Jumat, 25 November 2011

Memaknai Tahun Baru Hijriyah

Kurang lebih 1400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad saw dan para pengikutny yang setia melakukan perjalanan hijrah dari kota Mekah ke Madinah. Peristiwa yang sangat penting ini diabadikan menjadi awal penanggalan dalam kalender Islam yang kita kenal sebagai tahun hijriyah.
Hijrahnya Nabi Muhammad saw dan pengikutnya tidak untuk lari dari kenyataan atau melepaskan tanggung jawab dari jalan dakwah, lebih dari itu hijrah dilakukan semata-mata karena bentuk ketaatan kepada Allah swt. Peristiwa hijrah merupakan perjuangan maha berat bagi Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabatnya. Dari segi emosional, mereka harus rela meninggalkan kampung halaman yang sangat dicintainya serta tempat merajut masa-masa indah menjalani hidup, sedangkan dari segi fisik, mereka melakukan suatu perjalanan yang sangat melelahkan dengan bekal makanan yang kurang, turun naik bukit-bukit terjal berbatu serta melewati padang pasir yang tandus yang terik terbakar matahari di siang hari dan menahan dingin yang menusuk tulang di malam hari. Mereka semua meninggalkan kemapanan dan kesenangan hidup di kota Mekah. Mereka rela meninggalkan semuanya karena kesetiaan dan ketaatan kepada pemimpinnya. Mereka meyakini, perintah hijrah merupakan jalan terbaik yang Allah swt berikan kepada mereka, terbaik bagi kehidupan mereka dan paling penting terbaik bagi kejayaan risalah Islam selanjutnya. Hijrah pastilah suatu strategi dan pilihan yang sempurna bagi mereka.
Jika hijrah hanya dimaknai sebagai suatu “relokasi secara fisik” semata, maka sungguh sangat disayangkan. Maknai hijrah sebagai suatu perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku kita saat ini untuk menjadi lebih dan lebih baik menurut pandangan Allah swt. Hijrah atau perubahan diri sejatinya merupakan sesuatu yang kita butuhkan setiap saat, kapanpun dan apapun bidang dan profesi kita saat ini. Karena jika kita tidak mau berubah, padahal di sekeliling kita semuanya terus berubah, maka kita akan jauh tertinggal, semakin tidak dapat bersaing dengan orang lain dan mungkin semakin tidak berkualitas. Tengoklah semua yang ada dalam diri kita semuanya berubah; usia, mata, telinga, mulut, hidung, rambut, fikiran bahkan apa yang ada dalam hati kita setiap saat terus berubah. Begitu juga tuntutan hidup, pekerjaan bahkan tingkat keimanan juga sering berubah.
Sudah barang tentu terjadinya perubahan dalam segala bidang, menuntut kita untuk mengimbangi bahkan melebihi kualitas perubahan-perubahan yang terjadi. Tuntutan perubahan yang lebih baik terhadap pekerjaan, harus diimbangi dengan semangat memiliki kompetensi sesuai kualifikasinya misalnya dengan banyak berinovasi atau melalui pendidikan yang lebih tinggi, godaan-godaan syahwat dunia yang makin merajalela menuntut kita untuk makin memperkokoh keimanan dan ketakwaan kita. Maka perubahan-perubahan yang cepat terjadi, menuntut pula kecepatan kita dalam mengantisipasi dan mengobati segala perubahan yang terjadi. Dalam Surat Al Ashr Allah swt sudah menjelaskan pentingnya memanfaatkan waktu untuk segala kebaikan, karena kalau tidak, walau hanya satu detikpun kita tidak dapat mengulangi waktu yang telah berlalu.
  Menyambut tahun baru hijriyah, maknai sungguh-sungguh dengan berusaha membuang dua sifat buruk manusia, yaitu:
  1. Tidak mau berubah, selalu merasa nyaman dalam kondisinya saat ini padahal di sekelilingnya menuntut adanya perubahan-perubahan.
  2. Selalu berubah-ubah, yaitu tidak dapat mempertahankan suatu keadaan yang sudah baik. Dengan kata lain, suatu kebaikan harus selalu dipertahankan dan ditingkatkan nilainya (istikomah).  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar