Selasa, 07 April 2009

Kita Hanya Sibuk Melihat Kekurangan Diri

Kita Hanya Sibuk Melihat Kekurangan Diri
Tak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah kepunyaan Alloh SWT, oleh karena itu kita semua dan makhluk lainnya tidak akan pernah mendapatkan kesempurnaan dirinya.
Diantara kita banyak yang hanya melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Begitu juga banyak diantara kita yang hanya memikirkan apa saja yang saat ini tidak kita miliki. Kita tidak pernah bersyukur dengan apa yang ada pada diri kita saat ini, bersyukur dengan apa yang telah kita miliki saat ini.
Jika kita renungkan, kekurangan kita dibidang yang lain, pasti dilebihkan kemampuan dalam bidang lainnya. Maka ketika seseorang merasa menjadi orang yang ahli dalam suatu bidang tertentu, maka ia semakin merasa tidak menguasai pada bidang lainnya. Jika seseorang merasa cukup dengan hartanya, mungkin ia akan merasa kurang dari segi lainnya misalnya dalam hal kesederhanaan diri.
Banyak karya-karya besar dari berbagai bidang kehidupan lahir ketika penemunya berada dalam kesusahan atau kekurangan, baik kekurangan harta, kekurangan fisik-mental, kekurangan tingkat pendidikan, kekurangan kebebasan atau dalam keadaan teraniaya. Contohnya adalah Tafsir Al Azhar karya besar Buya Hamka yang dibuat ketika Beliau berada dalam penjara, dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Keterbatasan dalam satu bidang membuka bidang lain pada sisi yang berbeda dengan hasil yang fenomenal.
Oleh karena itu, ambil sisi baik pada setiap kesusahan dan kesedihan yang Alloh SWT berikan kepada kita.
Alloh telah menurunkan Al Qur’an-Kitab terjaga kebenarannya- dengan penuh kebenaran dan keseimbangan, salah satunya diwujudkan dengan jumlah antara kata atau kalimat yang saling berlawanan di dalam Al Qur’an sama banyaknya.
Kata hayat (hidup) diulang sebanyak 145 kali sebanding dengan pengulangan kata maut, kata akhirat diulang sama banyaknya 115 kali dengan kata dunia. Begitu juga kata setan dan malaikat, sama-sama diulang sebanyak 88 kali.
Ketika Alloh SWT menciptakan pagi, maka Alloh ciptakan juga sorenya, terang dan gelapnya, baik dan buruknya, untung dan ruginya.
Sinar matahari itu menerangi semua sudutnya. Maka orang yang bersyukur itu, selalu melihat sisi baik terhadap apapun yang Alloh berikan kepadanya.
Siapa bilang populer itu menyenangkan, karena ternyata banyak orang yang depresi akibat kepopulerannya. Siapa bilang orang yang banyak harta itu menyenangkan, sebab ternyata banyak harta juga sering tidak dapat menolong atau meringankan penyakit yang sedang dideritanya dan juga tidak dapat menolong kesedihan yang sedang dirasakannya. Siapa bilang menjadi orang miskin itu menyenangkan, karena ternyata banyak orang yang putus asa karena kemiskinannya.
Semua orang pasti menginginkan banyak harta, jabatan tinggi atau populer tapi berkah dan hidup bahagia. Keseimbangan ini merupakan hasil dari kestabilan kualitas iman seseorang, padahal seringkali kita tidak mampu mempertahankan kestabilan tersebut, maka keinginan manusia tersebut kebanyakan tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa" (Al Isro(17): 83)
Bukan Alloh SWT yang telah menutup pintu-pintu kebahagiaan, bukan Alloh yang telah menyempitkan kehidupan kita, tetapi orang-orang yang selalu terobsesi terhadap urusan dunia yang telah menutup dirinya sendiri dari pintu-pintu tersebut. Terhadap orang-orang yang mudah mengeluh, selalu merasa kurang setiap pemberan-Nya dan sering berputus asa dalam semua sisi kehidupannya, maka orang-orang demikian telah menutup dirinya dari rahmat dan kasih sayang Alloh terhadap diri mereka. Orang-orang demikian termasuk kedalam golongan orang-orang yang berpaling dari jalan Alloh SWT.
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Toha(20): 124)
Berhentilah melihat kekurangan diri sendiri. Di seberang samudera ada pulau-pulau yang indah. Di balik bukit ada taman-taman yang menyejukkan jiwa dan setelah sakit, Insya Alloh ada kesembuhan, maka lawan putus asa dengan menata kembali diri kita dan berserah diri kepada-Nya.
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Az-Zumar(39): 53).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar