Jumat, 27 November 2015

Hakikat Berkurban


Sesungguhnya hidup ini dalam semua aspek kehidupannya adalah suatu pengorbanan. Seorang suami sebagai pencari nafkah bekerja membanting tulang dalam berbagai pekerjaan dan profesinya, adalah suatu pengorbanan. Seorang istri yang kadang-kadang dia sambil bekerja tetapi tetap bertindak dan bertugas sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi kebutuhan suami dan anak-anaknya, adalah juga suatu pengorbanan. Seorang anak bersekolah bekerja giat untuk meraih cita-citanya, juga suatu pengorbanan. Seorang pegawai atau karyawan, hormat dan melaksanakan perintah atasannya adalah juga dengan suatu pengorbanan. Seorang pemimpin, bekerja dan menghormati bawahannya adalah dengan pengorbanan.

Oleh karena hidup itu harus dengan pengorbanan, maka pengorbanan seperti apa yang harus kita lakukan, agar pengorbanan itu tidak sia-sia, agar pengorbanan itu diterima oleh Alloh swt, agar pengorbanan-pengorbanan itu dapat membahagiakan kita baik di dunia maupun di akhirat. Jawabannya tentu saja seperti yang Alloh tunjukkan pada kisah agung Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.

Dikisahkan, ada seorang ibu, Siti Hajar namanya, bersama seorang bayi yang masih kecil harus ditinggal oleh suaminya Ibrahim, disuatu tempat, Bakkah namanya, yang tidak ada tanda-tanda kehidupan, tanpa dibekali makanan dan minuman. Kekhawatiran dan ketakutan Siti Hajar beralasan, sebabnya adalah, disamping memang dia hanya berdua dengan anaknya Ismail yang masih bayi dan di daerah tersebut merupakan daerah gersang yang tidak nyaman untuk tempat tinggal, juga kepergian Ibrahim tidak jelas sampai kapan kembalinya. Maka sewaktu Ibrahim pergi, Siti Hajar bertanya,: “Wahai Ibrahim, apakah ini perintah Alloh?” Nabi Ibrahim hanya menoleh, dan dia melanjutkan jalannya. Siti Hajar pun mengejarnya, lalu bertanya lagi,: “Wahai Ibrahim apakah ini perintah Alloh?” Nabi Ibrahim-pun hanya menoleh lalu tetap berjalan. Siti Hajar mengejarnya lagi, lalu bertanya untuk yang ketiga kalinya, “ Wahai Ibrahim, apakah ini perintah Alloh?”, Ibrahim akhirnya menganggukkan kepalanya.

Dan (Ibrahim) berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.(As Shaffat (37): 99)

Ismail, adalah anak yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh Ibrahim. Maka tentu saja, bayi Ismail adalah bayi kesayangan orang tuanya. Dalam As Shaffat (37): 100-101, Ibrahim berdo’a kepada Alloh agar di anugerahkan seorang anak.

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”.

Sepeninggal Ibrahim, mulailah cobaan-cobaan dan kesulitan-kesulitan menghampiri Siti Hajar dan bayi kecilnya Ismail. Mulai dari terus-menerus menangisnya bayi Ismail karena air susu ibunya sudah habis, sedangkan disekitarnya sama sekali tidak ada air. Hingga Siti Hajar 7 kali berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwa naik-turun bukit yang terjal dan tandus itu. Jarak antara kedua bukit itu kurang lebih 450 meter. Singkatnya, setelah kelelahan mencari air tanpa hasil, atas izin Alloh swt, kaki bayi Ismail ketika menjejakkan kakinya ke tanah, lalu dari dalam tanah keluarlah air zam-zam hingga saat ini.

Ketika Ismail sudah agak besar (ada yg meriwayatkan 7 tahun dan ada yang meriwayatkan 13 Tahun), maka datanglah Ibrahim dari perjalanannya untuk menemui Siti Hajar dan Ismail. Pada seusia itu Ismail sudah mampu membantu ayahnya bekerja. Maka pada suatu hari, turunlah perintah Alloh swt kepada Ibrahim melalui mimpi agar ia menyembelih anaknya Ismail. Ibrahim sangat mempercayai bahwa mimpi itu benar-benar perintah Alloh SWT.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,  insya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash Shaaffaat ( 37): 102)

Tatkala keduanya telah berserah diri kepada Alloh swt, lalu Ibrahim membaringkan anaknya untuk disembelih, maka nyatalah kesabaran, kepasrahan dan ketaatan keduanya kepada Alloh swt.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (As Shoffat (37): 103 – 106).

Itulah kisah singkat, contoh dari suatu pengorbanan yang tidaksia-sia, pengorbanan yang sangat berguna bagi keduanya dan keluarganya. Pengorbanan yang Alloh cinta, Alloh suka, yang Alloh ridho kepada keduanya. Inilah pengorbanan yang dilandasi karena kepasrahan kepada Alloh, pengorbanan yang dilandasi karena ketaatan kepada Alloh.

Maka jangan sampai, pengorbanan-pengorbanan yang kita lakukan selama ini, yaitu pengorbanan yang jauh-jauh lebih ringan dari pengorbanan yang telah dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim; seperti pengorbanan untuk keluarga, pengorbanan di masyarakat, pengorbanan di tempat tugas, di tempat pekerjaan dan lain-lain, semuanya hanya menjadi pengorbanan yang sia-sia, pengorbanan yang tidak mendapat nilai apa-apa dihadapan Alloh swt.
Maka peliharalah dua hal ini, dua hal yang dapat menjadikan hidup kita tidak sia-sia, dua hal yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Dua hal itu adalah sholat dan berkurban:


Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakan sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus” (Al Kautsar (108): 1-3).



Sabar dan Sholat Sebagai Penolong Manusia



Saat ini sangat kita rasakan, banyak sekali tuntutan-tuntutan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat primer seperti sandang (pakaian), pangan (makanan) & papan (rumah), tetapi juga tuntutan kebutuhan sekunder yang saat ini, sepertinya sudah menjadi kebutuhan primer, seperti alat komunikasi (HP), kendaraan, televisi dan lain-lain. Di luar itu, tentu masih dan masih sangat banyak kebutuhan-kebutuhan lainnya, misalnya saja biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, biaya-biaya untuk membayar listrik, telepon/HP, biaya rekreasi, biaya untuk perawatan tubuh dan lain-lain. Di samping itu, dengan makin meningkatnya sifat-sifat konsumerisme sebagai akibat dari terbukanya era komunikasi global, tuntutan hidup ini tidak hanya cukup sekedar dipenuhi saja,

  • Baju, tidak cukup hanya yang dapat menutup aurat saja, inginnya yang bagus, yang bermerk, yang mahal
  • Rumah, tidak cukup hanya sekedar dapat melindungi diri dari panas dan hujan, tetapi inginnya yang megah, yang indah, yang antik, ada taman-tamannya, ada kolam renangnya dan lain-lain
  • HP, kendaraan & televisi inginnya yang paling mahal atau yang paling bagus

Maka saat ini, kita seakan-akan selalu dikejar-kejar untuk dapat memenuhi segala keinginan dan kebutuhan hidup itu semua. Kita dituntut untuk terus dan terus bekerja dan berusaha lebih keras lagi. Kita dituntut untuk terus dan terus untuk meningkatkan karir agar penghasilan meningkat, untuk meningkatkan kualitas pekerjaan agar pendapatan bertambah. Maka tuntutan-tuntutan yang begitu besar untuk memenuhi segala kebutuhan hidup itu semua, seringkali membuat seseorang mudah tergelincir dan akhirnya masuk ke jalan yang bathil. Terperosok ke dalam satu situasi yang mengabaikan hukum-hukum Alloh. Yang pada akhirnya, manusia seperti ini tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup di dunia, tidak pernah merasakan kebahagiaan hidup di dunia.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan(Al Baqoroh (2): 155)

Dari ayat di atas, maka ketakutan, kelaparan & kekurangan harta itu adalah cobaan dari Alloh untuk manusia. Maka sampai kapanpun, jika itu namanya masih disebut sebagai manusia, akan selalu diberikan cobaan-cobaan oleh Alloh swt. Walaupun menurut dirinya, dia sudah mempunyai kekayaan yang dulu dia cita-citakan, walaupun menurut dirinya, dia sudah menduduki pangkat dan jabatan yang dulu dia perjuangkan, walaupun menurut dirinya, dia sudah mempunyai segala-galanya yang dulu dia ingin-inginkan.   

Oleh karena manusia ditakdirkan untuk selalu takut, selalu lapar dan selalu kurang dalam segala hal, maka Alloh swt Yang Maha Pengasih & Penyayang, yang telah menciptakan manusia, dengan kekurangannya itu, Dia (Alloh) pasti juga memberikan obat atau cara agar manusia bisa terhindar dari sifat-sifat buruknya tersebut, agar manusia bisa merasakan ketenteraman dalam hidupnya, agar manusia memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.
Inilah yang dibutuhkan oleh manusia yang menginginkan ketenteraman dan kebahagiaan dalam hidupnya. Inilah yang menolong manusia agar terhindar dari sifat-sifat buruknya.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya(Al Baqoroh (2): 45-46)

Sholat dan sabar, inilah dua hal yang dibutuhkan manusia dalam hidupnya.
Ada beberapa hal yang perlu kita maknai dari dua ayat tersebut di atas:

  1. Sholatlah yg khusu’ agar hasilnya, kita menjadi orang-orang yang sabar.
  2. Sholatlah dengan kesabaran, agar sholat kita menjadi khusu’ yang akhirnya seperti pada point di atas, yaitu menjadi orang yang sabar.
  3. Sabar dalam segala hal, berarti orang tersebut yakin akan pertolongan dan ketentuan Alloh. Maka kesabarannya itu akan makin mendekatkan dia kepada Alloh, salah satunya dia akan rajin sholat.

“ Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya (Al Furqon (25): 75)

Minggu, 12 April 2015

Hati yang Bersih





Kita adalah makhluk kecil, yang sangat lemah, sangat mudah tergoda dan terjerumus dalam dosa-dosa, suka berbuat dzolim kepada sesama manusia, suka merendahkan orang lain, suka berbuat maksiat, suka sombong dan merasa diri kita ini lebih baik dari orang lain, suka riya dan masih banyak dosa-dosa lainnya yang sering kita lakukan. Dosa dari mata kita, telinga kita, tangan kita, hati kita, mulut kita, perut kita, otak kita, hati kita.

Maka jika Engkau ya Alloh, ingin menghinakan diri ini, maka hinakan diri ini saat di dunia ini saja. Mungkin kita pantas dihinakan karena dosa-dosa yang kita lakukan. Biarlah diri ini hina dalam pandangan manusia. Mudah-mudahan kehinaan ini menjadikan kita mau mendekat kepada-Mu ya Alloh, mudah-mudahan kehinaan ini menjadi jalan taubat kepada-Mu ya Alloh, mudah-mudahan kehinaan ini menjadi jalan untuk memperbaiki diri ini dan menjadi jalan untuk hanya melakukan perbuatan yang baik saja.

Tapi aku memohon kepada-Mu ya Alloh, jangan Kau hinakan diri ini pada hari ketika manusia dibangkitkan. Hari dimana harta, jabatan, kedudukan, pangkat dan popularitas tidak lagi berguna dan tidak lagi bisa menolong atau bahkan sekedar meringankan. Hari dimana anak-anak laki-laki dan orang-orang yang selama ini bisa menjaga dan melindungi kita tidak lagi berguna dan tidak akan mampu menolong kita. Hari dimana rumah-rumah yang kuat, bangunan-bangunan dan benteng-benteng yang kokoh, tempat-tempat yang aman dan tersembunyi tidak akan lagi berguna dan tidak dapat lagi melindungi diri kita ini. Hari dibangkitkan merupakan hari perhitungan diri ini atas amal dan perbuatan kita ketika hidup di dunia. Maka masukkanlah diri ini di hari itu ya Alloh, ke dalam golongan orang-orang yang berhati bersih, yang berhati bersih, yang berhati bersih dan golongan orang-orang bertakwa.

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa.                (Asyu’ara (26): 87 – 90)

Sabtu, 13 Juli 2013

Penderita Diabetes, Hindari Makan Sayuran Ini



Tidak semua sayuran aman bagi penderita diabetes, terutama jenis sayuran yang mengandung pati. Sayuran jenis ini mudah dikenali karena rasanya yang manis contohnya kentang dan ubi. Biasanya makanan atau sayuran yang manis mengandung indeks glikemik yang tinggi, walaupun tidak selalu misalnya labu manis yang indeks glikemiknya rendah.

Indeks glikemik (glycemic index/GI) adalah ukuran kecepatan makanan diserap menjadi gula darah. Semakin tinggi indeks glikemik suatu makanan, semakin cepat dampaknya terhadap kenaikan gula darah. Untuk menentukan indeks glikemik suatu makanan, beberapa subyek manusia diberi porsi makanan tunggal, kemudian gula darah mereka diukur setelah waktu tertentu. Kurva respons yang dihasilkan dibandingkan dengan glukosa dan dinilai dalam angka. Glukosa murni memiliki indeks glikemik 100, dan semua makanan lain diukur relatif terhadapnya. Indeks glikemik di atas 70 termasuk tinggi, antara 56 s.d. 69 sedang, dan 55 ke bawah rendah.

Berikut ini makanan yang harus dihindari pasien diabetes, seperti dikutip dari Boldsky:

1. Akar Bit
Akar bit merupakan sayuran yang tumbuh di bawah tanah dan menyerap semua zat manis dari tanah. Akar bit memang punya banyak manfaat sehat. Namun jika Anda berniat mengurangi tingkat gula darah, sebaiknya saat makan makanan ini tidak lebih dari sekali seminggu.

2. Kacang-kacangan
Kacang tidak manis tapi merupakan makanan yang mengandung pati. Bukan berarti Anda tidak boleh sama sekali mengonsumsi makanan ini. Agar aman, makanlah kacang rebus atau panggang dan dalam porsi terbatas.

3. Tomat
Tomat memang buah, akan tetapi karena sering digunakan untuk memasak maka ada yang mengkategorikannya sebagai sayuran. Tomat mengandung asam sitrat yang pada dasarnya manis. Jika Anda adalah pasien diabetes, maka sebaiknya hindari tomat mentah dalam salad. Minimalkanlah juga penggunaan tomat saat memasak.

4. Jagung Manis
Jagung manis tidak hanya tersa manis tetapi juga merupakan makanan yang mengandung pati. Pasien diabetes diminta untuk menghindari makanan apapun yang terbuat dari jagung.

5. Bunga Pisang
Bunga pisang dan batang pisang kadang dimasak sebagai sayuran. Nah, ini perlu dikurangi konsumsinya oleh mereka yang memiliki diabetes, sebab bunga pisang sebagaimana buah pisangannya, manis dan mengandung pati.