Kamis, 24 Maret 2011

Mengelola Hati untuk Memperoleh Kesabaran

Laksana hujan ditahun ini, bencana datang silih berganti seakan tak mau pergi dan tak juga akan berhenti. Ada gunung meletus, banjir lahar panas, lahar dingin, banjir bandang, angin putting beliung, gempa bumi disertai tsunami dan kebocoran reaktor nuklir di Jepang sampai kepada banyaknya korban akibat kerusuhan dibeberapa negara di Timur Tengah yang mayoritas berpenduduk muslim. Bencana-bencana dahsyat seperti ini sudah tentu menimbulkan kengerian dan kecemasan kepada orang-orang yang mengalaminya dan juga kita yang menyaksikannya lewat berita. Kita takut bahwa musibah atau bencana itu suatu saat mungkian dapat menimpa diri kita.

Rasa cemas dan takut ini memang rasa yang selalu ada dalam diri manusia, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah (2): 155

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Sekarang bagaimana cara mengelola diri agar kita termasuk orang-orang yang sabar. Sabar dalam menghadapi musibah atau cobaan, sabar dalam menjalani hidup dan kehidupan kita. Ibarat perhiasan dunia, sabar adalah mutiara, aset yang paling berharga karena ia merupakan bagian terpenting dari ketakwaan. Ibnu Qoyyim (semoga Alloh meridhoi), mengatakan: Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh, apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan.

Manusia yang mempunyai sifat sabar, akan memperoleh keuntungan yang sangat besar dalam hidupnya.

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.“ (Fushilat (41): 35)

Mengelola kesabaran dalam hidup berarti mengelola hati dalam diri kita. Karena jika hati dikelola dengan baik, maka baiklah seluruh perbuatan manusia, dan sebaliknya jika hati kita rusak, maka rusaklah seluruh amal perbuatan kita. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah saw dalam sebuah hadist.

Maka bagaimana cara mengelola dan memperlakukan hati, agar hati kita terpenuhi dengan sifat sabar. Prof. DR. Quraish Syihab dalam Tafsir Al Misbah, Beliau mengatakan, hati manusia itu laksana sumur, jika kita ingin makin memperdalam isinya dan memperbesar sumber air yang keluar dari dalam tanahnya, maka terus gali dan buanglah segala kotoran yang ada di dalamnya, seperti batu-batu, tanah dan pasir-pasir.

Demikian juga dengan hati manusia, jika ia menginginkan sifat-sifat baik dalam hatinya seperti keikhlasan dan kesabaran, maka buanglah sifat-sifat jahat yang ada dalam hatinya, seperti kesombongan, kemalasan dan lain-lain. Beruntunglah orang-orang telah memperoleh kesabaran dalam hidupnya, Alloh swt telah menjanjikan banyak pahala, banyak balasan yang akan diperoleh oleh orang-orang yang sabar, diantaranya sabar akan dapat menolong manusia.

“ Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk” (Al Baqarah (2): 45).

Menjadi orang yang sabar memang sulit, apalagi ketika musibah atau cobaan yang menimpa diri kita merupakan cobaan yang menurut kita sangat berat. Tetapi percayalah, Alloh swt itu Maha Penyayang kepada umat-Nya. Maka segala yang diberikan-Nya kepada manusia, adalah hal terbaik yang dibutuhkan oleh manusia. Mungkin kita belum menyadari, bahwa musibah dan cobaan yang Alloh berikan kepada kita, itu semua demi kebaikan diri kita kelak.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Alam Nasyrah (As Syarah) (94): 5 – 6.

Dalam ayat di atas, ada ayat diulang sampai dua kali, jika kita pahami benar, Alloh ingin menegaskan bahwa jika ada satu kesulitan maka Alloh berikan dua kemudahan. Jika ada satu musibah, maka akan datang dua keuntungan. Wallahu a’lam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar