Kamis, 17 Maret 2011

Agar Kita Tidak Merugi Hidup di Dunia

‘Waktu adalah uang’ begitu bunyi pepatah yang sering kita dengar. Padahal pepatah ini sebenarnya hanya layak diucapkan oleh orang-orang hedonist. Tetapi ada benang merah yang dapat kita tarik dari pepatah tersebut dan itu sangat mewakili sifat manusia pada umumnya yaitu: semua orang tidak ada yang mau merugi. Berbagai hal yang dilakukan oleh manusia; perniagaan, karir, status sosial dan sebagainya tidak ada yang mau merugi. Bahkan saat ini sudah lazim kita mengatakan, bahwa yang disebut kerugian selalu identik dengan kerugian harta benda (perniagaan). Contoh yang sering kita dengar atau lihat misalnya: kerugian (tidak memperoleh laba) karena salah dalam mengelola perusahaan/perdagangan, kerugian harta benda karena bencana alam/kebakaran, kerugian karena pangkat/jabatannya tidak pernah naik, dan lain sebagainya.

Tetapi benarkah pada hakikatnya manusia rugi karena tidak memperoleh untung dalam perdagangan? Atau manusia rugi karena terkena bencana alam atau kecelakaan? Atau manusia rugi karena status sosial dan jabatannya tidak pernah naik?

Bagaimana kalau waktu, dimana kondisi perdagangan kita mengalami kerugian dapat kita putar kembali? Misalnya perdagangan kita mengalami kerugian pada tahun 2010, lalu tahun 2010 itu kita putar kembali. Niscaya kita akan dapat memperbaiki kinerja perusahaan kita sehingga akan diperoleh laba atau keuntungan. Maka dalam kasus ini, pada hakikatnya kita tidak rugi karena tidak memperoleh laba, tetapi rugi karena kita tidak dapat memutar kembali waktu dimana kita memperoleh kerugian materi. Karena kalau kita dapat memutarnya kembali, kita akan kelola perusahaan kita lebih baik dari sebelumnya. Begitu juga pada kerugian-kerugian lainnya.

Oleh karena itu, mengapa Alloh swt, Tuhan Sang Maha Pencipta, telah bersumpah demi waktu dal Surah Al Ashr (103): 1 – 3:

Artinya: Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati dalam kebenaran dan nasihat menasihati dalam kesabaran.

Dalam ayat itu Alloh berumpah demi masa/waktu, sebagian ahli tafsir mengartikan sebagai waktu ashar, yaitu waktu dimana sebagian besar orang telah merampungkan segala urusan pekerjaannya dan bersiap pulang menjelang maghrib, atau dengan mengartikan waktu ashar adalah waktu udzur bagi manusia menjelang ajalnya. Inilah lazimnya waktu-waktu dimana manusia baru menyadari kelalaiannya, kekurangannya dan segala kerugian-kerugiannya.

Maka Alloh swt yang Maha Penyayang kepada manusia, telah memerintahkan kepada kita semua, untuk memanfaatkan waktu yang telah diberikan-Nya sesuai tuntunan dan perintah-Nya, sehingga kita tidak menjadi orang-orang yang rugi.

Ada 4 hal yang harus kita jalankan semua supaya hidup kita tidak merugi apapun kegiatan atau profesi kita, apakah sebagai wiraswasta, sebagai abdi masyarakat, karyawan, pegawai sosial, dll.. Jika salah satu dari 4 hal tersebut tidak kita jalankan, maka kita tetap dalam kerugian. Apalagi kalau keempatnya tidak ada yang dijalankan, analoginya dalam dunia perdagangan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang pailit/bangkrut usahanya..

Keempat hal tersebut seperti dalam Surat Al Ashr adalah:

  1. Orang-orang yang beriman
  2. Orang-orang yang mengerjakan perbuatan baik (amal saleh).
  3. Orang-orang yang nasihat menasihati dalam kebenaran.
  4. Orang-orang yang nasihat menasihati dalam kesabaran.

Maka jika kita sebagai abdi masyarakat, tetapi dalam melayani masyarakat kita sesuai dengan perintah-perintah Alloh sebagai wujud keimanan kita misalnya jujur dan amanah, maka berkurang 1 kerugian kita. Kalau apa yang telah kita raih saat ini dengan ikhlas mampu memberikan manfaat untuk orang atau makhluk lain, maka berkurang kembali kerugian kita. Maka jika mampu melaksanakan poin 3 dan 4 yaitu selalu saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran, insya Alloh kita bukan termasuk orang-orang yang rugi dalam hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar