Sabtu, 07 April 2018

DOPAMIN DAN FUNGSINYA BAGI OTAK MANUSIA



Dopamin merupakan suatu neurotransmiter yang dibentuk oleh tubuh anda melalui asam amino tirosin, yang banyak ditemukan pada berbagai makanan kaya protein seperti daging dan keju. Dopamin merupakan molekul penting untuk membentuk epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin).
Otak dan sistem saraf membutuhkan neurotransmiter untuk menyampaikan pesan dalam bentuk impuls listrik ke seluruh bagian tubuh, untuk mengatur berbagai fungsi tubuh.
Dopamin diproduksi di beberapa daerah otak, termasuk substansia nigra dan daerah tegmental ventral.

Fungsi Dopamin
Fungsi dopamin sangat banyak, itulah mengapa neurotransmiter satu ini sangat terkenal dan banyak diteliti oleh para ilmuan. Zat kimia satu ini bahkan disebut central powernya otak, tanpa dopamin manusia akan menjadi seperti bukan manusia karena sebagian besar tindakan dan hubungan interpersonal manusia dipengaruhi oleh zat ini. 
Jika dirinci secara lebih detail ada beberapa fungsi dopamin utama yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia diantaranya:

  1. Fungsi Dopamin pada Pergerakan Struktur utama di otak yang mengendalikan semua jenis gerakan tubuh adalah basal ganglia atau inti basal. Supaya bagian ini bekerja dengan maksimal, ia akan sangat bergantung pada sekresi dopamin dari neuron di sekitarnya. Bila dopamin yang mencapai basal ganglia tidak mencukupi, maka fungsi gerakan akan menjadi lebih lambat dan tidak terkoordinasi dengan baik. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan penyakit parkinson. Lain halnya jika basal ganglia menerima terlalu banyak dopamin dari neuron di sekitranya, akan terjadi kelebihan gerakan tubuh yang tidak diperlukan. Gerakan di luar kendali secara tiba-tiba dan berulang ini yang dikenal sebagai gejala sindrom Gilles de la Tourett atau sindrom Tourette.

      2. Fungsi Dopamin dan Memori Fungsi perhatian dan memori dibentuk di otak pada bagian prefrontal cortex atau otak bagian depan, di bagian inilah fungsi dopamin memaksimalkan kerja memori. Tingkat paparan dopamin pada bagian otak depan ini sangat presisi, sehingga sedikit saja terjadi peningkatan dan penurunan dari jumlah normalnya akan menyebabkan masalah pada ingatan. Oleh karena dopamin sangat mempengaruhi sistem kerja memori, hal ini tentunya juga akan memengaruhi proses belajar dan penyimpanan informasi. Ketika seseorang mengalami peristiwa atau pengalaman tertentu, dan pada waktu yang bersamaan jumlah dopamin mencukupi, maka otak akan mengingatnya dengan lebih baik. Namun sebaliknya, jika dopamin tidak tercukupi, maka akan lebih sedikit memori yang tersimpan. Sebuah fakta juga mengungkap bawah dopamin ini terletak pada bagian otak yang mengontrol perhatian atau interest, jadi saat seseorang tidak tertarik pada suatu aktivitas atau pelajaran tertentu, maka kadar dopamin pada prefrontal cortex akan turun. Jika hal ini terjadi maka otak tidak akan termotivasi untuk mengingat fakta-fakta yang tersaji. Hal ini sangat perlu dipahami oleh para guru yang ingin meningkatkan motivasi belajar peserta didiknya. Menggunakan metode belajar yang lebih menarik dan menyenangkan serta memberikan penghargaan dan pujian untuk meningkatkan ketertarikan peserta didik sangat patut dicoba.

        3. Fungsi Dopamin dan Fokus Dopamin juga dapat meningkatkan fokus dan perhatian. Zat ini akan bekerja memengaruhi penglihatan atau saraf optik, yang akan mengarahkan perhatian dan fokus pada satu tugas atau aktivitas tertentu. Neurotransmiter ini juga diyakini bertanggung jawab pada memori jangka pendek yang terjadi di prefrontal cortex yang berhubungan dengan tingkat fokus. Ketika konsentrasi dopamin terlalu rendah, maka beberapa masalah fokus dan perhatian akan terjadi, salah satunya adalah gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas atau biasa disebut juga ADD (attention deficit disorder).

     4. Dopamin sebagai Pengatur Kesenangan Fungsi dopamin yang cukup populer adalah kemampuannya mengatur dan membuat tubuh merasakan kesenangan. Pada saat situasi yang menyenangkan terjadi, dopamin akan dilepaskan, hal ini jugalah yang menyebabkan seseorang mencari dan menginginkan aktivitas menyenangkan serta ingin melakukannya berulang-ulang. Keinginan untuk makan (terutama makanan dengan kadar gula tinggi) dan melakukan hubungan seksual merupakan salah satu stimulan yang menyebabkan pelepasan dopamin di otak. Itulah mengapa hal yang dianggap menyenangkan ini akan dilakukan berulang.

     5. Fungsi Dopamin dalam Mengatur Rasa Sakit Dopamin memegang peranan penting dalam pemrosesan rasa sakit pada sistem saraf pusat, termasuk sumsum tulang belakang. Berkebalikan dengan stimulus pada pengalaman menyenangkan, ketika sakit kadar dopamin berkurang dan menyebabkan kondisi kebalikan dari senang, seperti pada kondisi luka atau sedang putus cinta.

     6. Fungsi Dopamin sebagai Pengatur Mood Dopamin merupakan zat kimia yang mendorong munculnya perasaan senang, karena itulah mood yang baik untuk menjalani aktivitas sehari-hari tergantung pada keberadaan neurotransmiter ini. Bahkan dopamin disebut juga sebagai “Molekul bahagia”, dopamin menjadi penjelas ilmiah mengapa seseorang dapat mengalami kesenangan. Di sisi lain, penelitian juga menemukan bahwa dopamin sangat mungkin berperan dalam terjadinya depresi, selain juga disebabkan oleh neurotransmiter lain seperti serotonin dan norepinephrine.

      7. Fungsi Dopamin pada Kondisi Kecanduan Sebagian besar jenis obat yang mengakibatkan kecanduan, bekerja dengan menargetkan neurotransmiter dopamin di otak. Obat-obatan jenis reuptake dopamin inhibitor (RDI) seperti kokain dan amfetaimin menghambat pengembalian (reuptake) dopamin pada sinapsis. Sinapsis terdiri dari neuron yang melepaskan neurotransmiter tertentu dan neuron lain yang menerima neurotransmiter tersebut dimana terdapat celah diantara dua neuron ini yang disebut celah sinaptik. Umumnya setelah neurotransmiter selesai menjalankan tugasnya akan dilanjutkan dengan proses reuptake/pengembalian zat tersebut menuju neuron yang melepaskan, nah proses ini lah yang dihambat oleh kokain. Dengan demikian, maka terjadilah peningkatan konsentrasi dopamin ekstraselular (diluar sel saraf) dan juga meningkatkan transmisi dopaminergik yang berakibat munculnya perasaan senang dan kecanduan akan obat tersebut.

       8. Fungsi Dopamin dalam Tingkah Laku dan Kognisi Lobus frontalis otak merupakan jalur yang juga akan dilewati jika terjadi pelepasan dopamin. Area lobus ini diketahui sebagai pusat penerimaan dan pemrosesan informasi terutama untuk tingkah laku dan kognisi. Oleh karena itu, jika terjadi masalah akibat kekurangan atau kelebihan dopamin pada area tersebut, maka akan memengaruhi fungsi kognitif, seperti kemampuan memecahkan masalah.

       9. Fungsi Dopamin dalam Mengatur Tidur Meningkatnya kadar dopamin di otak dikaitkan dengan meningkatnya perasaan terjaga, hal ini dibuktikan dengan tingginya konsentrasi dopamin di siang hari dibanding pada malam hari. Inilah sebabnya mengapa pasien penyakit parkinson (kerusakan pada bagian yang memroduksi dopamin) cenderung merasakan kantuk yang kronis, hal itu karena kurangnya dopamin di otak. Lain halnya dengan penderita psikosis atau skizofrenia yang mengalami kelebihan dopamin di otak, mereka akan lebih sering terjaga. Obat antipsikotik akan diberikan pada kondisi ini untuk memberikan rasa tenang dan kantuk. 

      10. Fungsi Dopamin dan Motivasi Banyak penelitian membuktikan bahwa dopamin tidak hanya memberikan kesenangan, namun juga telah bertindak sebelum pencapaian kesenangan itu terjadi. Dopamin akan dilepaskan untuk mencapai sesuatu yang dinilai baik dan menghindari yang buruk. Kurangnya kadar dopamin di otak merupakan kelainan yang menyebabkan seseorang tidak memiliki motivasi atau disebut anhedonia. 

     11. Fungsi Dopamin dalam Kreativitas Penelitian juga menemukan adanya hubungan antara dopaminergik dan kreativitas. Reseptor dopamin berkaitan dengan proses berfikir di luar kebiasaan. Orang yang kreatif dan penderita skizofrenia memiliki kepadatan reseptor dopamin pada thalamusnya. Hal ini yang menyebabkan penalaran, kognisi dan lebih banyak informasi yang mengalir di otak mereka. Itulah sebabnya orang kreatif cenderung dapat memecahkan masalah dan membuat hubungan-hubungan yang terlihat aneh karena mereka memiliki koneksi yang tak biasa pada otaknya. 

1    12. Fungsi Dopamin dalam Kepribadian Salah satu ciri kepribadian yang paling mendefinisikan seseorang adalah tingkatan ekstraversinya. Ekstraversi ini terbagi menjadi dua komponen utama yaitu interaksi sosial dan impulsif. Ciri kepribadian ini sangat dipengaruhi oleh dopamin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang impulsif mengaktifkan dopamin lebih cepat dari umumnya. Namun, orang ini juga beresiko mengembangkan prilaku impulsif yang berbahaya.

1   13. Fungsi Dopamin sebagai Pengatur Sekresi Prolaktin Dopamin merupakan penghambat neuroendokrin utama pada proses sekresi prolaktin di kelenjar hipofisis anterior. Dopamin yang diproduksi pada nukleus arkuata di hipotalamus ini mengalir ke pembuluh darah yang memasok kelenjar pituari. Sedangkan, kelenjar tersebut dapat memproduksi prolaktin ketika tidak ada dompamin. Itulah mengapa dopamin disebut juga prolactin-inhibitior factor (PIF), hormon penghambat prolaktin atau prolaktostatin.

Efek Kekurangan Dopamin
Beberapa penyakit dan masalah dapat disebabkan oleh kurangnya konsentrasi dopamin di otak. Kekurangan dopamin membuat seseorang cenderung merasa bosan, tidak termotivasi atau bahkan depresi. Kondisi ini juga bisa menyebabkan anhedonia dimana seseorang sulit untuk merasakan dan menikmati kesenangan dan tidak berusaha untuk mencarinya. Beberapa masalah kesehatan yang ditandai dengan rendahnya kadar dopamin adalah depresi, fobia sosial, ADHD, penyakit parkinson. Umumnya dokter akan membantu meningkatkan kadar dopamin dalam otak pasien ini dengan memberikan obat yang dapat meningkatkan kadar dopamin namun dalam dosis kecil untuk menghindari kecanduan.

Efek Kelebihan Dopamin
Kelebihan dopamin di otak dikaitkan dengan berbagai gangguan mental seperti skizofrenia dan gangguan bipolar. Pengobatan kondisi ini biasanya dengan meresepkan obat penghambat dopamin, dimana obat ini akan membuat dopamin membutuhkan waktu lebih lama untuk berpindah dari satu neuron ke neuron lain sehingga mengurangi efek kelebihan dopamin yang terjadi. Di sisi lain, kelebihan kadar dopamin yang tidak berlebihan dipercaya dapat menguntungkan kondisi kesehatan mental maupun fisik. Kondisi seperti ini tentu saja akan meningkatkan kinerja seseorang dalam belajar ataupun bekerja. Adapun gejala akibat kelebihan dopamin diantaranya, agitasi tinggi, mudah gelisah, ketajaman kognitif, mudah senang, hedonisme, bersemangat, libido tinggi, hiperaktif, insomnia, maniak, kemampuan belajar tinggi, mudah bersosialisasi, mencari penghargaan dan mudah stres.



Dopamin dan Hubungannya Dengan Kecanduan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lain)
Kecanduan obat adalah suatu penyakit otak kronis yang bersifat kambuhan di mana penderita akan terdorong untuk mencari obat/alkohol dan menggunakannya, meskipun mengetahui bahayanya. Kecanduan obat digolongkan sebagai penyakit otak karena penyalahgunaan obat/alkohol dapat mempengaruhi struktur dan fungsi otak. Jadi, walaupun benar bahwa keputusan pertama kali penggunaan NAPZA adalah sukarela dengan berbagai alasan di atas, tapi lama-lama ketika NAPZA makin sering digunakan, ia akan mempengaruhi otak sehingga pengguna akan kehilangan kontrol diri dan kemampuan membuat keputusan dalam hal menggunakan NAPZA, dan bahkan akan  otak akan membuat dorongan yang kuat untuk menggunakan NAPZA.

Apa yang terjadi pada otak ketika menggunakan NAPZA?
Golongan NAPZA adalah senyawa kimia yang dapat masuk dan mempengaruhi system komunikasi di otak dan dapat mengganggu aktivitas sel syaraf untuk mengirim, menerima dan memproses informasi secara normal. Ada sedikitnya dua cara di mana obat-obat dan alkohol melakukan hal ini. Yang pertama adalah mereka bertindak menyerupai senyawa alami di otak yang disebut neurotransmitter, yaitu senyawa penghantar pesan di otak. Yang kedua, obat/alkohol dapat mempengaruhi “ reward system” di otak dengan meningkatkan aktivasi dari sistem reward.
Sistem reward adalah satu system di otak yang mengatur rasa senang, sehingga ketika diaktifkan kita merasa senang, dan ingin mengulang dan mengulang lagi. Peristiwa ini melibatkan mesolimbic reward pathway  yaitu jalur terdiri atas neuron dopaminergik yang berasal dari Vental Tegmental Area (VTA)   menuju ke nucleus accumbens  (NA) dan diteruskan ke otak bagian  prefrontal cortex. Sistem ini memerlukan keberadaan neurotransmitter dopamin untuk mengaktifkannya.

Reward Pathway yang Melibatkan Jalur Dopaminergik
Banyak hal yang bisa mengaktifkan system reward di otak. Stimulus alami bagi system reward adalah makanan, minuman, sex, kasih sayang, semua ini menyebabkan rasa nyaman dan senang. Kita tidak pernah bosan dengan makan, minum, kasih sayang, dan selalu ingin mengulangi dan mengulang lagi untuk mendapatkannya. Obat-obat NAPZA dan alkohol juga dapat mengaktifkan system reward di otak dengan berbagai mekanisme.
Ganja dan heroin misalnya, memiliki struktur yang mirip dengan senyawa alami di otak yaitu endorphin, sehingga bisa mengaktifkan reseptornya di otak dan “mengakali” otak sehingga mengirim pesan yang abnormal ke system reward, sehingga membuat perasaan senang.  Obat lain seperti kokain dan Ecstassy, bekerja dengan cara meningkatkan pelepasan neurotransmitter dopamine dan serotonin dari ujung saraf, dan mencegah kembalinya neurotransmiter ini ke saraf. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar neurotransmitter yang berlebih di tempat aksinya dan mengaktifkan system reward.
Hampir semua obat golongan NAPZA yang sering disalahgunakan, termasuk alkohol (dan bahkan rokok – nikotin), bekerja secara langsung maupun tidak langsung mengaktifkan system reward dengan meningkatkan ketersediaan dopamin di otak. Dopamin adalah satu jenis neurotransmitter di otak yang bekerja mengontrol gerakan, emosi, motivasi, dan perasaan senang. Stimulasi yang berlebihan pada system reward, yang normalnya adalah berespon terhadap stimulus alami  menghasilkan efek euphoria ketika menggunakan NAPZA. Reaksi ini kemudian membentuk suatu pola di otak yang mendorong orang untuk melakukan dan melakukan lagi perilaku ini (penggunaan NAPZA) untuk memperoleh kesenangan.

Sebagian Besar NAPZA Bekerja Meningkatkan Kadar Dopamin Otak
Jika orang tersebut terus menerus menggunakan NAPZA, maka otak akan beradaptasi terhadap keberadaan dopamin yang tinggi dengan cara mengurangi produksi dopamin atau mengurangi reseptor dopamin. Hal ini menyebabkan pengguna NAPZA berusaha untuk terus menggunakan NAPZA untuk menjaga agar fungsi dopamin kembali ke “normal”, atau berusaha menambah dosis NAPZA untuk mencapai kadar dopamin yang tinggi untuk mencapai “tingkat kesenangan” yang diinginkan. Tidak jarang pula mereka mencoba jenis NAPZA yang lain dan dicampur dengan alkohol dan aneka tambahan lain untuk mendapatkan efek kesenangan yang diharapkan.
Penggunaan yang terus menerus akan menyebabkan perubahan pada system dan sirkuit di otak. Penelitian menunjukkan bahwa pada penderita kecanduan NAPZA terjadi perubahan area di otak pada bagian yang mengatur kemampuan menilai, pengambilan keputusan, belajar dan mengingat serta control perilaku. Bersamaan dengan itu, perubahan fungsi otak ini juga mendorong pengguna untuk mencari dan menggunakan obat terus menerus, yang kita kenal dengan istilah kecanduan obat atau adiksi obat. Mereka tidak mempedulikan lagi bahayanya jika terjadi overdosis maupun efek-efeknya terhadap organ tubuh lainnya, bahkan sampai kematian pun mereka tidak pikirkan. Jika mereka tidak mendapatkan obat, tubuh mereka akan “sakaw” karena pada saat tidak mendapat obat, otak mereka akan kekurangan dopamin sehingga  mengakibatkan berbagai gejala fisik maupun psikis. Hal ini yang menyebabkan mereka terus terdorong untuk mendapatkan obat bagaimanapun caranya. Manifestasi “sakaw” dari masing-masing obat berbeda tergantung dari jenis obatnya.

Sumber: Prof. Zullies Ekawati & dari berbagai sumber lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar