Senin, 21 Maret 2011

Kala Terik di Jalan Rincik Bumi



Matahari tak dapat ku lihat dengan jelas. Bersembunyi dibalik silau cahayanya. Teriknya seakan-akan menusuk tajam dahi ini. Peluh memenuhi wajah, turun lewat dinding-dinding leher lalu membasahi baju seragam putih abu-abuku, ketika kakiku menapaki Jalan Rincik Bumi yang tenang. Jalan Rincik Bumi adalah tujuan akhir dari sebuah rutinitas perjalananku setelah melewati jalan-jalan mulus beraspal dalam naungan rindangnya pohon-pohon yang lebat di lingkungan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung – kini UPI. Perjalanan yang mendaki seolah-olah ingin menjelaskan apa yang saat ini sedang aku jalani, sebuah perjuangan. Ya…perjuangan yang sangat melelahkan, menguras seluruh fikiran dan menguji segala kemampuan. Dan itu semua harus ku jalani agar impian dan harapan dapat terwujud, sebagai bhakti kepada orang-orang yang paling berjasa dan paling ku hormati dalam perjuanganku ini, yakni kedua orang tuaku.
Ibarat kawah Candradimuka dalam cerita dunia pewayangan, sekolah yang terletak di jalan Rincik Bumi yang sederhana inilah aku digodok untuk memperoleh ‘kesaktian’, sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan yang sesungguhnya kelak.  Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun kulalui perjuangan ini. Kadang dengan gelak tawa, kadang dengan senyum, sering juga ku lalui dengan tangis & rintihan. Untuk sementara, aku rela meninggalkan kampung halamanku yang indah, meninggalkan orang tua & saudara-saudaraku tercinta di sana, demi keberhasilan perjuangan ini. Tinggalkan keluh kesah, buang jauh-jauh rasa bermalas-malasan dan singkirkan kesedihan & kemanjaan, karena.....karena ternyata aku tidak sendirian di sini. Ada banyak teman-temanku, yang lebih tepat aku sebut mereka sebagai saudara-saudaraku, dari berbagai penjuru mata angin; Bandung, Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Subang, Sukabumi, Bogor, Pandeglang, Jakarta, Karawang, Indramayu, Cirebon, Padang, Belitung dan Kalimantan, yang juga punya tekad dan semangat yang sama dalam perjuangan ini. Dari sinilah benih-benih persaudaraan tumbuh diantara aku dan mereka. Di sinilah ikatan-ikatan emosional menyatukan diriku dengan mereka, lewat tugas-tugas bersama, lewat kedekatan tempat kost atau kegiatan luar lainnya. Ditambah dengan bangunan dan halaman sekolah yang sempit, yang justru memberikan manfaat sosial yang besar bagi seluruh penghuninya, interaksi antar individu yang efektif; sesama siswa, siswa-guru dan siswa-pegawai sekolah lainnya. Banyak kenangan indah yang terajut dan membekas hingga kini, dan sepertinya akan menjadi kenangan terindah dalam kehidupanku.
           Ruang laboratorium/praktek resep adalah yang paling mudah diingat. Wadah-wadah kaca yang disimpan pada lemari-lemari yang menempel pada dinding seluruh ruangan, berjejer sangat rapi. Wadah-wadah itu berisi bahan-bahan obat yang akan kami gunakan setiap praktek resep, ada Acidum Acetyl Salicylicum, Acidum Boricum, Iodochloroxyquinolinum, Vaselim Album/Flavum, Adeps Lanae dan banyak lagi. Kalau obat-obat itu kosong, Pak Saman yang ada di pojok ruangan, dengan senyumnya yang khas selalu siap membantu.
         Walau telah sekian tahun berlalu, aku tak pernah lupa Jalan Rincik Bumi yang indah ini. Jalan yang akhirnya menempatkan aku pada kondisi kehidupan sebenarnya saat ini, dan rasanya baru kemarin sore aku meninggalkannya. Terima kasihku yang teramat tulus terutama kepada guru-guru kami tercinta yang masih dapat ku ingat: Pak Zainal Alim, Pak Paryoto, Pak Suganda, Pak E Kusmar, Pak Ricky Arsamanggala, Pak Buloh M., Bu Fatimah, Bu Ety, Pak Murtjana, Pak Abdul Fatah, Pak Soeroso dan lain-lain. Semoga Alloh swt memberikan pahala atas jasa-jasa ilmu yang telah aku dapatkan saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar