Kurang lebih 1400
tahun yang lalu, Nabi Muhammad saw dan para pengikutny yang setia melakukan
perjalanan hijrah dari kota Mekah ke Madinah. Peristiwa yang sangat penting
ini diabadikan menjadi awal penanggalan dalam
kalender Islam yang kita kenal sebagai tahun hijriyah.
Hijrahnya Nabi
Muhammad saw dan pengikutnya tidak untuk lari dari kenyataan atau
melepaskan tanggung jawab dari jalan dakwah, lebih dari itu hijrah dilakukan semata-mata karena bentuk
ketaatan kepada Allah swt. Peristiwa hijrah merupakan perjuangan maha berat bagi Nabi Muhammad saw dan
sahabat-sahabatnya. Dari segi emosional, mereka harus rela meninggalkan kampung halaman
yang sangat dicintainya serta tempat merajut masa-masa indah menjalani hidup, sedangkan dari segi fisik, mereka melakukan suatu perjalanan yang sangat melelahkan dengan bekal makanan yang kurang, turun naik bukit-bukit terjal berbatu serta melewati
padang pasir yang tandus yang terik terbakar matahari di siang hari dan menahan
dingin yang menusuk tulang di malam hari. Mereka semua meninggalkan kemapanan dan
kesenangan hidup di kota
Mekah. Mereka rela meninggalkan semuanya karena kesetiaan dan ketaatan kepada
pemimpinnya. Mereka meyakini, perintah hijrah merupakan jalan terbaik yang Allah swt
berikan kepada mereka, terbaik bagi kehidupan mereka dan paling penting terbaik
bagi kejayaan risalah Islam selanjutnya. Hijrah pastilah suatu strategi dan
pilihan yang sempurna bagi mereka.
Jika hijrah hanya
dimaknai sebagai suatu “relokasi secara fisik” semata, maka sungguh sangat
disayangkan. Maknai hijrah sebagai suatu perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku kita saat ini untuk menjadi lebih dan lebih
baik menurut pandangan Allah swt. Hijrah atau perubahan diri sejatinya
merupakan sesuatu yang kita butuhkan setiap saat, kapanpun dan apapun bidang dan profesi
kita saat ini. Karena jika kita tidak mau berubah, padahal di sekeliling kita
semuanya terus berubah, maka kita akan jauh tertinggal, semakin tidak dapat
bersaing dengan orang lain dan mungkin semakin tidak berkualitas. Tengoklah semua
yang ada dalam diri kita semuanya berubah; usia, mata, telinga, mulut, hidung,
rambut, fikiran bahkan apa yang ada dalam hati kita setiap saat terus berubah. Begitu
juga tuntutan hidup, pekerjaan bahkan tingkat keimanan juga sering berubah.
Sudah barang tentu
terjadinya perubahan dalam segala bidang, menuntut kita untuk mengimbangi
bahkan melebihi kualitas perubahan-perubahan yang terjadi. Tuntutan perubahan yang
lebih baik terhadap pekerjaan, harus diimbangi dengan semangat memiliki kompetensi sesuai
kualifikasinya misalnya dengan banyak berinovasi atau melalui pendidikan yang lebih tinggi,
godaan-godaan syahwat dunia yang makin merajalela menuntut kita untuk makin
memperkokoh keimanan dan ketakwaan kita. Maka perubahan-perubahan yang cepat
terjadi, menuntut pula kecepatan kita dalam mengantisipasi dan mengobati segala
perubahan yang terjadi. Dalam Surat Al Ashr Allah swt sudah menjelaskan
pentingnya memanfaatkan waktu untuk segala kebaikan, karena kalau tidak, walau
hanya satu detikpun kita tidak dapat mengulangi waktu yang telah berlalu.
Menyambut
tahun baru hijriyah, maknai sungguh-sungguh dengan berusaha membuang dua sifat
buruk manusia, yaitu:
- Tidak mau berubah, selalu merasa nyaman dalam kondisinya saat ini padahal di sekelilingnya menuntut adanya perubahan-perubahan.
- Selalu berubah-ubah, yaitu tidak dapat mempertahankan suatu keadaan yang sudah baik. Dengan kata lain, suatu kebaikan harus selalu dipertahankan dan ditingkatkan nilainya (istikomah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar