Kita semua sudah mengetahui, bahwa Alloh swt telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia adalah suatu produk kecerdasan yang luar biasa
dari Alloh swt.
Apakah ada kamera yang pernah dibuat oleh manusia yang
dapat bekerja sehebat mata manusia?. Apakah ada komputer yang pernah dibuat oleh
manusia di dunia ini yang dapat bekerja secanggih otak manusia?. Apakah ada
robot yang pernah dibuat oleh manusia yang punya kemampuan yang sama dengan kemampuan
manusia?
Tapi kesempurnaan itu tidak menjadi jaminan kemuliaan
manusia dari makhluk ciptaan Alloh swt lainnya, karena boleh jadi, manusia akan
berada pada derajat yang paling rendah diantara makhluk lainnya.
“Kemudian
Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. (At Tiin (95): 5)
Oleh karena itu, bagaimana caranya agar manusia
menjadi mulia dan tidak menjadi manusia yang rendah dan hina di hadapan Alloh
swt?
Dimana letaknya kemuliaan manusia…..?. Apakah
kemuliaan manusia ada karena pangkat dan jabatannya?. Apakah kemuliaan manusia
ada karena harta kekayaannya?. Apakah kemuliaan manusia ada karena
keturunannya?. Apakah kemuliaan manusia ada karena kepopulerannya?
Jawabannya adalah: apakah Firaun yang seorang raja,
lebih mulia dari Musa, apakah Abu Jahal yang kaya raya lebih mulia dari Bilal
yang seorang budak, dan banyak contoh-contoh lainnya.
Karena memang, kemuliaan manusia itu ada karena
takwanya kepada Alloh swt.
“ Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu”. (Al Hujurot (49): 13)
Adapun tanda-tanda manusia
yang takwa banyak dijelaskan dalam beberapa ayat Al Qur’an, yang intinya ada
dua syarat yaitu manusia yang beriman kepada Alloh swt dan manusia yang beramal soleh.
Iman kepada Alloh berarti
percaya kepada Alloh swt dengan segala ketaatannya. Sedangkan amal soleh
adalah pembuktian keimanan dan ketaatan kepada Alloh swt dalam kehidupan
sehari-hari. Apakah benar keiman kepada Alloh swt dapat dipraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi dengan sesama manusia dan
makhluk-makhluk lainnya. Mungkin kita termasuk orang-orang yang bohong, tidak
sempurna iman dan takwanya kepada Alloh, jika dalam kehidupan nyata, perilaku
kita tidak mencerminkan orang-orang yang beriman dan taat kepada Alloh
swt.
Amal soleh bisa juga dijelaskan sebagai, seberapa
besar hidup kita saat ini, dapat memberikan manfaat kepada manusia dan makhluk
lainnya. Bermanfaat saat di lingkungan pekerjaan. Bermanfaat untuk keluarga dan
kaum kerabat. Bermanfaat untuk tetangga dan lingkungannya.
Maka beruntunglah, orang-orang yang sudah beriman
kepada Alloh, lalu ia mampu beramal soleh, mampu memberikan manfaat untuk orang
lain. Tidak mau berbuat sesuatu yang dapat merugikan orang lain.
Karena, hanya ada satu permintaan manusia yang sudah
meninggalkan dunia ini, hanya satu permintaan dan tidak lebih, jika ia bisa
dikembalikan ke dunia ini walaupun sesaat…untuk apa? Apakah agar ia dapat
menemui istrinya yang cantik jelita?. Apakah agar ia dapat mengambil hartanya
atau dapat menduduki lagi jabatannya? Ternyata bukan itu, satu permintaan itu
adalah, agar ia dapat beramal sholeh.
“
Hingga apabila datang kematian kepada
seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke
dunia) agar
aku dapat beramal
sholeh yang telah
aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah alasan yang diucapkannya saja. Dan
di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”. (Al Mu’minun (23): 99 – 100)



