Kamis, 19 April 2018

ASAL KAU RIDHO, AKU RELA MENEMUI ORANG YANG MEMUSUHIKU

Oleh: Arda Kartiwan, Apt.


Pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian (akhir Mei – awal Juni 619 M), Rasululloh pergi dari Mekah ke Tha’if yang berjarak sekitar 96,5 KM bersama mantan budaknya Zaid ibn Haritsah untuk mengajak penduduk Tha’if memeluk Islam. Namun selama 10 hari berdakwah di sana, tidak ada satu orangpun yang menyambut seruannya -memeluk Islam. Bahkan saat hendak keluar dari Tha’if, Beliau dibuntuti oleh orang-orang jahat dan budak-budak suruhan mereka dengan berteriak-teriak mencaci-maki Beliau. Tidak hanya itu, Beliau pun sampai dilempari batu oleh mereka hingga tumit Beliau terluka dan berdarah. Sementara Zaid yang berusaha membentengi Beliau, terluka kepalanya hingga berdarah-darah akibat terkena lemparan batu-batu.

Beliau bersama Zaid terus berlari menjauhi kejaran orang-orang Tha’if sejauh kurang lebih 5 KM hingga berhasil masuk ke sebuah kebun kurma milik Uthbah dan Syaibah, bersembunyi di sana sampai situasi benar-benar aman.

Beliau dan Zaid lalu berteduh di bawah serumpun anggur sambil bersandar ke sebuah dinding. Setelah tenang, Beliau memanjatkan do’a kepada Alloh; menumpahkan segala duka lara yang baru saja dialami akibat tak seorangpun yang mau menyambut seruannya dan juga akibat siksaan-siksaan yang dilakukan oleh orang-orang Tha’if. 


“Ya Alloh, hanya kepada-Mu ku adukan kelemahanku, ketidakberdayaanku dan kehinaanku dimata manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih diantara para pengasih, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah akan Kau serahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam kepadaku ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab amat luas afiat-Mu bagiku. Aku berlindung dengan cahaya Dzat-Mu yang menyinari kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat dari amarah yang akan Kau turunkan atau murka yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sampai Engkau ridho. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu”. 


Engkau benar-benar tauladan terbaik bagi manusia wahai Rasululloh. Telah engkau tunaikan perintah Rabb-mu dengan sebaik-baiknya untuk berdakwah kepada mereka. Tetapi mereka mengingkarimu, mencaci-maki dirimu dan melukai fisik dan hatimu, tetapi engkau tetap berdo’a kepada-Nya: 


“Kepada siapakah akan Kau serahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam kepadaku ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku”.


Ya, mardhatillah atau RIDHO ALLOH adalah puncak dari cita-cita tertinggi seorang muslim dalam hidupnya. Jika sudah menjalankan segala ketaatan, baik itu perintah-perintah-Nya maupun larangan-larangan-Nya, maka tidak akan peduli apapun halangan, rintangan dan cacian yang akan menghadang, yang paling penting adalah Alloh ridho terhadap apapun yang kita lakukan. karena kalau Alloh sudah ridho, hidup pasti berkah, sukses dan sempurna.

 “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. (Al Baqarah (2): 207)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar