Selasa, 07 April 2009

Kita Hanya Sibuk Melihat Kekurangan Diri

Kita Hanya Sibuk Melihat Kekurangan Diri
Tak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah kepunyaan Alloh SWT, oleh karena itu kita semua dan makhluk lainnya tidak akan pernah mendapatkan kesempurnaan dirinya.
Diantara kita banyak yang hanya melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Begitu juga banyak diantara kita yang hanya memikirkan apa saja yang saat ini tidak kita miliki. Kita tidak pernah bersyukur dengan apa yang ada pada diri kita saat ini, bersyukur dengan apa yang telah kita miliki saat ini.
Jika kita renungkan, kekurangan kita dibidang yang lain, pasti dilebihkan kemampuan dalam bidang lainnya. Maka ketika seseorang merasa menjadi orang yang ahli dalam suatu bidang tertentu, maka ia semakin merasa tidak menguasai pada bidang lainnya. Jika seseorang merasa cukup dengan hartanya, mungkin ia akan merasa kurang dari segi lainnya misalnya dalam hal kesederhanaan diri.
Banyak karya-karya besar dari berbagai bidang kehidupan lahir ketika penemunya berada dalam kesusahan atau kekurangan, baik kekurangan harta, kekurangan fisik-mental, kekurangan tingkat pendidikan, kekurangan kebebasan atau dalam keadaan teraniaya. Contohnya adalah Tafsir Al Azhar karya besar Buya Hamka yang dibuat ketika Beliau berada dalam penjara, dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Keterbatasan dalam satu bidang membuka bidang lain pada sisi yang berbeda dengan hasil yang fenomenal.
Oleh karena itu, ambil sisi baik pada setiap kesusahan dan kesedihan yang Alloh SWT berikan kepada kita.
Alloh telah menurunkan Al Qur’an-Kitab terjaga kebenarannya- dengan penuh kebenaran dan keseimbangan, salah satunya diwujudkan dengan jumlah antara kata atau kalimat yang saling berlawanan di dalam Al Qur’an sama banyaknya.
Kata hayat (hidup) diulang sebanyak 145 kali sebanding dengan pengulangan kata maut, kata akhirat diulang sama banyaknya 115 kali dengan kata dunia. Begitu juga kata setan dan malaikat, sama-sama diulang sebanyak 88 kali.
Ketika Alloh SWT menciptakan pagi, maka Alloh ciptakan juga sorenya, terang dan gelapnya, baik dan buruknya, untung dan ruginya.
Sinar matahari itu menerangi semua sudutnya. Maka orang yang bersyukur itu, selalu melihat sisi baik terhadap apapun yang Alloh berikan kepadanya.
Siapa bilang populer itu menyenangkan, karena ternyata banyak orang yang depresi akibat kepopulerannya. Siapa bilang orang yang banyak harta itu menyenangkan, sebab ternyata banyak harta juga sering tidak dapat menolong atau meringankan penyakit yang sedang dideritanya dan juga tidak dapat menolong kesedihan yang sedang dirasakannya. Siapa bilang menjadi orang miskin itu menyenangkan, karena ternyata banyak orang yang putus asa karena kemiskinannya.
Semua orang pasti menginginkan banyak harta, jabatan tinggi atau populer tapi berkah dan hidup bahagia. Keseimbangan ini merupakan hasil dari kestabilan kualitas iman seseorang, padahal seringkali kita tidak mampu mempertahankan kestabilan tersebut, maka keinginan manusia tersebut kebanyakan tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa" (Al Isro(17): 83)
Bukan Alloh SWT yang telah menutup pintu-pintu kebahagiaan, bukan Alloh yang telah menyempitkan kehidupan kita, tetapi orang-orang yang selalu terobsesi terhadap urusan dunia yang telah menutup dirinya sendiri dari pintu-pintu tersebut. Terhadap orang-orang yang mudah mengeluh, selalu merasa kurang setiap pemberan-Nya dan sering berputus asa dalam semua sisi kehidupannya, maka orang-orang demikian telah menutup dirinya dari rahmat dan kasih sayang Alloh terhadap diri mereka. Orang-orang demikian termasuk kedalam golongan orang-orang yang berpaling dari jalan Alloh SWT.
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Toha(20): 124)
Berhentilah melihat kekurangan diri sendiri. Di seberang samudera ada pulau-pulau yang indah. Di balik bukit ada taman-taman yang menyejukkan jiwa dan setelah sakit, Insya Alloh ada kesembuhan, maka lawan putus asa dengan menata kembali diri kita dan berserah diri kepada-Nya.
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Az-Zumar(39): 53).

Minggu, 05 April 2009

Perintah Tunduk Kepada-Nya Merupakan Bentuk Kasih dan Sayang-Nya

Perintah Tunduk Kepada-Nya Merupakan Bentuk Kasih dan Sayang-Nya
Kita semua, tua-muda, besar-kecil dan kaya-miskin pasti menginginkan kehidupan di dunia ini tenteram lahir batin. Maka seringkali segala cara dikerahkan untuk mencapainya. Setiap orang berbeda-beda dalam usaha memenuhi keinginannya tersebut. Sebagian orang beranggapan bahwa dengan memenuhi segala kebutuhan dunianya ia dapat memuaskan dan menenteramkan hatinya.
§ Seorang anak kecil mungkin beranggapan ia akan terpuaskan hatinya setelah dibelikan mainan, boneka ataupun sepeda.
§ Seorang pelajar atau mahasiswa merasa akan terpuaskan hatinya jika ia memperoleh nilai baik dan atau lulus ujian.
§ Seorang pegawai atau pejabat beranggapan mungkin ia akan terpuaskan hatinya setelah ia dapat mencapai atau melampaui target pekerjaannya lalu dipromosikan jabatannya menjadi lebih tinggi.
§ Manusia pada umumnya beranggapan ia akan terpuaskan hatinya jika semua kebutuhan dunianya terpenuhi.

Betulkah setelah keinginannya tersebut tercapai mereka akan bahagia dan tenteram hatinya? Atau setelah tercapai semuanya hanya kepuasaan sesaat? Lalu biasa-biasa saja, atau justru dengan pencapaian barunya tersebut membuat seseorang merasa terganggu, tersiksa dan malah menjadi beban baru dan hidupnya bertambah berat.

Pada dasarnya, kepuasan dan ketenteraman hati manusia itu tidak pernah dapat terpuaskan oleh semua hal yang berbau keduniaan. Ada campur tangan setan yang membuat seseorang terus-menerus mengejarnya tanpa dapat terpuaskan hatinya.
Manusia yang telah tenggelam ke dalam kesenangan-kesenangan seperti itu adalah manusia yang telah menghamba kepada hartanya, kepada jabatannya dan kepada popularitasnya. Maka jiwa dan hatinya akan terombang-ambing oleh lautan nafsu-nafsunya. Fisiknya kelihatan kokoh rupawan dan sukses, tetapi jiwanya hampa, rapuh dan keropos. Kekayaan, jabatan dan popularitasnya tidak dapat menolong hatinya, jiwanya kering. Perhatikanlah! Orang-orang demikian walaupun berhasil akan pencapaian dunianya, tetapi ketika berkumpul dengan orang lain, yang keluar dari mulutnya hanya keluhan-keluhan karena ia merasa masih banyak kekurangan-kekurangan dunia lainnya yang belum ia dapatkan. Untuk apa segala yang ia dapatkan jika hanya kehampaan dan kekosongan hati yang ia peroleh?

Maka perintah hanya menyembah kepada Alloh-dan bukan menghamba kepada lainnya, merupakan bentuk kasih dan saying-Nya kepada kita semua.

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (Al Fatihah(1): 5)
“Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” (Al Fatihah(1): 3)

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tenteram”.
(Ar Ra’ad(13): 28)
Orang-orang yang patuh dan tunduk hanya kepada Alloh SWT adalah orang-orang yang paling beruntung hidup di dunia ini. Mereka mempunyai spirit dan energi hidup yang luar biasa besarnya dan efeknya akan mendapatkan kualitas hidup terbaik yang diangan-angankan oleh semua orang. Mulutnya mau ia buka jika yang dibicarakannya yang baik-baik saja, tangannya akan ringan jika untuk menolong orang lain, kakinya mau melangkah jika tujuannya bermanfaat dan bernilai kebaikan.
Seperti pedang bermata dua, orang-orang seperti ini sangat berguna dan mewarnai teman dan lingkungannya dalam keteladanan dan spirit hidup yang sangat baik. Sedangkan mata lainnya akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman hati bagi dirinya di dunia ini dan di keberuntungan akhirat kelak.

Maka raihlah kebahagiaan dan ketenteraman dengan kepatuhan secara keseluruhan hanya kepada Alloh SWT.
- jika setiap hari selalu ada waktu untuk membaca koran, maka jika dipaksakan pasti selalu ada waktu untuk mempelajari dan melaksanakan perintah Al Qur’an.
- jika setiap hari selalu ada waktu untuk melakukan hobi dan kesenangan, maka jika dipaksakan pasti selalu ada waktu untuk berdzikir mengingat Alloh.
- jika setiap hari selalu ada perbuatan dosa yang kita lakukan baik disengaja maupun tidak, maka jika mau, pasti selalu ada waktu untuk memperbaiki diri dan bertaubat.
Lakukanlah sekarang juga dan jangan ditunda-tunda lagi.

Jadikan Penderitaan itu Sebuah Kenikmatan

Jadikan Penderitaan itu Sebuah Kenikmatan
Apakah kita sekarang sedang merasakan sakit? Atau sedang dirundung kemalangan, penderitaan, kekecewaan? Atau apakah sekarang kita merasa bahwa Alloh SWT sedang benci kepada kita karena penderitaan dan kesusahan tersebut?

Cobalah tengok kanan kiri kita, tetangga kita, di sekitar kita. Ternyata masih banyak orang-orang yang lebih menderita daripada kita, Ada orang yang karena sakit yang dideritanya, tidak mampu bergerak secara leluasa atau bahkan harta kekayaannya telah habis untuk mengobati penyakitnya. Masih banyak orang karena kemiskinannya mereka tidur di sembarang tempat; di emperan toko atau rumah orang, di kolong-kolong jembatan, atau dipinggir jalan beralaskan kardus beratap langit. Begitu juga orang-orang yang sedang ditimpa musibah misalnya karena kebakaran dan bencana alam. Bahkan banyak orang yang kehilangan kebebasannya karena harus mendekam di balik jeruji besi, mereka kehilangan kesenangan dari hartanya dan juga terpisah dengan lingkungan dan orang-orang yang sangat dicintainya.

Ternyata penderitaan kita tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan orang lain. Rasa sakit kita tidak sebanding dengan perihnya orang lain.
Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan Nabi tercinta kita Muhammad SAW. Tiga belas tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah, penderitaan demi penderitaan seolah tanpa lepas dari kehidupan Rosululloh; dilempari kotoran, dianggap gila, dicaci maki, disiksa bahkan sering akan dibunuh oleh orang-orang yang membencinya bahkan oleh saudara-saudara terdekat dalam kaumnya
Tetapi dengan kesabaran Beliau dalam menerima semua penderitaan tersebut, Islam dapat berkibar sampai saat ini. Dan banyak pula karya monumental baik dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi maupun seni yang dihasilkan oleh orang-orang yang berada dalam penderitaan dan keterbatasan misalnya Ibnu Taimiyah, Iqbal, Hamka dan lin-lain.

Nikmati penderitaan dan kesedihan kita sebagai awal untuk lebih mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Bangun kembali pondasi keimanan kita yang tergerus cinta dunia yang berlebih, oleh kesombongan-kesombongan dan penyakit batin lainnya.
Sadarilah bahwa dunia yang selama ini kita kejar ternyata tidak dapat memberikan kepuasan hidup dan ketenteraman hati, malah membuat kita semakin haus dan lapar seolah tiada berakhir. Laksana meminum air laut, semakin diminum akan semakin haus bahkan dapat membunuh kita.
Tunduk kepada perintah Alloh dan berbuat baik kepada setiap orang merupakan jalan keselamatan, kebahagiaan dan ketenteraman hidup. Apakah dengan berbuat baik seseorang membuang kesempatan hidupnya untuk bersenang-senang atau tidak dapat menikmati dunia ini?
Jangan menilai kebahagiaan orang itu dari tinggi rendah-pangkat dan jabatannya, dari kepopulerannya, dari sedikit-banyak hartanya, dari kecantikan atau ketampanannya. Apakah telah menjadi suatu ketentuan, jika kita makan di restoran lebih banyak merasakan kenikmatan dibandingkan jika makan di kaki lima? Apakah suatu kenikmatan dan kepuasan dapat diukur? Sungguh Alloh Maha Adil dengan ukuran-ukuran-Nya.

Alloh telah memberi banyak pilihan kepada manusia mana jalan yang akan ditempuhnya. Setiap jalan yang dilalui akan menuju arah yang berbeda-beda dan kita sesungguhnya sudah mengetahui kemana akhir dari setiap jalan yang kita tempuh. Alloh sudah banyak memberi kita bekal untuk meniti dan menyaring dalam menjalani kehidupan ini; ada akal sehat, diturunkannya para Nabi dan Rosul beserta Kitab-kitab-Nya.

Jika kita ditugaskan untuk menemukan suatu alamat di suatu tempat dan kita telah dibekali dengan peta, alamat lengkap. uang untuk akomodasi dan kebutuhan lainnya. Maka ketika orang tersebut dengan sengaja salah menggunakan bekal yang dibawanya sehingga ia tidak sampai atau terlambat menemukan alamat tersebut, siapa yang patut disalahkan? Apakah si pemberi perintah atau orang yang melaksanakannya?
Masihkah kita bertanya, Alloh sedang membenci kita dengan kesusahan dan penderitaan kita saat ini? Masihkah kita berkelit bahwa kesusahan dan penderitaan kita saat ini bukan akibat dari perbuatan kita sendiri?

“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”
(Asy-Syura(42): 30)

Jika gedung yang runtuh masih dapat kita bangun kembali, keluarga yang bercerai-berai masih dapat berkumpul lagi, jalan yang terputus masih dapat kita sambung kembali, Insya Alloh dengan taubat yang sungguh-sungguh dosa-dosa kita akan diampuni-Nya.
Maka bersyukur dan bertaubatlah sehingga dapat menjadikan penderitaan itu sebagai sebuah kenikmatan.

Hidayah Pintu Masuk Menuju Takwa

Hidayah Pintu Masuk Menuju Takwa
Seringkali kita mengalami, ketika kita mengajak orang lain untuk beribadah atau berbuat kebaikan ia akan menjawab “Nanti saya mau melakukan kalau sudah dapat hidayah!”. Ini pernyataan yang harus kita luruskan bersama-sama karena sebagian orang beranggapan bahwa petunjuk atau hidayah Alloh SWT itu datang begitu saja tanpa melalui proses sebab akibat.

Mengharap datangnya hidayah seperti kita menginginkan buah yang lezat rasanya, petiklah ia selagi pas matangnya, jangan menunggu ia busuk, dipetik orang atau dimakan binatang. Suatu permohonan agar kita ditunjukkan kepada jalan yang lurus (Al Fatihah(1): 6) boleh jadi hanya sebuah harapan kosong, karena sesungguhnya hidayah itu datang jika kita sungguh-sungguh mengusahakannya.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Al Ankabut(29): 69).

Jihad adalah perjuangan, usaha sungguh-sungguh, bekerja keras untuk melawan kemaksiatan dan kemungkaran. Jihad bermakna menjaga dan meningkatkan iman kepada Alloh SWT, mengerjakan perilaku islami dalam kehidupan sehari-hari serta mengajak orang lain berlaku amar ma’ruf dan nahi mungkar yang dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh (Quraisy Shihab).
Makna jihad yang paling sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:
“Ketika di sekitar kita terdapat kemaksiatan, kesesatan dan perbuatan dosa lainnya, maka hati, jiwa dan raga kita tergerak untuk melakukan perbaikan, menyadarkan, mengingatkan bahkan membimbing agar semua itu kembali kepada jalan yang diridhoi Alloh SWT”

Maka wajar jika kita berjihad, Alloh akan memberi kita hidayah. Seseorang yang mengharapkan suatu prestasi terbaik dalam pekerjaannya, maka ia harus berusaha dengan sungguh-sungguh dengan pekerjaannya sehingga cepat atau lambat prestasi atau penghargaan itu akan diraihnya.

Jika kita dapat mempertahankan bahkan meningkatkan hidayah itu (istikomah), Alloh akan membalas orang tersebut dengan menambah hidayahnya dan memasukkannya menjadi golongan orang-orang yang bertakwa.

“Dan orang-orang yang mendapat hidayah, Alloh menambah hidayah kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” (Muhammad(47): 17)

Ada 4 (empat) syarat berjihad di jalan Alloh:
Uzlah, yaitu bersungguh-sungguh menjauhkan diri dari berbuat maksiat
Diam, yaitu tidak berkata yang tidak berguna
Lapar, tidak berlebihan dalam makan dan minum
Mengurangi tidur malam dengan melakukan ibadah dan sholat-sholat malam

Hari Ini adalah Hari Terbaikku

Hari Ini adalah Hari Terbaikku
Jika kita berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari tiba, karena hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya. Hari yang saat ini mataharinya menyinari dan menghampiri kita, inilah hari kita,
Tidak usah memikirkan hari yang telah lalu, karena apapun yang terjadi kita tidak dapat memutarnya kembali, sebab seringkali jika memikirkan hari-hari lalu, akan timbul penyesalan-penyesalan dan kesedihan-kesedihan. Maka biarkanlah hari lalu melewati kita semua.
Jika kita masih dapat makan nasi hangat pada hari ini, mengapa kita harus bersedih telah makan nasi basi kemarin? Jika kita dapat tertawa pada hari ini, mengapa kita menyesal telah bersedih dihari kemarin? Dan jika kita telah mendapat keberuntungan saat ini, mengapa pula kita sangat menyesali kerugian dihari lalu?
Untuk apakah kita memikirkan sesuatu yang kita tidak dapat merubahnya?

Kita juga jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi. Hari esok merupakan sesuatu yang belum nyata, belum datang sama sekali. Kita sering disibukkan dan dicemaskan dengan memikirkan hari esok. Seringkali membayangkan datangnya hari esok sangat menakutkan; kekurangan penghidupan yang layak, masa depan keluarga yang berat dan situasi serba buruk lainnya. Padahal hari esok itu masih ada dalam genggaman Alloh SWT dan belum diturunkan ke bumi, maka tidak sepantasnya kita mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.
Kita tidak mungkin dapat menyeberangi sebuah jembatan tanpa harus lewat diatasnya, maka siapa tahu kita tidak akan pernah sampai menuju jembatan tersebut atau mungkin jembatan itu sudah ambruk sebelum kita melewatinya.
Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk membuka-buka alam yang masih gaib lalu kita terhanyut dalam kecemasan-kecemasan oleh hal tersebut disebut thulul ‘amal atau angan-angan kosong.

Diantara kita banyak yang terbawa oleh ramalan-ramalan masa depan kita; akan kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit bahkan krisis ekonomi yang katanya akan menimpa kita semua. Tanpa kita sadari, kita telah terbawa oleh kurikulum yang selalu diajarkan oleh setan-setan untuk menakut-nakuti manusia.

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Alloh menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Al Baqoroh(2): 268)

Biarkanlah hari esok datang dengan sendirinya dan jangan pernah menanyakan kabar beritanya dan menanti serangan buruknya. Hari ini kita semua sudah sangat sibuk dengan urusan kita masing-masing.
Jika hari ini kita takut, maka lebih menakutkan lagi terhadap orang-orang yang selalu sibuk mencemaskan masa depan hidupnya dan selalu menyesali masa lalunya.

Karena kita masih hidup pada hari ini, maka optimalkan waktu yang kita punyai saat ini untuk kebaikan. Mungkin usia kita tinggal saat ini, hari ini. Anggaplah seakan-akan kita dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini.
Oleh karena hidup kita hanya sampai hari ini, seharusnyalah pada hari ini kita bertekad akan mempersembahkan perbuatan terbaik.
Maka hari inilah, hari yang mataharinya masih menyinari kita, menjadi tonggak untuk kita mulai menata diri dan menjadi hari terbaik bagi kita semua. Jadikanlah hari ini menjadi hari terbaik untuk ibadah-ibadahku; dengan mendirikan sholat paling khusyu sepanjang usiaku, dengan mengeluarkan zakat dan sodaqoh paling ikhlas dalam hidupku. Hari ini adalah hari terbaik bagi keluargaku; hari paling sayang kepada isteri(suami), anak-anakku, kedua orang tuaku, saudara-saudaraku, pembantu, tetangga dan hari paling baik kepada semua orang. Hari ini adalah hari paling sabar yang pernah aku jalani, hari paling bahagia, paling tenteram dan damai sepanjang kehidupanku. Hari ini hari paling tebal keimananku kepada Alloh SWT, dan hari paling takut akan azdab-adzab-Nya.
Akan aku gunakan waktu dalam setiap menit, setiap detiknya, laksana ribuan tahun sebagai waktu terbaik dalam hidup dan ibadah-ibadahku.

Apa yang mesti ditakutkan melewati hari lalu dan menyongsong hari esok, jika mulai hari ini, mulai saat ini dan seterusnya, kita telah meraih keimanan dan ketakwaan kepada Alloh SWT. Dalam firman-Nya, Alloh telah menjanjika kehidupan yang sangat baik kepada kita yang telah meraih derajat ketakwaan:

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar”. (At-Tholaq(65): 2).

Oleh karena itu jadikanlah hari ini menjadi hari terbaik untuk kita semua.

Jumat, 03 April 2009

Sifat-sifat Orang yang Bertakwa

Sifat-sifat Orang yang Bertakwa
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Ali 'Imron (3): 31)

Takwa merupakan jabatan tertinggi manusia dihadapan Alloh. Ia adalah tiket VVIP (very very importen person) yang dikeluarkan Alloh bagi manusia yang telah meraihnya. Ia pembuka pintu-pintu kebahagiaan hidup manusia, berlaku di dua wahana: dunia dan akhirat. Takwa merupakan tiket kebahagiaan hidup manusia yang tidak lekang oleh waktu dan tidak akan pernah kadaluarsa. Orang yang membawa tiket takwa selalu memberikan warna yang baik ketika ia berada di suatu tempat, keadaan dan situasi apapun.

Berbeda dengan takwa, banyak tiket kebahagian palsu yang beredar di masyarakat. Banyak orang membeli tiket palsu untuk meraih kebahagiaannya, padahal kebahagiaan yang mereka peroleh itu palsu, hanya sesaat.

Banyak orang yang sombong dengan kekayaannya, jabatannya, rupanya dan kepandaiannya, dan mereka beranggapan bahwa dengan itu semua mereka dapat meraih kebahagiaan. Tetapi seringkali itu semua justru menyengsarakan dirinya, merasa tersiksa dalam apa yang telah diraihnya, laksana pemain sirkus, ia diterkam oleh hewan peliharaannya.
Mereka salah memilih tiket kebahagiaan hidup, karena tiket hidup kebahagiaan yang sesungguhnya adalah takwa.

Alloh SWT yang telah menciptakan kita, sangat mengerti betul kebutuhan kita, manusia-ciptaannya. Oleh karea kasih dan sayang-Nya, maka diturunkannya bulan Romadhon, karena menyadari manusia selalu memerlukan bimbingan dan arahan-Nya.
Jika takwa itu dianalogikan sebagai sebuah benda yang tersembunyi di suatu tempat dan harus dicari dengan suatu tahapan atau sistem, maka Romadhon-lah sistem itu.
Orang yang dapat melewati sistem ini dengan baik, jujur dan sempurna dijamin dapat meraih tiket tersebut.


Ada empat ujian yang harus dilewati oleh setiap manusia yang ingin meraih ketakwaannya dan keempatnya dapat dilatih atau dihasilkan jika orang berpuasa Romadhon dengan baik dan sempurna (Ali ’Imron (3): 134)

1. Menafkahkan hartanya, baik diwaktu lapang maupun sempit
2. Dapat menahan amarahnya
3. Selalu memaafkan kesalahan orang lain

” (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ’Imron (3): 134)

4. Orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, lalu ingat kepada Alloh dan memohon ampunan-Nya

” Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”(Ali 'Imron (3): 135)

Berbuat Baik Adalah Suatu Kebutuhan

Berbuat Baik Adalah Suatu Kebutuhan
Pada akhir-akhir ini banyak berita-berita baik di media elektronika maupun media cetak beberapa peristiwa pembunuhan disertai mutilasi, suatu bentuk kekejaman manusia yang luar biasa. Begitu juga banyak kekejaman dan kejahatan lainnya, yang pada akhirnya banyak membawa kesengsaraan kepada pelakunya, keluarganya dan masyarakat lainnya.

Dari banyak peristiwa tersebut, ada benang merah yang dapat diambil sebagai pelajaran, bahwa berbuat baik itu harus menjadi suatu kebutuhan bagi kita semua. Kebaikan jangan hanya dipandang sebagai perintah Alloh SWT yang pahala atau balasannya untuk nanti di akhirat kelak, tetapi dengan berbuat baik, juga akan membawa keselamatan hidup kita di dunia ini. Penyimpangan seksual merupakan dosa besar dan banyak membawa pelakunya hidup gelisah dan banyak berbuat dosa besar lainnya seperti kisah mutilasi di atas serta banyak menderita penyakit kelamin . Menyelewengkan harta yang bukan haknya merupkan kejahatan, maka jika tidak melakukannya tenteramlah hidupnya. Perkelahian, perusakan milik orang lain dan kejahatan lain, seringkali dipicu setelah minum minuman keras atau narkoba, sesuatu yang jika dihindari ia akan selamat. Kemiskinan banyak diakibatkan karena perjudian dan pemborosan.

Kebaikan adalah tiket masuk menuju keselamatan, kebahagiaan dan kehormatan. Ia laksana membawa setangkai bunga melati, selalu membawa keharuman kepada orang lain di sekitarnya kemanapun ia pergi. Ia selalu menjadi kekaguman dan tauladan orang banyak.
Ulama besar Hasan Al Banna mengatakan, jika sebuah buku di perpustakaan hanya dibaca oleh beberapa orang saja, maka keteladanan seseorang akan dibaca oleh banyak orang, karena kemanapun ia pergi orang akan selalu tertarik mengikutinya, menteladaninya dan itu merupakan pahala baginya.

Nabi Muhammad SAW selalu berbuat baik kepada siapa saja, bahkan terhadap orang-orang yang telah menghina dan menyakitinya. Beliau tidak mau menyusahkan orang lain, oleh karena itu Beliua tidak pernah menolak permintaan orang lain sepanjang tidak bertentangan dengan syariat agama. Beliau adalah tauladan umat manusia sepanjang jaman. Akhlak beliau adalah Al Qur’an, seperti yang dikisahkan oleh Siti Aisyah r.a.

Maka manusia yang selalu berbuat baik merupakan efek dari kepatuhan menjalankan perintah-perintah Allah SWT seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Alloh SWT memerintahkan kepada semua umat manusia untuk beribadah kepadaNya, agar kita selamat di dunia dan akhirat, karena Alloh SWT sayang kepada kita semua.

Maka berbuat baik merupakan kebutuhan kita semua.