Nabi Muhammad saw adalah tauladan
kita semua, apapun pekerjaan dan profesi kita. Keteladanan Beliau tak lekang
dimakan waktu. Sikap, sabda dan sifat Beliau menjadi nasihat dan pelajaran
hidup kita sepanjang masa. Beliau adalah contoh manusia yang sukses dunia dan
akhirat menurut pandangan Alloh swt.
Nabi Muhammad saw adalah contoh dan pemimpin kita semua; pemimpin umat, pemimpin agama, pemimpin negara, komandan perang, qadi (hakim), suami yang adil, ayah yang bijaksana, orang yang paling penyabar, pekerja keras dalam bekerja, mulai dari menjadi pelaksana sebagai penggembala kambing dan pedagang suruhan, lalu meningkat menjadi supervisor sampai menjadi manager (pemilik dan pengatur).
Pantaslah Alloh swt menyematkan pada
diri Beliau agar kita selalu menteladaninya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 2l).
Dikisahkan, pada bulan Rabiul Awwal di tahun wafatnya, Beliau berkeinginan mengirim seorang sahabatnya ke negeri Yaman untuk menyampaikan ajaran Islam. Setelah melalui proses yang panjang pilihan beliau pun jatuh kepada Mu'adz bin Jabal RA. Imam Malik dalam riwayatnya, mengisahkan, ketika itu Rasulullah mengantarkan kepergian Mu’adz sampai ke ujung Kota Madinah. Dalam perjalanan menjelang gerbang kota, Mu’adz berkata, “Wahai Rasulullah, apa nasihat Engkau padaku?” Rasulullah menjawab, “Bertakwalah kamu kepada Alloh SWT dalam kondisi apa pun!” “Apalagi ya Rasulullah?” kata Mu’adz Rasulullah menjawab, "Ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya!” Mu'adz kembali bertanya, “Apalagi, ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Bergaullah kamu dengan manusia dengan akhlak yang baik!”
Keteladanan Rasulullah saw pada
kisah di atas tergambar pada cara beliau memilih orang sebagai ulama, guru dan
pemimpin yaitu orang-orang yang mengerti terhadap Islam. Mu'adz adalah sahabat
Rasulullah saw yang paling memahami hukum syariah.
Kisah Mu'adz bin Jabal ini seakan
memperlihatkan pada kita bahwa Rasulullah ingin Islam ini kelak dipimpin dan
diajarkan oleh mereka yang mengerti Islam dan menjadi contoh rakyatnya dalam
kebaikan menjalankan syariah agama.
Sosok pemimpin dalam Islam, telah
digambarkan dalam Al Qur’an:
“Kami telah menjadikan mereka itu
sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah
Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat,
menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (QS. Al-Anbiya’(21): 73)
Ayat itu berbicara mengenai sosok ideal seorang pemimpin yang akan memberikan dampak kebaikan dalam kehidupan rakyat secara keseluruhan, seperti sosok yang ada pada para Nabi pilihan Alloh swt. Ayat ini merupakan landasan prinsip dalam mencari figur pemimpin ideal yang akan memberi dampak kebaikan dan keberkahan bagi rakyatnya dimanapun dan kapanpun.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, menuliskan, ciri utama pemimpin ideal seperti yang disebutkan pada ayat tersebut adalah bahwa para pemimpin ideal itu senantiasa mengajak rakyatnya kepada jalan Alloh swt dan memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari yaitu menegakkan shalat, menunaikan zakat dan semua yang dikerjakannya semata-mata karena iman kepada Alloh swt, jauh dari kepentingan politis maupun terpaksa karena jabatannya. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang bukan hanya tampil dalam urusan dunia, tetapi juga tampil di barisan terdepan dalam urusan agama. Dalam sejarah, kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat sesudahnya adalah, pemimpin di masa itu adalah juga menjadi pemimpin atau imam dalam shalat.
Islam adalah agama yang sempurna, sebagai karunia dan kasih sayang Alloh untuk manusia. Sempurna dalam memberikan dan mengatur arah kehidupan seluruh manusia, agar manusia memperoleh kebahagiaan dan selamat dunia akhirat. Islam secara jelas mengatur kehidupan manusia dari hal-hal kecil, misalnya tata cara masuk kamar mandi sampai hal-hal yang besar misalnya cara memilih pemimpin yang baik. Oleh karena itu sangat keliru kalau ada yang mau memisahkan Islam dengan politik kekuasaan.
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan
meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata
bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”
(An Nisa (4): 144)
Dalam ayat
lain Alloh berfirman:
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang
yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara
orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir
(orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul
orang-orang yang beriman.” (Al
Maidah (5): 57)
Dari dua ayat tersebut di atas,
sangat jelas bahwa kita umat Islam harus terlibat aktif dalam proses memilih
seorang pemimpin, dengan tidak memilih pemimpin dari kalangan orang-orang jahil
dan orang-orang kafir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar