuhan. Tetapi, William mengaku tak mendapat apapun.

“Awalnya saya ingin memperdalam ilmu agama saya, tetapi apa yang saya peroleh? Semua nihil. Saya tidak mendapat jawaban yang masuk akal dari agama saya sebelumnya," ujar William. "Saat membaca alkitab saya hanya merasa seperti membaca novel, tidak ada yang spesial” ungkap William.

Kebimbangan dengan agamanya justru mendorong William mencari tahu Islam lebih lanjut. Dj sisi lain ia juga tertarik dengan Muslimah berjilbab dan mengunduh foto-foto wanita berkerudung serta menyimpannya dalam satu folder. Keisengannya itu ternyata diketahui oleh kakak iparnya.

“Saat itu kakak ipar saya bongkar-bongkar komputer, dia menemukan folder koleksi foto wanita berkerudung yang saya miliki," tutur William. Kontan kakak ipar William pun menanyakan perihal itu kepadanya. "Tapi saat itu saya membantahnya," kenang William

Ketika mengingat forum ‘non-Muslim’, William terbersit untuk mencari forum Muslim. Ia menemukan satu chatt room khusus pemeluk Islam, bernama ‘café Islam’. Di dalam forum itu ia banyak bertanya mengenai agama Islam. Hingga William memutuskan bertemu salah satu anggota chatt room untuk berbagi langsung.

“Berbeda dengan forum non-Muslim yang saya temukan sebelumnya, di ‘café Islam’ tidak ada makian kasar untuk agama non-muslim” cerita William

Pertemuan William dengan salah satu anggota ‘café Islam’ membuatnya terkesan. Anggota itu juga memberikan sebuah buku kepada William, berjudul “Saksikan Aku Sebagai Muslim”.

“Saya senang dengan pertemuan itu, berbincang dengan orang Islam yang membuat saya semakin tertarik dengan Islam," akunya "Ditambah lagi, dia memberikan saya buku. Walaupun pada saat itu saya kebingungan menyimpannya. Karena takut ketahuan orang di rumah” tutur William.

Usai pertemuan itu William kian intens mendalami Islam, hingga muncul keinginan untuk memeluk Islam. Dorongan itu kian kuat ketika ia--yang mulai sering melamun di atas rumahnya--mendengar suara orang mengaji. Di kuping William, suara itu terdengar merdu. Saat itu pula terbesit di benak William untuk berdoa kepada Allah.

“Suara lantunan ayat Al Qur'an itu terdengar sangat berirama dan enak sekali di dengarnya," ungkap William. Ia tak pernah mendengar semacam itu di agamanya." Saya pun langsung berdoa dalam hati ‘ya Tuhan, kalau memang ini Agama yang benar dan merupakan karuniamu tolong dekatkan aku dengan Islam, jika bukan maka jauhkanlah” kenang William

Beberapa waktu setelah itu, William membuat sebuah akun Facebook, di sana ia bergabung dengan group ‘Mualaf Indonesia’. Lagi-lagi ia banyak menanyakan mengenai Islam dan mengutarakan keinginannya untuk memeluk Islam

“Awalnya saya berpikir, lucu juga kalau muka Cina seperti saya pakai kopiah. Tapi ternyata di Mualaf Indonesia banyak orang-orang seperti saya (Cina-red) dan mereka memeluk Islam. Saya jadi tak merasa asing,” tuturnya

Keinginan William masuk Islam mendapat sambutan hangat dari anggota grup Mualaf Indonesia. Akhirnya, pada tanggal 13 September 2009, William di-Islamkan oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan melakukan khitan pada 5 November 2009.

Resmi menjadi Muslim, William menceritakan keputusan besar itu kepada orang tua. Saat itu, ibu William marah besar dan mogok bicara dengan William. Sementara ayahnya lebih membebaskan William memilih.

“Mama tidak mau bicara sama saya, terlihat sekali kalau mama kecewa," tutur William. Ayahnya tidak melarang, karena ayah William rupanya pernah menjadi seorang muslim. "Tetapi lantaran tidak ada yang membimbingnya akhirnya ia menjadi murtad” kata William

William mengaku berat ketika keputusannya tidak disetujui oleh sang ibu. Tapi William tak berputus asa. Saat hubungan dengan ibunya menegang, William mengambil wudhu dan berdoa kepada Allah agar membukakan pintu hati ibunya.

Doa yang dipanjatkan William ternyata dijabahi Allah. Hanya dua hari berselang, ibunya tak sanggup lagi mogok bicara dengannya. Akhirnya ibu dan anak itu pun berbicara dari hati ke hati dan ibunya pun menerima keputusan William.

“Setelah mama bisa menerima saya sebagai seorang muslim saya menjadi lega, meski banyak teman-teman saya yang juga keturunan Cina mengucilkan dan memutuskan silaturahmi dengan saya.” ujar William Walaupun ada yang tak menyukai keputusan William, tak lantas mengendurkan semangatnya untuk mempelajari Islam.

Setelah memeluk agama Islam, William kian merasakan kedekatan Allah terhadap dirinya. Ia mengaku menjadi Muslim itu nikmat. “Yang paling luar biasa, ketika shalat berjamaah dimasjid. Semua orang Muslim, mulai pedagang, pegawai bahkan pejabatpun shalat berdampingan tanpa ada perbedaan,” ujar William

Tak lama setelah ia menjadi Muslim, ia merasa kian mendapat banyak berkah. William mendapat panggilan kerja di salah satu SMA Negeri di Jakarta sebagai guru bahasa Inggris.

“Memang Allah tak pernah tidur, ia akan menolong setiap umatnya yang membutuhkannya. Kita hanya perlu berdoa dan bersabar. Sama seperti saya yang harus berdoa dan bersabar demi menemukan agama yang benar” tuturnya.

Saat ini William terus mempelajari Islam. Ditemani salah satu rekan kerjanya, William aktif mengikuti kegiatan pengajian yang ada di masjid-masjid.

Kamis, 17 Maret 2011

Agar Kita Tidak Merugi Hidup di Dunia

‘Waktu adalah uang’ begitu bunyi pepatah yang sering kita dengar. Padahal pepatah ini sebenarnya hanya layak diucapkan oleh orang-orang hedonist. Tetapi ada benang merah yang dapat kita tarik dari pepatah tersebut dan itu sangat mewakili sifat manusia pada umumnya yaitu: semua orang tidak ada yang mau merugi. Berbagai hal yang dilakukan oleh manusia; perniagaan, karir, status sosial dan sebagainya tidak ada yang mau merugi. Bahkan saat ini sudah lazim kita mengatakan, bahwa yang disebut kerugian selalu identik dengan kerugian harta benda (perniagaan). Contoh yang sering kita dengar atau lihat misalnya: kerugian (tidak memperoleh laba) karena salah dalam mengelola perusahaan/perdagangan, kerugian harta benda karena bencana alam/kebakaran, kerugian karena pangkat/jabatannya tidak pernah naik, dan lain sebagainya.

Tetapi benarkah pada hakikatnya manusia rugi karena tidak memperoleh untung dalam perdagangan? Atau manusia rugi karena terkena bencana alam atau kecelakaan? Atau manusia rugi karena status sosial dan jabatannya tidak pernah naik?

Bagaimana kalau waktu, dimana kondisi perdagangan kita mengalami kerugian dapat kita putar kembali? Misalnya perdagangan kita mengalami kerugian pada tahun 2010, lalu tahun 2010 itu kita putar kembali. Niscaya kita akan dapat memperbaiki kinerja perusahaan kita sehingga akan diperoleh laba atau keuntungan. Maka dalam kasus ini, pada hakikatnya kita tidak rugi karena tidak memperoleh laba, tetapi rugi karena kita tidak dapat memutar kembali waktu dimana kita memperoleh kerugian materi. Karena kalau kita dapat memutarnya kembali, kita akan kelola perusahaan kita lebih baik dari sebelumnya. Begitu juga pada kerugian-kerugian lainnya.

Oleh karena itu, mengapa Alloh swt, Tuhan Sang Maha Pencipta, telah bersumpah demi waktu dal Surah Al Ashr (103): 1 – 3:

Artinya: Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati dalam kebenaran dan nasihat menasihati dalam kesabaran.

Dalam ayat itu Alloh berumpah demi masa/waktu, sebagian ahli tafsir mengartikan sebagai waktu ashar, yaitu waktu dimana sebagian besar orang telah merampungkan segala urusan pekerjaannya dan bersiap pulang menjelang maghrib, atau dengan mengartikan waktu ashar adalah waktu udzur bagi manusia menjelang ajalnya. Inilah lazimnya waktu-waktu dimana manusia baru menyadari kelalaiannya, kekurangannya dan segala kerugian-kerugiannya.

Maka Alloh swt yang Maha Penyayang kepada manusia, telah memerintahkan kepada kita semua, untuk memanfaatkan waktu yang telah diberikan-Nya sesuai tuntunan dan perintah-Nya, sehingga kita tidak menjadi orang-orang yang rugi.

Ada 4 hal yang harus kita jalankan semua supaya hidup kita tidak merugi apapun kegiatan atau profesi kita, apakah sebagai wiraswasta, sebagai abdi masyarakat, karyawan, pegawai sosial, dll.. Jika salah satu dari 4 hal tersebut tidak kita jalankan, maka kita tetap dalam kerugian. Apalagi kalau keempatnya tidak ada yang dijalankan, analoginya dalam dunia perdagangan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang pailit/bangkrut usahanya..

Keempat hal tersebut seperti dalam Surat Al Ashr adalah:

  1. Orang-orang yang beriman
  2. Orang-orang yang mengerjakan perbuatan baik (amal saleh).
  3. Orang-orang yang nasihat menasihati dalam kebenaran.
  4. Orang-orang yang nasihat menasihati dalam kesabaran.

Maka jika kita sebagai abdi masyarakat, tetapi dalam melayani masyarakat kita sesuai dengan perintah-perintah Alloh sebagai wujud keimanan kita misalnya jujur dan amanah, maka berkurang 1 kerugian kita. Kalau apa yang telah kita raih saat ini dengan ikhlas mampu memberikan manfaat untuk orang atau makhluk lain, maka berkurang kembali kerugian kita. Maka jika mampu melaksanakan poin 3 dan 4 yaitu selalu saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran, insya Alloh kita bukan termasuk orang-orang yang rugi dalam hidup kita.

Selasa, 15 Maret 2011

‘Kalah’ Melawan Al Qur’an, Dr Jeffrey Lang Menerima Islam

Republika.co.id.

Sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, saat keduanya berjalan bersama anjing peliharaan mereka di pantai. Bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, sebuah SMA Katholik, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinan akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun.

Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga akhirnya memeluk Islam.

Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu:

Kami berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu.

Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu.

Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.

Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang beberapa kali mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, dan karenanya ia tak peduli kendati mimpi itu berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun tak lama kemudian menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati tak sedang berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai membuka-buka Alquran dan membacanya. Saat itu kepalanya dipenuhi berbagai prasangka.

“Anda tak bisa hanya membaca Alquran, tidak bisa jika Anda tidak menganggapnya serius. Anda harus, pertama, memang benar-benar telah menyerah kepada Alquran, atau kedua, ‘menantangnya’,” ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah pergulatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara langsung, personal. Ia (Alquran) mendebat, mengkritik, membuat (Anda) malu, dan menantang. Sejak awal ia (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di wilayah yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergulatan). Dari situ menjadi jelas bahwa Sang Penulis (Alquran) mengetahui saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran selalu jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus aral yang telah saya bangun bertahun-tahun lalu dan menjawab pertanyaan saya.” Jeffrey mencoba melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Saat itu awal 1980-an dan tak banyak Muslim di kampusnya, University of San Fransisco. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement sebuah gereja di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.

Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia mendapati dirinya mengucap syahadat. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba dan ia pun diundang untuk berpartisipasi. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah.

Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.

“Saat saya melihat ke depan, saya bisa melihat Ghassan, di sisi kiri saya, di tengah-tengah, di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain merah.”

“Mimpi itu! Saya berteriak dalam hati. Mimpi itu, persis! Saya telah benar-benar melupakannya, dan sekarang saya tertegun dan takut. Apakah ini mimpi? Apakah saya akan terbangun? Saya mencoba fokus apa yang terjadi untuk memastikan apakah saya tidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. Ya Tuhan, ini nyata! Lalu rasa dingin itu hilang, berganti rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.”

Ucapan ayahnya sepuluh tahun silam terbukti. Ia kini berlutut, dan wajahnya menempel di lantai. Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT.

Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujar Jeffrey kini.

Jeffrey kini professor jurusan matematika University of Kansas dan memiliki tiga anak. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam.

Ia memiliki tiga anak, dan bukan sebuah kejutan anaknya memiliki rasa keingintahuan yang sama. Jeffrey kini harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama yang dulu ia lontarkan kepada ayahnya. Suatu hari ia ditanya oleh anak perempuannya yang berusia delapan tahun, Jameelah, usai mereka shalat Ashar berjamaah. “Ayah, mengapa kita shalat?”

“Pertanyaannya mengejutkan saya. Tak sangka berasal dari anak usia delapan tahun. Saya tahu memang jawaban yang paling jelas, bahwa Muslim diwajibkan shalat. Tapi, saya tak ingin membuang kesempatan untuk berbagi pengalaman dan keuntungan dari shalat. Bagaimana pun, usai menyusun jawaban di kepala, saya memulai dengan, ‘Kita shalat karena Tuhan ingin kita melakukannya’,”

“Tapi kenapa, ayah, apa akibat dari shalat?” Jameela kembali bertanya. “Sulit menjelaskan kepada anak kecil, sayang. Suatu hari, jika kamu melakukan shalat lima waktu tiap hari, saya yakin kami akan mengerti, namun ayah akan coba yang terbaik untuk menjawan pertanyaan kamu.”

Red: Johar Arif
Sumber: Islam.thetruecall.com