Jadikan Penderitaan itu Sebuah Kenikmatan
Apakah kita sekarang sedang merasakan sakit? Atau sedang dirundung kemalangan, penderitaan, kekecewaan? Atau apakah sekarang kita merasa bahwa Alloh SWT sedang benci kepada kita karena penderitaan dan kesusahan tersebut?
Cobalah tengok kanan kiri kita, tetangga kita, di sekitar kita. Ternyata masih banyak orang-orang yang lebih menderita daripada kita, Ada orang yang karena sakit yang dideritanya, tidak mampu bergerak secara leluasa atau bahkan harta kekayaannya telah habis untuk mengobati penyakitnya. Masih banyak orang karena kemiskinannya mereka tidur di sembarang tempat; di emperan toko atau rumah orang, di kolong-kolong jembatan, atau dipinggir jalan beralaskan kardus beratap langit. Begitu juga orang-orang yang sedang ditimpa musibah misalnya karena kebakaran dan bencana alam. Bahkan banyak orang yang kehilangan kebebasannya karena harus mendekam di balik jeruji besi, mereka kehilangan kesenangan dari hartanya dan juga terpisah dengan lingkungan dan orang-orang yang sangat dicintainya.
Ternyata penderitaan kita tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan orang lain. Rasa sakit kita tidak sebanding dengan perihnya orang lain.
Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan Nabi tercinta kita Muhammad SAW. Tiga belas tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah, penderitaan demi penderitaan seolah tanpa lepas dari kehidupan Rosululloh; dilempari kotoran, dianggap gila, dicaci maki, disiksa bahkan sering akan dibunuh oleh orang-orang yang membencinya bahkan oleh saudara-saudara terdekat dalam kaumnya
Tetapi dengan kesabaran Beliau dalam menerima semua penderitaan tersebut, Islam dapat berkibar sampai saat ini. Dan banyak pula karya monumental baik dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi maupun seni yang dihasilkan oleh orang-orang yang berada dalam penderitaan dan keterbatasan misalnya Ibnu Taimiyah, Iqbal, Hamka dan lin-lain.
Nikmati penderitaan dan kesedihan kita sebagai awal untuk lebih mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Bangun kembali pondasi keimanan kita yang tergerus cinta dunia yang berlebih, oleh kesombongan-kesombongan dan penyakit batin lainnya.
Sadarilah bahwa dunia yang selama ini kita kejar ternyata tidak dapat memberikan kepuasan hidup dan ketenteraman hati, malah membuat kita semakin haus dan lapar seolah tiada berakhir. Laksana meminum air laut, semakin diminum akan semakin haus bahkan dapat membunuh kita.
Tunduk kepada perintah Alloh dan berbuat baik kepada setiap orang merupakan jalan keselamatan, kebahagiaan dan ketenteraman hidup. Apakah dengan berbuat baik seseorang membuang kesempatan hidupnya untuk bersenang-senang atau tidak dapat menikmati dunia ini?
Jangan menilai kebahagiaan orang itu dari tinggi rendah-pangkat dan jabatannya, dari kepopulerannya, dari sedikit-banyak hartanya, dari kecantikan atau ketampanannya. Apakah telah menjadi suatu ketentuan, jika kita makan di restoran lebih banyak merasakan kenikmatan dibandingkan jika makan di kaki lima? Apakah suatu kenikmatan dan kepuasan dapat diukur? Sungguh Alloh Maha Adil dengan ukuran-ukuran-Nya.
Alloh telah memberi banyak pilihan kepada manusia mana jalan yang akan ditempuhnya. Setiap jalan yang dilalui akan menuju arah yang berbeda-beda dan kita sesungguhnya sudah mengetahui kemana akhir dari setiap jalan yang kita tempuh. Alloh sudah banyak memberi kita bekal untuk meniti dan menyaring dalam menjalani kehidupan ini; ada akal sehat, diturunkannya para Nabi dan Rosul beserta Kitab-kitab-Nya.
Jika kita ditugaskan untuk menemukan suatu alamat di suatu tempat dan kita telah dibekali dengan peta, alamat lengkap. uang untuk akomodasi dan kebutuhan lainnya. Maka ketika orang tersebut dengan sengaja salah menggunakan bekal yang dibawanya sehingga ia tidak sampai atau terlambat menemukan alamat tersebut, siapa yang patut disalahkan? Apakah si pemberi perintah atau orang yang melaksanakannya?
Masihkah kita bertanya, Alloh sedang membenci kita dengan kesusahan dan penderitaan kita saat ini? Masihkah kita berkelit bahwa kesusahan dan penderitaan kita saat ini bukan akibat dari perbuatan kita sendiri?
“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”
(Asy-Syura(42): 30)
Jika gedung yang runtuh masih dapat kita bangun kembali, keluarga yang bercerai-berai masih dapat berkumpul lagi, jalan yang terputus masih dapat kita sambung kembali, Insya Alloh dengan taubat yang sungguh-sungguh dosa-dosa kita akan diampuni-Nya.
Maka bersyukur dan bertaubatlah sehingga dapat menjadikan penderitaan itu sebagai sebuah kenikmatan.
Apakah kita sekarang sedang merasakan sakit? Atau sedang dirundung kemalangan, penderitaan, kekecewaan? Atau apakah sekarang kita merasa bahwa Alloh SWT sedang benci kepada kita karena penderitaan dan kesusahan tersebut?
Cobalah tengok kanan kiri kita, tetangga kita, di sekitar kita. Ternyata masih banyak orang-orang yang lebih menderita daripada kita, Ada orang yang karena sakit yang dideritanya, tidak mampu bergerak secara leluasa atau bahkan harta kekayaannya telah habis untuk mengobati penyakitnya. Masih banyak orang karena kemiskinannya mereka tidur di sembarang tempat; di emperan toko atau rumah orang, di kolong-kolong jembatan, atau dipinggir jalan beralaskan kardus beratap langit. Begitu juga orang-orang yang sedang ditimpa musibah misalnya karena kebakaran dan bencana alam. Bahkan banyak orang yang kehilangan kebebasannya karena harus mendekam di balik jeruji besi, mereka kehilangan kesenangan dari hartanya dan juga terpisah dengan lingkungan dan orang-orang yang sangat dicintainya.
Ternyata penderitaan kita tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan orang lain. Rasa sakit kita tidak sebanding dengan perihnya orang lain.
Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan Nabi tercinta kita Muhammad SAW. Tiga belas tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah, penderitaan demi penderitaan seolah tanpa lepas dari kehidupan Rosululloh; dilempari kotoran, dianggap gila, dicaci maki, disiksa bahkan sering akan dibunuh oleh orang-orang yang membencinya bahkan oleh saudara-saudara terdekat dalam kaumnya
Tetapi dengan kesabaran Beliau dalam menerima semua penderitaan tersebut, Islam dapat berkibar sampai saat ini. Dan banyak pula karya monumental baik dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi maupun seni yang dihasilkan oleh orang-orang yang berada dalam penderitaan dan keterbatasan misalnya Ibnu Taimiyah, Iqbal, Hamka dan lin-lain.
Nikmati penderitaan dan kesedihan kita sebagai awal untuk lebih mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Bangun kembali pondasi keimanan kita yang tergerus cinta dunia yang berlebih, oleh kesombongan-kesombongan dan penyakit batin lainnya.
Sadarilah bahwa dunia yang selama ini kita kejar ternyata tidak dapat memberikan kepuasan hidup dan ketenteraman hati, malah membuat kita semakin haus dan lapar seolah tiada berakhir. Laksana meminum air laut, semakin diminum akan semakin haus bahkan dapat membunuh kita.
Tunduk kepada perintah Alloh dan berbuat baik kepada setiap orang merupakan jalan keselamatan, kebahagiaan dan ketenteraman hidup. Apakah dengan berbuat baik seseorang membuang kesempatan hidupnya untuk bersenang-senang atau tidak dapat menikmati dunia ini?
Jangan menilai kebahagiaan orang itu dari tinggi rendah-pangkat dan jabatannya, dari kepopulerannya, dari sedikit-banyak hartanya, dari kecantikan atau ketampanannya. Apakah telah menjadi suatu ketentuan, jika kita makan di restoran lebih banyak merasakan kenikmatan dibandingkan jika makan di kaki lima? Apakah suatu kenikmatan dan kepuasan dapat diukur? Sungguh Alloh Maha Adil dengan ukuran-ukuran-Nya.
Alloh telah memberi banyak pilihan kepada manusia mana jalan yang akan ditempuhnya. Setiap jalan yang dilalui akan menuju arah yang berbeda-beda dan kita sesungguhnya sudah mengetahui kemana akhir dari setiap jalan yang kita tempuh. Alloh sudah banyak memberi kita bekal untuk meniti dan menyaring dalam menjalani kehidupan ini; ada akal sehat, diturunkannya para Nabi dan Rosul beserta Kitab-kitab-Nya.
Jika kita ditugaskan untuk menemukan suatu alamat di suatu tempat dan kita telah dibekali dengan peta, alamat lengkap. uang untuk akomodasi dan kebutuhan lainnya. Maka ketika orang tersebut dengan sengaja salah menggunakan bekal yang dibawanya sehingga ia tidak sampai atau terlambat menemukan alamat tersebut, siapa yang patut disalahkan? Apakah si pemberi perintah atau orang yang melaksanakannya?
Masihkah kita bertanya, Alloh sedang membenci kita dengan kesusahan dan penderitaan kita saat ini? Masihkah kita berkelit bahwa kesusahan dan penderitaan kita saat ini bukan akibat dari perbuatan kita sendiri?
“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”
(Asy-Syura(42): 30)
Jika gedung yang runtuh masih dapat kita bangun kembali, keluarga yang bercerai-berai masih dapat berkumpul lagi, jalan yang terputus masih dapat kita sambung kembali, Insya Alloh dengan taubat yang sungguh-sungguh dosa-dosa kita akan diampuni-Nya.
Maka bersyukur dan bertaubatlah sehingga dapat menjadikan penderitaan itu sebagai sebuah kenikmatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar