Oleh: Arda Kartiwan, Apt.
Pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian (akhir Mei – awal Juni
619 M), Rasululloh pergi dari Mekah ke Tha’if yang berjarak sekitar 96,5 KM bersama
mantan budaknya Zaid ibn Haritsah untuk mengajak penduduk Tha’if memeluk Islam.
Namun selama 10 hari berdakwah di sana, tidak ada satu orangpun yang menyambut
seruannya -memeluk Islam. Bahkan saat hendak keluar dari Tha’if, Beliau
dibuntuti oleh orang-orang jahat dan budak-budak suruhan mereka dengan
berteriak-teriak mencaci-maki Beliau. Tidak hanya itu, Beliau pun sampai dilempari
batu oleh mereka hingga tumit Beliau terluka dan berdarah. Sementara Zaid yang
berusaha membentengi Beliau, terluka kepalanya hingga berdarah-darah akibat
terkena lemparan batu-batu.
Beliau bersama Zaid terus berlari menjauhi kejaran
orang-orang Tha’if sejauh kurang lebih 5 KM hingga berhasil masuk ke sebuah
kebun kurma milik Uthbah dan Syaibah, bersembunyi di sana sampai situasi
benar-benar aman.
Beliau dan Zaid lalu berteduh di bawah serumpun anggur sambil bersandar ke sebuah dinding. Setelah tenang, Beliau memanjatkan do’a
kepada Alloh; menumpahkan segala duka lara yang baru saja dialami akibat tak
seorangpun yang mau menyambut seruannya dan juga akibat siksaan-siksaan yang
dilakukan oleh orang-orang Tha’if.
“Ya Alloh, hanya kepada-Mu ku adukan kelemahanku,
ketidakberdayaanku dan kehinaanku dimata manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih
diantara para pengasih, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau
adalah Tuhanku. Kepada
siapakah akan Kau serahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam
kepadaku ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli
asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab amat luas afiat-Mu
bagiku. Aku berlindung dengan cahaya Dzat-Mu yang menyinari kegelapan dan
memperbaiki urusan dunia dan akhirat dari amarah yang akan Kau turunkan atau
murka yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sampai
Engkau ridho. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu”.
Engkau benar-benar tauladan terbaik bagi manusia wahai
Rasululloh. Telah engkau tunaikan perintah Rabb-mu dengan sebaik-baiknya untuk
berdakwah kepada mereka. Tetapi mereka mengingkarimu, mencaci-maki dirimu dan
melukai fisik dan hatimu, tetapi engkau tetap berdo’a kepada-Nya:
“Kepada
siapakah akan Kau serahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam
kepadaku ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli
asalkan Engkau tidak murka kepadaku”.
Ya, mardhatillah atau RIDHO ALLOH adalah puncak dari cita-cita tertinggi seorang muslim dalam hidupnya. Jika sudah menjalankan segala ketaatan, baik itu perintah-perintah-Nya maupun larangan-larangan-Nya, maka tidak akan peduli apapun halangan, rintangan dan cacian yang akan menghadang, yang paling penting adalah Alloh ridho terhadap apapun yang kita lakukan. karena kalau Alloh sudah ridho, hidup pasti berkah, sukses dan sempurna.
“Dan di antara
manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan
Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. (Al Baqarah (2): 207)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar