Sesungguhnya hidup ini dalam semua aspek kehidupannya adalah suatu pengorbanan. Seorang suami sebagai pencari nafkah bekerja membanting tulang dalam berbagai pekerjaan dan profesinya, adalah suatu pengorbanan. Seorang istri yang kadang-kadang dia sambil bekerja tetapi tetap bertindak dan bertugas sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi kebutuhan suami dan anak-anaknya, adalah juga suatu pengorbanan. Seorang anak bersekolah bekerja giat untuk meraih cita-citanya, juga suatu pengorbanan. Seorang pegawai atau karyawan, hormat dan melaksanakan perintah atasannya adalah juga dengan suatu pengorbanan. Seorang pemimpin, bekerja dan menghormati bawahannya adalah dengan pengorbanan.
Oleh karena hidup itu harus dengan pengorbanan, maka pengorbanan seperti apa yang harus kita lakukan, agar pengorbanan itu tidak sia-sia, agar pengorbanan itu diterima oleh Alloh swt, agar pengorbanan-pengorbanan itu dapat membahagiakan kita baik di dunia maupun di akhirat. Jawabannya tentu saja seperti yang Alloh tunjukkan pada kisah agung Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.
Dikisahkan, ada seorang ibu, Siti Hajar namanya, bersama seorang bayi yang masih kecil harus ditinggal oleh suaminya Ibrahim, disuatu tempat, Bakkah namanya, yang tidak ada tanda-tanda kehidupan, tanpa dibekali makanan dan minuman. Kekhawatiran dan ketakutan Siti Hajar beralasan, sebabnya adalah, disamping memang dia hanya berdua dengan anaknya Ismail yang masih bayi dan di daerah tersebut merupakan daerah gersang yang tidak nyaman untuk tempat tinggal, juga kepergian Ibrahim tidak jelas sampai kapan kembalinya. Maka sewaktu Ibrahim pergi, Siti Hajar bertanya,: “Wahai Ibrahim, apakah ini perintah Alloh?” Nabi Ibrahim hanya menoleh, dan dia melanjutkan jalannya. Siti Hajar pun mengejarnya, lalu bertanya lagi,: “Wahai Ibrahim apakah ini perintah Alloh?” Nabi Ibrahim-pun hanya menoleh lalu tetap berjalan. Siti Hajar mengejarnya lagi, lalu bertanya untuk yang ketiga kalinya, “ Wahai Ibrahim, apakah ini perintah Alloh?”, Ibrahim akhirnya menganggukkan kepalanya.
“ Dan (Ibrahim) berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.(As Shaffat (37): 99)
Ismail, adalah anak yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh Ibrahim. Maka tentu saja, bayi Ismail adalah bayi kesayangan orang tuanya. Dalam As Shaffat (37): 100-101, Ibrahim berdo’a kepada Alloh agar di anugerahkan seorang anak.
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”.
Sepeninggal Ibrahim, mulailah cobaan-cobaan dan kesulitan-kesulitan menghampiri Siti Hajar dan bayi kecilnya Ismail. Mulai dari terus-menerus menangisnya bayi Ismail karena air susu ibunya sudah habis, sedangkan disekitarnya sama sekali tidak ada air. Hingga Siti Hajar 7 kali berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwa naik-turun bukit yang terjal dan tandus itu. Jarak antara kedua bukit itu kurang lebih 450 meter. Singkatnya, setelah kelelahan mencari air tanpa hasil, atas izin Alloh swt, kaki bayi Ismail ketika menjejakkan kakinya ke tanah, lalu dari dalam tanah keluarlah air zam-zam hingga saat ini.
Ketika Ismail sudah agak besar (ada yg meriwayatkan 7 tahun dan ada yang meriwayatkan 13 Tahun), maka datanglah Ibrahim dari perjalanannya untuk menemui Siti Hajar dan Ismail. Pada seusia itu Ismail sudah mampu membantu ayahnya bekerja. Maka pada suatu hari, turunlah perintah Alloh swt kepada Ibrahim melalui mimpi agar ia menyembelih anaknya Ismail. Ibrahim sangat mempercayai bahwa mimpi itu benar-benar perintah Alloh SWT.
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash Shaaffaat ( 37): 102)
Tatkala keduanya telah berserah diri kepada Alloh swt, lalu Ibrahim membaringkan anaknya untuk disembelih, maka nyatalah kesabaran, kepasrahan dan ketaatan keduanya kepada Alloh swt.
“ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (As Shoffat (37): 103 – 106).
Itulah kisah singkat, contoh dari suatu pengorbanan yang tidaksia-sia, pengorbanan yang sangat berguna bagi keduanya dan keluarganya. Pengorbanan yang Alloh cinta, Alloh suka, yang Alloh ridho kepada keduanya. Inilah pengorbanan yang dilandasi karena kepasrahan kepada Alloh, pengorbanan yang dilandasi karena ketaatan kepada Alloh.
Maka jangan sampai, pengorbanan-pengorbanan yang kita lakukan selama ini, yaitu pengorbanan yang jauh-jauh lebih ringan dari pengorbanan yang telah dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim; seperti pengorbanan untuk keluarga, pengorbanan di masyarakat, pengorbanan di tempat tugas, di tempat pekerjaan dan lain-lain, semuanya hanya menjadi pengorbanan yang sia-sia, pengorbanan yang tidak mendapat nilai apa-apa dihadapan Alloh swt.
Maka peliharalah dua hal ini, dua hal yang dapat menjadikan hidup kita tidak sia-sia, dua hal yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Dua hal itu adalah sholat dan berkurban:
“ Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakan sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus” (Al Kautsar (108): 1-3).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar