Dopamin merupakan suatu neurotransmiter yang
dibentuk oleh tubuh anda melalui asam amino tirosin, yang banyak ditemukan pada
berbagai makanan kaya protein seperti daging dan keju. Dopamin merupakan
molekul penting untuk membentuk epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin
(noradrenalin).
Otak dan sistem saraf membutuhkan neurotransmiter untuk menyampaikan pesan
dalam bentuk impuls listrik ke seluruh bagian tubuh, untuk mengatur berbagai
fungsi tubuh.
Dopamin diproduksi di beberapa daerah otak,
termasuk substansia nigra dan daerah tegmental ventral.
Fungsi
Dopamin
Fungsi dopamin sangat banyak, itulah mengapa
neurotransmiter satu ini sangat terkenal dan banyak diteliti oleh para ilmuan.
Zat kimia satu ini bahkan disebut central powernya otak, tanpa dopamin manusia
akan menjadi seperti bukan manusia karena sebagian besar tindakan dan hubungan
interpersonal manusia dipengaruhi oleh zat ini.
Jika dirinci secara lebih
detail ada beberapa fungsi dopamin utama yang paling berpengaruh pada kehidupan
manusia diantaranya:
1. Fungsi Dopamin pada Pergerakan Struktur utama
di otak yang mengendalikan semua jenis gerakan tubuh adalah basal ganglia atau
inti basal. Supaya bagian ini bekerja dengan maksimal, ia akan sangat
bergantung pada sekresi dopamin dari neuron di sekitarnya. Bila dopamin yang
mencapai basal ganglia tidak mencukupi, maka fungsi gerakan akan menjadi lebih
lambat dan tidak terkoordinasi dengan baik. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan
penyakit parkinson. Lain halnya jika basal ganglia menerima terlalu banyak
dopamin dari neuron di sekitranya, akan terjadi kelebihan gerakan tubuh yang
tidak diperlukan. Gerakan di luar kendali secara tiba-tiba dan berulang ini
yang dikenal sebagai gejala sindrom Gilles de la Tourett atau sindrom Tourette.
2. Fungsi Dopamin dan Memori Fungsi perhatian dan
memori dibentuk di otak pada bagian prefrontal cortex atau otak bagian depan,
di bagian inilah fungsi dopamin memaksimalkan kerja memori. Tingkat paparan
dopamin pada bagian otak depan ini sangat presisi, sehingga sedikit saja
terjadi peningkatan dan penurunan dari jumlah normalnya akan menyebabkan
masalah pada ingatan. Oleh karena dopamin sangat mempengaruhi sistem kerja
memori, hal ini tentunya juga akan memengaruhi proses belajar dan penyimpanan
informasi. Ketika seseorang mengalami peristiwa atau pengalaman tertentu, dan
pada waktu yang bersamaan jumlah dopamin mencukupi, maka otak akan mengingatnya
dengan lebih baik. Namun sebaliknya, jika dopamin tidak tercukupi, maka akan
lebih sedikit memori yang tersimpan. Sebuah fakta juga mengungkap bawah dopamin
ini terletak pada bagian otak yang mengontrol perhatian atau interest, jadi
saat seseorang tidak tertarik pada suatu aktivitas atau pelajaran tertentu,
maka kadar dopamin pada prefrontal cortex akan turun. Jika hal ini terjadi maka
otak tidak akan termotivasi untuk mengingat fakta-fakta yang tersaji. Hal ini
sangat perlu dipahami oleh para guru yang ingin meningkatkan motivasi belajar
peserta didiknya. Menggunakan metode belajar yang lebih menarik dan
menyenangkan serta memberikan penghargaan dan pujian untuk meningkatkan
ketertarikan peserta didik sangat patut dicoba.
3. Fungsi Dopamin dan Fokus Dopamin juga dapat
meningkatkan fokus dan perhatian. Zat ini akan bekerja memengaruhi penglihatan
atau saraf optik, yang akan mengarahkan perhatian dan fokus pada satu tugas
atau aktivitas tertentu. Neurotransmiter ini juga diyakini bertanggung jawab
pada memori jangka pendek yang terjadi di prefrontal cortex yang berhubungan
dengan tingkat fokus. Ketika konsentrasi dopamin terlalu rendah, maka beberapa
masalah fokus dan perhatian akan terjadi, salah satunya adalah gangguan
pemusatan perhatian atau hiperaktivitas atau biasa disebut juga ADD (attention
deficit disorder).
4. Dopamin sebagai Pengatur Kesenangan Fungsi
dopamin yang cukup populer adalah kemampuannya mengatur dan membuat tubuh
merasakan kesenangan. Pada saat situasi yang menyenangkan terjadi, dopamin akan
dilepaskan, hal ini jugalah yang menyebabkan seseorang mencari dan menginginkan
aktivitas menyenangkan serta ingin melakukannya berulang-ulang. Keinginan untuk
makan (terutama makanan dengan kadar gula tinggi) dan melakukan hubungan
seksual merupakan salah satu stimulan yang menyebabkan pelepasan dopamin di
otak. Itulah mengapa hal yang dianggap menyenangkan ini akan dilakukan
berulang.
5. Fungsi Dopamin dalam Mengatur Rasa Sakit
Dopamin memegang peranan penting dalam pemrosesan rasa sakit pada sistem saraf
pusat, termasuk sumsum tulang belakang. Berkebalikan dengan stimulus pada
pengalaman menyenangkan, ketika sakit kadar dopamin berkurang dan menyebabkan
kondisi kebalikan dari senang, seperti pada kondisi luka atau sedang putus
cinta.
6. Fungsi Dopamin sebagai Pengatur Mood Dopamin
merupakan zat kimia yang mendorong munculnya perasaan senang, karena itulah
mood yang baik untuk menjalani aktivitas sehari-hari tergantung pada keberadaan
neurotransmiter ini. Bahkan dopamin disebut juga sebagai “Molekul bahagia”,
dopamin menjadi penjelas ilmiah mengapa seseorang dapat mengalami kesenangan.
Di sisi lain, penelitian juga menemukan bahwa dopamin sangat mungkin berperan
dalam terjadinya depresi, selain juga disebabkan oleh neurotransmiter lain
seperti serotonin dan norepinephrine.
7. Fungsi Dopamin pada Kondisi Kecanduan Sebagian
besar jenis obat yang mengakibatkan kecanduan, bekerja dengan menargetkan
neurotransmiter dopamin di otak. Obat-obatan jenis reuptake dopamin inhibitor
(RDI) seperti kokain dan amfetaimin menghambat pengembalian (reuptake) dopamin
pada sinapsis. Sinapsis terdiri dari neuron yang melepaskan neurotransmiter
tertentu dan neuron lain yang menerima neurotransmiter tersebut dimana terdapat
celah diantara dua neuron ini yang disebut celah sinaptik. Umumnya setelah
neurotransmiter selesai menjalankan tugasnya akan dilanjutkan dengan proses
reuptake/pengembalian zat tersebut menuju neuron yang melepaskan, nah proses
ini lah yang dihambat oleh kokain. Dengan demikian, maka terjadilah peningkatan
konsentrasi dopamin ekstraselular (diluar sel saraf) dan juga meningkatkan
transmisi dopaminergik yang berakibat munculnya perasaan senang dan kecanduan
akan obat tersebut.
8. Fungsi Dopamin dalam Tingkah Laku dan Kognisi
Lobus frontalis otak merupakan jalur yang juga akan dilewati jika terjadi
pelepasan dopamin. Area lobus ini diketahui sebagai pusat penerimaan dan
pemrosesan informasi terutama untuk tingkah laku dan kognisi. Oleh karena itu,
jika terjadi masalah akibat kekurangan atau kelebihan dopamin pada area
tersebut, maka akan memengaruhi fungsi kognitif, seperti kemampuan memecahkan
masalah.
9. Fungsi Dopamin dalam Mengatur Tidur
Meningkatnya kadar dopamin di otak dikaitkan dengan meningkatnya perasaan
terjaga, hal ini dibuktikan dengan tingginya konsentrasi dopamin di siang hari
dibanding pada malam hari. Inilah sebabnya mengapa pasien penyakit parkinson
(kerusakan pada bagian yang memroduksi dopamin) cenderung merasakan kantuk yang
kronis, hal itu karena kurangnya dopamin di otak. Lain halnya dengan penderita
psikosis atau skizofrenia yang mengalami kelebihan dopamin di otak, mereka akan
lebih sering terjaga. Obat antipsikotik akan diberikan pada kondisi ini untuk
memberikan rasa tenang dan kantuk.
10. Fungsi Dopamin
dan Motivasi Banyak penelitian membuktikan bahwa dopamin tidak hanya memberikan
kesenangan, namun juga telah bertindak sebelum pencapaian kesenangan itu
terjadi. Dopamin akan dilepaskan untuk mencapai sesuatu yang dinilai baik dan
menghindari yang buruk. Kurangnya kadar dopamin di otak merupakan kelainan yang
menyebabkan seseorang tidak memiliki motivasi atau disebut anhedonia.
11. Fungsi Dopamin
dalam Kreativitas Penelitian juga menemukan adanya hubungan antara dopaminergik
dan kreativitas. Reseptor dopamin berkaitan dengan proses berfikir di luar
kebiasaan. Orang yang kreatif dan penderita skizofrenia memiliki kepadatan
reseptor dopamin pada thalamusnya. Hal ini yang menyebabkan penalaran, kognisi
dan lebih banyak informasi yang mengalir di otak mereka. Itulah sebabnya orang
kreatif cenderung dapat memecahkan masalah dan membuat hubungan-hubungan yang
terlihat aneh karena mereka memiliki koneksi yang tak biasa pada otaknya.
1 12. Fungsi Dopamin
dalam Kepribadian Salah satu ciri kepribadian yang paling mendefinisikan
seseorang adalah tingkatan ekstraversinya. Ekstraversi ini terbagi menjadi dua
komponen utama yaitu interaksi sosial dan impulsif. Ciri kepribadian ini sangat
dipengaruhi oleh dopamin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang
impulsif mengaktifkan dopamin lebih cepat dari umumnya. Namun, orang ini juga
beresiko mengembangkan prilaku impulsif yang berbahaya.
1 13. Fungsi Dopamin
sebagai Pengatur Sekresi Prolaktin Dopamin merupakan penghambat neuroendokrin
utama pada proses sekresi prolaktin di kelenjar hipofisis anterior. Dopamin
yang diproduksi pada nukleus arkuata di hipotalamus ini mengalir ke pembuluh
darah yang memasok kelenjar pituari. Sedangkan, kelenjar tersebut dapat
memproduksi prolaktin ketika tidak ada dompamin. Itulah mengapa dopamin disebut
juga prolactin-inhibitior factor (PIF), hormon penghambat prolaktin atau prolaktostatin.
Efek Kekurangan
Dopamin
Beberapa
penyakit dan masalah dapat disebabkan oleh kurangnya konsentrasi dopamin di
otak. Kekurangan dopamin membuat seseorang cenderung merasa bosan, tidak
termotivasi atau bahkan depresi. Kondisi ini juga bisa menyebabkan anhedonia
dimana seseorang sulit untuk merasakan dan menikmati kesenangan dan tidak
berusaha untuk mencarinya. Beberapa masalah kesehatan yang ditandai dengan
rendahnya kadar dopamin adalah depresi, fobia sosial, ADHD, penyakit parkinson.
Umumnya dokter akan membantu meningkatkan kadar dopamin dalam otak pasien ini
dengan memberikan obat yang dapat meningkatkan kadar dopamin namun dalam dosis
kecil untuk menghindari kecanduan.
Efek Kelebihan
Dopamin
Kelebihan
dopamin di otak dikaitkan dengan berbagai gangguan mental seperti skizofrenia
dan gangguan bipolar. Pengobatan kondisi ini biasanya dengan meresepkan obat
penghambat dopamin, dimana obat ini akan membuat dopamin membutuhkan waktu
lebih lama untuk berpindah dari satu neuron ke neuron lain sehingga mengurangi
efek kelebihan dopamin yang terjadi. Di sisi lain, kelebihan kadar dopamin yang
tidak berlebihan dipercaya dapat menguntungkan kondisi kesehatan mental maupun
fisik. Kondisi seperti ini tentu saja akan meningkatkan kinerja seseorang dalam
belajar ataupun bekerja. Adapun gejala akibat kelebihan dopamin diantaranya,
agitasi tinggi, mudah gelisah, ketajaman kognitif, mudah senang, hedonisme,
bersemangat, libido tinggi, hiperaktif, insomnia, maniak, kemampuan belajar
tinggi, mudah bersosialisasi, mencari penghargaan dan mudah stres.
Dopamin
dan Hubungannya Dengan Kecanduan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan
Zat Adiktif lain)
Kecanduan obat
adalah suatu penyakit otak kronis yang bersifat kambuhan di mana
penderita akan terdorong untuk mencari obat/alkohol dan menggunakannya,
meskipun mengetahui bahayanya. Kecanduan obat digolongkan sebagai penyakit otak
karena penyalahgunaan obat/alkohol dapat mempengaruhi struktur dan fungsi otak.
Jadi, walaupun benar bahwa keputusan pertama kali penggunaan NAPZA adalah
sukarela dengan berbagai alasan di atas, tapi lama-lama ketika NAPZA makin
sering digunakan, ia akan mempengaruhi otak sehingga pengguna akan kehilangan
kontrol diri dan kemampuan membuat keputusan dalam hal menggunakan NAPZA, dan
bahkan akan otak akan membuat dorongan yang kuat untuk menggunakan NAPZA.
Apa yang terjadi pada otak ketika menggunakan
NAPZA?
Golongan
NAPZA adalah senyawa kimia yang dapat masuk dan mempengaruhi system komunikasi
di otak dan dapat mengganggu aktivitas sel syaraf untuk mengirim, menerima dan
memproses informasi secara normal. Ada sedikitnya dua cara di mana obat-obat
dan alkohol melakukan hal ini. Yang pertama adalah mereka bertindak menyerupai
senyawa alami di otak yang disebut neurotransmitter, yaitu senyawa
penghantar pesan di otak. Yang kedua, obat/alkohol dapat mempengaruhi “
reward system” di otak dengan meningkatkan aktivasi dari sistem reward.
Sistem
reward adalah satu system di otak yang mengatur rasa senang, sehingga ketika
diaktifkan kita merasa senang, dan ingin mengulang dan mengulang lagi.
Peristiwa ini melibatkan mesolimbic reward pathway yaitu
jalur terdiri atas neuron dopaminergik yang berasal dari Vental
Tegmental Area (VTA) menuju ke nucleus accumbens (NA)
dan diteruskan ke otak bagian prefrontal cortex. Sistem
ini memerlukan keberadaan neurotransmitter dopamin untuk mengaktifkannya.
Reward Pathway yang Melibatkan Jalur Dopaminergik
Banyak
hal yang bisa mengaktifkan system reward di otak. Stimulus alami bagi system
reward adalah makanan, minuman, sex, kasih sayang, semua ini menyebabkan rasa
nyaman dan senang. Kita tidak pernah bosan dengan makan, minum, kasih sayang,
dan selalu ingin mengulangi dan mengulang lagi untuk mendapatkannya. Obat-obat
NAPZA dan alkohol juga dapat mengaktifkan system reward di otak dengan berbagai
mekanisme.
Ganja dan heroin misalnya, memiliki struktur
yang mirip dengan senyawa alami di otak yaitu endorphin, sehingga bisa
mengaktifkan reseptornya di otak dan “mengakali” otak sehingga mengirim pesan
yang abnormal ke system reward, sehingga membuat perasaan senang. Obat
lain seperti kokain dan Ecstassy, bekerja dengan cara
meningkatkan pelepasan neurotransmitter dopamine dan serotonin
dari ujung saraf, dan mencegah kembalinya neurotransmiter ini ke saraf. Hal ini
menyebabkan peningkatan kadar neurotransmitter yang berlebih di tempat aksinya
dan mengaktifkan system reward.
Hampir
semua obat golongan NAPZA yang sering disalahgunakan, termasuk alkohol (dan
bahkan rokok – nikotin), bekerja secara langsung maupun tidak langsung
mengaktifkan system reward dengan meningkatkan ketersediaan dopamin di
otak. Dopamin adalah satu jenis neurotransmitter di otak yang bekerja
mengontrol gerakan, emosi, motivasi, dan perasaan senang. Stimulasi yang
berlebihan pada system reward, yang normalnya adalah berespon terhadap stimulus
alami menghasilkan efek euphoria ketika menggunakan NAPZA. Reaksi ini
kemudian membentuk suatu pola di otak yang mendorong orang untuk melakukan dan
melakukan lagi perilaku ini (penggunaan NAPZA) untuk memperoleh kesenangan.
Sebagian Besar NAPZA Bekerja Meningkatkan Kadar
Dopamin Otak
Jika
orang tersebut terus menerus menggunakan NAPZA, maka otak akan beradaptasi
terhadap keberadaan dopamin yang tinggi dengan cara mengurangi produksi
dopamin atau mengurangi reseptor dopamin. Hal ini menyebabkan pengguna
NAPZA berusaha untuk terus menggunakan NAPZA untuk menjaga agar fungsi dopamin
kembali ke “normal”, atau berusaha menambah dosis NAPZA untuk mencapai kadar
dopamin yang tinggi untuk mencapai “tingkat kesenangan” yang diinginkan. Tidak
jarang pula mereka mencoba jenis NAPZA yang lain dan dicampur dengan alkohol
dan aneka tambahan lain untuk mendapatkan efek kesenangan yang diharapkan.
Penggunaan
yang terus menerus akan menyebabkan perubahan pada system dan sirkuit di otak.
Penelitian menunjukkan bahwa pada penderita kecanduan NAPZA terjadi perubahan
area di otak pada bagian yang mengatur kemampuan menilai, pengambilan keputusan,
belajar dan mengingat serta control perilaku. Bersamaan dengan itu, perubahan
fungsi otak ini juga mendorong pengguna untuk mencari dan menggunakan obat
terus menerus, yang kita kenal dengan istilah kecanduan obat atau adiksi
obat. Mereka tidak mempedulikan lagi bahayanya jika terjadi overdosis
maupun efek-efeknya terhadap organ tubuh lainnya, bahkan sampai kematian pun
mereka tidak pikirkan. Jika mereka tidak mendapatkan obat, tubuh mereka akan “sakaw”
karena pada saat tidak mendapat obat, otak mereka akan kekurangan dopamin
sehingga mengakibatkan berbagai gejala fisik maupun psikis. Hal ini yang
menyebabkan mereka terus terdorong untuk mendapatkan obat bagaimanapun caranya.
Manifestasi “sakaw” dari masing-masing obat berbeda tergantung dari jenis obatnya.
Sumber: Prof. Zullies Ekawati & dari berbagai sumber lainnya.